spot_img
BerandaJelajahHidup yang Rumit karena Pikiran

Hidup yang Rumit karena Pikiran

Hidup sudah memiliki jalannya sendiri. Ada yang datang tanpa direncanakan. Ada yang pergi tanpa dapat ditahan. Ada harapan yang terwujud, tetapi ada pula keinginan yang harus rela dilepaskan.

LESINDO.COM – Ada hari-hari ketika hidup terasa begitu berat, padahal jika ditelusuri lebih jauh, tidak semua yang memberatkan itu benar-benar terjadi. Sebagian hanya hidup di dalam kepala.

Kita memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Mencurigai sesuatu yang belum tentu benar. Mengkhawatirkan hari esok sebelum hari ini selesai dijalani. Kita juga kerap membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain, lalu tanpa sadar menumbuhkan iri hati terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu kita butuhkan.

Hidup, pada akhirnya, sering kali tidak serumit kenyataannya. Ia menjadi rumit karena cara kita memikirkan segala sesuatu.

Sebuah masalah yang sama dapat mendatangi dua orang yang berbeda. Yang satu menjalaninya dengan tenang, sementara yang lain merasa seolah seluruh dunia sedang runtuh. Bukan selalu karena masalahnya berbeda, melainkan karena ruang batin yang menerima masalah itu tidak sama.

Pemikir dan cendekiawan Fahruddin Faiz kerap mengingatkan bahwa keadaan batin manusia sangat menentukan cara seseorang memandang kehidupan. Dunia yang dilihat manusia, dalam banyak hal, bukan hanya dunia sebagaimana adanya, tetapi juga dunia sebagaimana yang dipantulkan oleh pikirannya.

Orang yang pikirannya jernih mungkin melihat persoalan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Namun, orang yang pikirannya dipenuhi ketakutan dapat melihat persoalan kecil sebagai ancaman besar. Sebaliknya, seseorang yang telah terbiasa memelihara prasangka mungkin akan menemukan kecurigaan bahkan di tempat yang sebenarnya tidak menyimpan bahaya.

Di situlah hidup mulai menjadi rumit.

Keributan di Dalam Kepala

Tidak sedikit penderitaan manusia yang sesungguhnya tidak berasal dari keadaan di luar dirinya. Ia lahir dari keributan yang terus berlangsung di dalam kepala.

Pikiran berlari terlalu jauh ke masa depan. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu datang. Menyusun skenario kegagalan sebelum langkah pertama dilakukan. Mengulang kembali kesalahan masa lalu, seolah waktu dapat diputar dan kenyataan dapat diperbaiki hanya dengan penyesalan.

Akhirnya, manusia kelelahan bukan karena perjalanan yang ditempuh, tetapi karena terlalu banyak perjalanan yang ia lakukan di dalam pikirannya sendiri.

Overthinking, misalnya, sering membuat seseorang hidup di antara dua waktu yang sebenarnya tidak dapat ia kuasai: masa lalu dan masa depan. Masa lalu terus dipertanyakan, sementara masa depan terus dikhawatirkan. Hari ini, yang seharusnya menjadi ruang untuk hidup, justru habis untuk memikirkan sesuatu yang belum tentu memiliki jawaban.

Kita menjadi seperti orang yang membawa koper terlalu banyak dalam perjalanan. Padahal, sebagian isi koper itu bukan kebutuhan. Ada ketakutan yang sudah tidak relevan. Ada prasangka yang tidak pernah terbukti. Ada kemarahan yang seharusnya sudah dilepaskan. Ada keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu, padahal hidup tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Semakin banyak yang dibawa oleh pikiran, semakin berat langkah kehidupan.

Dunia yang Berubah Sesuai Isi Batin

Barangkali dunia tidak selalu berubah. Namun, cara kita melihat dunia dapat berubah setiap hari.

Ketika hati sedang dipenuhi rasa syukur, hal-hal kecil dapat terasa cukup. Secangkir kopi di pagi hari, sapaan sederhana, atau perjalanan pulang yang tenang bisa menjadi kebahagiaan.

Namun ketika pikiran sedang dikuasai iri hati, bahkan keberhasilan sendiri terasa kurang. Apa pun yang dimiliki tidak pernah cukup karena mata terus melihat apa yang dimiliki orang lain.

