LESINDO.COM – Di ujung Kota Solo, nama seorang putri melekat pada tempat yang barangkali paling jauh dari gambaran tentang seorang putri: gunungan sampah. TPA Putri Cempo di Mojosongo menyimpan cerita tentang makam, konflik, dan sejenis padi yang namanya nyaris hilang dari ingatan. Mana yang sejarah, mana yang legenda?
Bau menyengat sampah adalah kesan pertama ketika menyebut Putri Cempo.
Di kawasan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta, ribuan ton sampah dari berbagai penjuru kota bertemu setiap hari. Plastik, sisa makanan, kardus, pakaian bekas, hingga benda-benda yang tak lagi memiliki tempat di rumah berakhir di kawasan itu.
Namun sebelum dikenal sebagai tempat pembuangan akhir, kawasan tersebut telah lebih dahulu mempunyai nama.
Putri Cempo.
Nama itu terdengar ganjil jika diletakkan berdampingan dengan gunungan sampah. Ada kesan romantis, bahkan aristokratis. Seolah nama tersebut menyimpan kisah tentang seseorang dari masa lalu yang pernah hidup, dicintai, berkuasa, atau justru menjadi korban sebuah pergulatan zaman.
Di tengah aktivitas pengelolaan sampah, cerita tentang sosok Putri Cempo tetap beredar dari mulut ke mulut.
Tidak ada satu versi tunggal.
Justru di situlah menariknya.
Putri yang Berakhir di Tanah Mojosongo
Salah satu cerita yang berkembang di tengah masyarakat menyebut Putri Cempo sebagai seorang perempuan yang berkaitan dengan konflik politik pada masa lampau.
Dalam cerita tutur tersebut, sang putri mengalami persoalan akibat konflik. Peristiwa itu kemudian berujung pada kematiannya. Ia dimakamkan di kawasan yang sekarang dikenal sebagai TPA Putri Cempo.
Makam itulah yang dipercaya menjadi salah satu asal-usul nama kawasan tersebut.
Cerita semacam ini hidup bukan melalui arsip resmi, melainkan melalui ingatan masyarakat.
Dari satu generasi kepada generasi berikutnya, kisahnya dituturkan kembali. Nama tokoh bisa berubah. Detail peristiwa dapat bertambah atau berkurang. Bahkan latar konflik yang menyertainya pun dapat mengalami pergeseran.
Karena itu, kisah Putri Cempo perlu ditempatkan sebagai folklor atau tradisi lisan, bukan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Belum ditemukan bukti sejarah otentik yang cukup untuk memastikan siapa sebenarnya sosok Putri Cempo, kapan ia hidup, konflik apa yang menimpanya, dan bagaimana persisnya ia meninggal.
Tetapi ketiadaan bukti tertulis tidak serta-merta membuat cerita itu kehilangan makna.
Sebab masyarakat sering menyimpan sejarah bukan hanya melalui dokumen, melainkan melalui ingatan.
Ketika “Cempo” Bukan Nama Putri
Ada cerita lain yang tak kalah menarik.
Kata cempo disebut-sebut bukan berasal dari nama seorang putri, melainkan dari nama jenis padi tradisional: pari cempo.
Versi ini membawa kita pada masa ketika kawasan Mojosongo belum menjadi tempat pembuangan sampah seperti sekarang.
Bayangkan kawasan itu ketika masih berupa lahan pertanian.
Hamparan sawah terbentang. Petani menanam padi. Di antara varietas yang dikenal masyarakat terdapat padi yang disebut pari cempo. Konon, para sesepuh atau pembuka lahan kemudian menggunakan nama tanaman tersebut untuk menyebut kawasan yang mereka tempati.
Dari sana, nama Cempo melekat.
Kemudian, ketika kata “Putri” hadir di depannya, lahirlah nama yang kita kenal sekarang: Putri Cempo.
Jika versi pertama membawa kita kepada kisah seorang perempuan dan makamnya, versi kedua justru membawa kita kepada lanskap agraris masa lalu.
Satu nama.
Dua kemungkinan asal-usul.
Dan sebuah sejarah yang belum sepenuhnya selesai ditulis.
Dari Sawah Menjadi Tempat Pembuangan
Perubahan wajah kawasan Putri Cempo merupakan bagian dari perubahan besar Kota Solo.
Lahan yang dahulu memiliki hubungan dengan kehidupan agraris kemudian berubah fungsi menjadi tempat pembuangan akhir sampah.
TPA Putri Cempo mulai beroperasi pada 1986. Sejak itu, namanya perlahan lebih dikenal sebagai pusat pembuangan sampah Kota Surakarta ketimbang sebagai sebuah kawasan yang menyimpan cerita masa lampau.
Gunungan sampah tumbuh dari tahun ke tahun.
Apa yang dibuang warga pada pagi hari bisa menjadi bagian dari bukit sampah beberapa waktu kemudian.
Ironisnya, sebuah nama yang mungkin berasal dari cerita seorang putri atau tanaman padi kini justru identik dengan sesuatu yang dibuang manusia.
Putri dan sampah.
Makam dan gunungan limbah.
Masa lalu dan teknologi pengolahan sampah.
Semuanya bertemu di tempat yang sama.
Nama yang Bertahan, Cerita yang Dipertanyakan
Sejarah nama sebuah tempat memang sering kali tidak sesederhana yang terlihat.
Sebuah toponimi dapat lahir dari nama tokoh, tumbuhan, peristiwa, kondisi geografis, bahkan cerita yang diwariskan masyarakat selama puluhan atau ratusan tahun.
Karena itu, mencari asal-usul Putri Cempo tidak cukup hanya dengan bertanya, “Siapa Putri Cempo?”
Pertanyaan yang lebih penting mungkin: mengapa masyarakat memilih mempertahankan cerita itu?
Folklor bekerja dengan caranya sendiri.
Ia tidak selalu membutuhkan akta kelahiran seorang tokoh atau dokumen kerajaan untuk bertahan. Ia cukup dituturkan. Dari orang tua kepada anak. Dari sesepuh kepada generasi berikutnya.
Cerita tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas suatu tempat.
Bahkan ketika bukti sejarahnya belum ditemukan, namanya tetap hidup.
Di Bawah Nama yang Sama
Hari ini, orang datang ke Putri Cempo bukan untuk mencari seorang putri.
Truk-truk pengangkut sampah datang membawa sisa kehidupan kota. Sampah diturunkan. Mesin bekerja. Para pekerja mengelola sesuatu yang sebagian besar orang memilih untuk tidak lagi melihat setelah keluar dari rumah.
Namun nama itu tetap ada.
Putri Cempo.
Sebuah nama yang mungkin berawal dari seorang perempuan yang dikuburkan setelah konflik.
Atau mungkin dari bulir padi yang dahulu tumbuh di sawah.
Atau barangkali, seperti banyak cerita rakyat lainnya, kebenaran berada di antara keduanya—sebagian sejarah, sebagian ingatan, sebagian legenda.
Yang pasti, ketika Kota Solo terus tumbuh dan wajah kawasan itu berubah, nama Putri Cempo bertahan melewati zaman.
Di tempat itu, sampah masa kini bertemu cerita masa lalu.
Gunungan sampah boleh meninggi.
Teknologi pengolahan limbah boleh berubah.
Tetapi sebuah nama terus mengingatkan bahwa sebelum tempat itu menjadi akhir perjalanan sampah kota, kawasan tersebut mungkin pernah mempunyai cerita yang jauh berbeda.
Dan mungkin, di balik nama Putri Cempo, masih ada sejarah yang belum selesai ditemukan.

