Oleh : Faicha A
Pagi belum benar-benar ramai.
LESINDO.COM – Di sebuah sudut rumah, secangkir kopi mengepul perlahan. Telepon genggam tergeletak diam di atas meja. Tidak ada janji pertemuan. Tidak ada undangan yang harus segera dipenuhi. Tidak ada pula keharusan untuk bergegas mandi, mengenakan pakaian, lalu meninggalkan rumah.
Di depan layar laptop, seorang lelaki berusia kepala lima mulai mengetik.
Satu kalimat.
Lalu kalimat berikutnya.
Sesekali ia berhenti. Menatap halaman kosong yang perlahan mulai dipenuhi huruf. Tangannya berada di atas meja yang sama. Tubuhnya tidak ke mana-mana. Tetapi pikirannya, entah sejak kapan, sudah berjalan jauh.
Ia kembali ke jalan-jalan masa kecil.
Ia singgah di kota yang pernah ditinggali puluhan tahun lalu.
Ia bertemu kembali dengan orang-orang yang sebagian bahkan sudah lama hilang dari kehidupannya.
Lelaki itu sedang berada di rumah.
Tetapi, melalui tulisan, ia sedang bepergian.
Memasuki usia kepala lima rupanya membawa perubahan yang tidak selalu diumumkan dengan suara keras. Tidak ada lonceng yang berbunyi ketika seseorang tiba-tiba merasa lebih nyaman tinggal di rumah. Tidak ada pula surat pemberitahuan yang mengatakan bahwa tenaga mulai harus dihemat dan keramaian tidak lagi selalu menarik.
Semuanya terjadi perlahan.
Dulu, rumah hanya menjadi tempat pulang.
Kini, rumah mulai menjadi tempat tinggal dalam pengertian yang sebenarnya.
Ada masa ketika keluar rumah terasa seperti kebutuhan. Bertemu teman, menghadiri acara, melakukan perjalanan, duduk berjam-jam di warung kopi, atau sekadar berkeliling tanpa tujuan.
Semakin banyak tempat didatangi, seolah semakin lengkap kehidupan.
Namun usia mengubah ukuran tentang kebahagiaan.
Tidak semua perjalanan harus dilakukan.
Tidak semua undangan harus dipenuhi.
Dan, yang paling penting, tidak semua keramaian harus dimasuki.
Pada usia tertentu, seseorang mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Ia tidak perlu lagi menunjukkan bahwa dirinya masih kuat berjalan jauh.
Tidak perlu selalu hadir agar dianggap masih memiliki banyak teman.
Tidak perlu pula memaksakan diri mengikuti irama kehidupan yang semakin cepat.
Dunia boleh berlari.
Tubuh punya hak untuk melambat.
Perubahan lain terjadi pada lingkaran pertemanan.
Dulu, daftar teman terasa panjang. Nomor telepon tersimpan ratusan. Grup percakapan ramai dari pagi hingga malam. Janji bertemu mudah dibuat, meski sering kali hanya berakhir menjadi rencana.
Namun waktu adalah penyaring yang bekerja diam-diam.
Ia mengurangi banyak hal tanpa meminta izin.
Beberapa teman pergi karena pekerjaan.
Sebagian karena jarak.
Sebagian lagi hilang tanpa konflik dan tanpa perpisahan.
Percakapan yang dulu berlangsung setiap hari kini hanya tersisa dalam arsip pesan.
Nama-nama yang dulu begitu akrab perlahan berubah menjadi kenangan.
Yang tinggal, kadang hanya beberapa orang.
Anehnya, semakin sedikit jumlahnya, semakin terasa nilainya.
Pada usia muda, pertemanan mungkin diukur dari seberapa banyak orang yang mengenal kita. Ketika usia bertambah, ukurannya berubah.
Bukan lagi berapa banyak orang yang hadir.
Melainkan siapa yang tetap tinggal.
Pertemuan pun menjadi lebih sederhana.
Tidak harus sering.
Tidak perlu ramai.
Satu atau dua orang sudah cukup.
Duduk bersama. Memesan kopi. Membicarakan kesehatan, anak-anak, pekerjaan, masa lalu, dan kadang-kadang hal-hal kecil yang dahulu dianggap tidak penting.
Lalu pulang sebelum malam terlalu larut.
Tidak ada rasa kehilangan.
Justru ada rasa cukup.
Tubuh, pada saat yang sama, mulai ikut berbicara.
Pesannya sederhana, meski kadang tidak ingin didengar.
Jangan terlalu memaksa.
Jangan terlalu banyak begadang.
Jangan menganggap tenaga selalu tersedia.
Dulu, tubuh seperti kendaraan yang selalu siap dipacu. Sekarang, ia meminta perawatan.
Ia membutuhkan waktu untuk pulih.
Membutuhkan tidur yang cukup.
Membutuhkan ketenangan.
Dan, yang paling penting, membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan sinyal-sinyalnya.
Barangkali, menjadi tua bukan sekadar tentang tubuh yang melemah.
Menjadi tua adalah belajar berdamai dengan keterbatasan.
Menerima bahwa melambat bukan berarti tertinggal.
Menolak ajakan bukan berarti tidak setia kawan.
Tinggal di rumah bukan berarti kehilangan dunia.
Justru di rumah, seseorang bisa menemukan bentuk kesibukan baru.
Merawat tanaman.
Membaca buku yang bertahun-tahun hanya tersimpan di rak.
Memasak.
Membersihkan halaman.
Mendengarkan musik lama.
Belajar menggunakan teknologi yang dahulu terasa asing.
Atau sekadar duduk diam di pagi hari sambil menyaksikan matahari bergerak perlahan.
Kesibukan pada usia senja tidak lagi selalu harus menghasilkan uang atau pengakuan.
Ada kegiatan yang cukup dilakukan karena membuat hati tetap hidup.
Karena itulah, sebagian orang mulai menemukan kembali hal-hal yang dulu tertunda.
Hobi.
Bacaan.
Musik.
Fotografi.
Dan menulis.
Menulis, bagi orang-orang yang mulai lebih banyak tinggal di rumah, bisa menjadi semacam jalan keluar tanpa harus meninggalkan halaman.
Raga tetap berada di tempatnya.
Tetapi pikiran tidak.
Pikiran bisa menyeberangi kota.
Mendatangi gunung.
Menyusuri pantai.
Kembali ke sekolah dasar.
Menemui orang tua yang sudah lama tiada.
Atau membayangkan masa depan yang bahkan belum tentu akan dijalani.
Sebuah meja kecil dapat berubah menjadi terminal keberangkatan.
Laptop menjadi kendaraan.
Dan kata-kata adalah jalan panjang yang tidak pernah habis dilalui.
Menulis juga menjadi cara untuk melawan satu hal yang sering datang bersama usia: berhentinya rasa ingin tahu.
Sebab selama seseorang masih menulis, ia harus berpikir.
Ia harus mengingat.
Membaca.
Mengamati.
Bertanya.
Kadang mempertanyakan dirinya sendiri.
Satu tulisan mungkin hanya terdiri atas beberapa ratus kata. Tetapi sebelum menjadi kalimat, kata-kata itu melewati perjalanan panjang di dalam kepala.
Dari pengalaman.
Dari kenangan.
Dari kegelisahan.
Dari peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa.
Di situlah menulis menemukan maknanya.
Ia membuat seseorang tidak sekadar hidup dari hari ke hari.
Ia membuat seseorang memeriksa kembali kehidupan yang sedang dijalani.
Seorang penulis mungkin hanya duduk berjam-jam di rumah.
Tetapi sebenarnya ia tidak sedang diam.
Ia sedang berjalan melalui pikirannya sendiri.
Kesendirian pun kemudian berubah makna.
Dulu, sendiri mungkin terasa menyedihkan.
Kini, sendiri dapat menjadi kemewahan.
Bukan karena tidak membutuhkan orang lain, melainkan karena akhirnya seseorang tidak lagi takut bertemu dengan dirinya sendiri.
Di dalam kesunyian, tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada komentar.
Tidak ada tuntutan untuk selalu tampak berhasil.
Yang ada hanya seseorang dan pikirannya.
Pada usia tertentu, barangkali itu justru menjadi pertemuan yang paling penting.
Sebab selama bertahun-tahun manusia begitu sibuk bertemu dengan dunia.
Bertemu banyak orang.
Mengejar banyak hal.
Memenuhi banyak kewajiban.
Namun jarang memiliki waktu untuk duduk dan bertanya:
Sudah sejauh mana sebenarnya aku mengenal diriku sendiri?
Usia kepala lima mungkin belum dapat disebut senja bagi semua orang.
Masih banyak pekerjaan.
Masih ada mimpi.
Masih ada perjalanan.
Tetapi ada sesuatu yang memang berubah: cara memandang waktu.
Waktu tidak lagi terasa tak terbatas.
Karena itu, seseorang mulai lebih berhati-hati kepada siapa ia memberikan tenaga, pikiran, dan perhatiannya.
Tidak semua harus dikejar.
Tidak semua harus dimenangkan.
Tidak semua harus dimiliki.
Ada hal-hal yang cukup disyukuri.
Ada hal-hal yang harus dilepaskan.
Dan ada hari-hari yang cukup dijalani dengan tenang.
Pagi itu, lelaki di depan laptop kembali mengetik.
Kopinya hampir habis.
Matahari sudah semakin tinggi.
Rumah masih sunyi.
Tidak ada perjalanan yang menunggunya.
Tidak ada keramaian yang harus didatangi.
Tetapi halaman di layar semakin penuh.
Dan pikirannya terus berjalan.
Ke tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.
Ke masa-masa yang telah berlalu.
Ke wajah-wajah yang masih tinggal dalam ingatan.
Ke dunia yang mungkin tidak akan pernah bisa didatangi oleh kakinya lagi.
Begitulah, barangkali, salah satu cara terbaik menjalani usia yang mulai matang.
Raga boleh lebih sering tinggal di rumah.
Langkah kaki boleh tidak sejauh dahulu.
Lingkaran pertemanan boleh semakin kecil.
Tetapi kehidupan tidak harus ikut mengecil.
Selama masih ada rasa ingin tahu, selama masih ada sesuatu yang bisa dipelajari, dan selama masih ada kata-kata yang ingin dituliskan, dunia tetap terbuka.
Rumah bukan batas.
Rumah hanya tempat raga beristirahat.
Sebab ketika jari mulai mengetik dan pikiran mulai bergerak, tidak ada dinding yang cukup tinggi untuk membatasi perjalanan.
Raga tinggal di rumah.
Tetapi pikiran, melalui kata-kata, tetap mengembara tanpa batas.