Ketika pikiran dipenuhi prasangka, kebaikan orang lain dapat dicurigai. Ketika pikiran dipenuhi ketakutan, kesempatan dapat terlihat seperti ancaman. Ketika pikiran dipenuhi kemarahan, kata-kata sederhana pun dapat terdengar seperti serangan.

Dunia yang sama dapat berubah wajah hanya karena isi batin manusia berubah.

Karena itu, barangkali salah satu pekerjaan terbesar dalam hidup bukanlah mengubah seluruh keadaan di luar diri, melainkan belajar menata apa yang terjadi di dalam diri sendiri.

Tidak semua persoalan harus dipikirkan sampai selesai dalam satu malam. Tidak semua pertanyaan harus segera menemukan jawaban. Tidak semua orang harus memahami kita. Dan tidak semua hal yang terjadi harus mampu kita kendalikan.

Ada saatnya manusia hanya perlu menerima bahwa hidup memang memiliki bagian-bagian yang tidak dapat dipastikan.

Belajar Menyederhanakan Hidup

Menyederhanakan hidup bukan berarti berhenti berpikir. Bukan pula berarti menjadi manusia yang tidak peduli terhadap persoalan.

Justru sebaliknya, kesederhanaan pikiran adalah kemampuan untuk mengetahui mana yang perlu dipikirkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

Mana persoalan yang dapat diselesaikan hari ini, dan mana yang harus menunggu waktu.

Mana pendapat orang lain yang perlu didengarkan, dan mana yang tidak perlu terlalu lama disimpan.

Mana ketakutan yang memang harus diwaspadai, dan mana ketakutan yang hanya diciptakan oleh pikiran sendiri.

Kebijaksanaan mungkin tidak selalu datang ketika kita menemukan banyak jawaban. Kadang-kadang, ia datang ketika kita berhenti mempersulit pertanyaan.

Hidup sudah memiliki jalannya sendiri. Ada yang datang tanpa direncanakan. Ada yang pergi tanpa dapat ditahan. Ada harapan yang terwujud, tetapi ada pula keinginan yang harus rela dilepaskan.

Manusia tidak harus memenangkan semuanya.

Ada kalanya kemenangan terbesar adalah mampu berdamai dengan sesuatu yang tidak dapat diubah.

Menjaga Kebersihan Pikiran

Kita terbiasa menjaga kebersihan rumah, tubuh, dan lingkungan. Namun, sering kali lupa bahwa pikiran juga membutuhkan ruang untuk dibersihkan.

Pikiran yang terus dipenuhi prasangka akan menjadi keruh. Pikiran yang terlalu lama menyimpan iri akan menjadi sempit. Pikiran yang dipenuhi ketakutan akan kehilangan keberanian untuk melangkah.

Barangkali kita perlu sesekali berhenti.

Menjauh sejenak dari kebisingan. Tidak selalu mengikuti semua kabar. Tidak membaca terlalu banyak kemungkinan buruk. Tidak memberi tempat kepada setiap pendapat untuk tinggal di dalam kepala.

Sebab tidak semua yang masuk ke dalam pikiran harus diberi tempat tinggal.

Sebagian cukup datang, lalu dibiarkan pergi.

Hidup akan selalu memiliki persoalan. Tidak ada manusia yang dapat berjalan tanpa pernah bertemu kesulitan. Namun, kita masih memiliki pilihan tentang bagaimana menghadapi semua itu.

Kita dapat menambah beban dengan pikiran yang tidak pernah berhenti menciptakan kemungkinan buruk. Atau, kita dapat belajar melihat persoalan sebagaimana adanya—tidak mengecilkannya, tetapi juga tidak membesarkannya.

Sebab terkadang hidup tidak meminta kita untuk menemukan jawaban atas segala sesuatu.

Hidup hanya meminta kita untuk menjalani apa yang ada di hadapan.

Dengan pikiran yang lebih jernih.

Dengan hati yang lebih lapang.

Dan dengan keberanian untuk menyederhanakan hal-hal yang selama ini terlalu lama kita rumitkan sendiri.

Pada akhirnya, mungkin ketenangan bukan datang karena semua persoalan telah selesai. Ketenangan datang ketika kita berhenti membiarkan pikiran menciptakan persoalan baru dari masalah yang sebenarnya sudah cukup berat.

Karena hidup, sering kali, tidak serumit kenyataannya.

Kitalah yang terkadang membuatnya menjadi terlalu rumit di dalam kepala. (Dre)

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments