spot_img
BerandaJelajahKopi Pahit dari Warung Kecil di Pinggir Kota

Kopi Pahit dari Warung Kecil di Pinggir Kota

Dari warung kecil itu, saya belajar bahwa manusia tidak selalu bekerja karena sedang mengejar uang.

Oleh : Machrus Muhamad

LESINDO.COM – Malam belum sepenuhnya larut ketika warung kecil itu mulai menarik perhatian. Dari pinggir jalan, warung itu nyaris tak tampak istimewa. Tidak ada papan nama yang menggantung di depan. Tidak ada cahaya lampu yang terang memanggil orang untuk singgah. Hanya sebuah ruangan kecil dengan cahaya redup yang tumpah ke jalan, cukup untuk memperlihatkan sebuah meja sederhana dan bangku panjang yang telah dimakan usia.

Jika tidak mengenalnya, orang mungkin akan melewatinya begitu saja.

Warung itu tidak besar. Bahkan, mungkin terlalu sederhana untuk disebut sebagai warung jika dibandingkan dengan ukuran zaman sekarang.

Tidak ada etalase kaca yang memajang aneka makanan. Tidak ada lampu terang yang membuat ruangan tampak gemerlap. Cahaya di dalam warung itu justru remang-remang, seolah sengaja membiarkan malam tinggal lebih lama di sana. Tidak ada papan nama besar dan tidak pula daftar menu panjang yang menawarkan berbagai pilihan.

Di atas meja, gelas-gelas tua berjajar seadanya. Sebagian telah kusam oleh waktu dan berkali-kali bersentuhan dengan tangan pelanggan. Dari sudut ruangan, aroma kopi yang pekat perlahan menyebar, bercampur dengan udara malam yang masuk dari pintu yang selalu terbuka.

Yang dijual pun tidak banyak.

Kopi dan ketan.

Namun, justru di tempat sesederhana itulah kehidupan terkadang memperlihatkan maknanya dengan cara yang paling jujur.

Pembeli tidak pernah berdesakan seperti di warung-warung terkenal. Hanya beberapa orang datang silih berganti. Kebanyakan adalah pelanggan lama yang telah mengenal warung itu jauh lebih baik daripada orang-orang yang sekadar melintas di depannya.

Salah seorang yang hampir selalu datang adalah seorang lelaki paruh baya. Sepertinya orang-orang di sekitar telah mengenalnya dengan baik. Wajahnya tampak kurang terurus. Janggutnya terurai, kumisnya pun tidak tertata rapi. Ia jarang berbicara dengan orang lain.

Entah karena memang tidak banyak yang ingin ia ceritakan, atau justru terlalu banyak cerita yang telah lama ia pendam sendirian.

Namun, di warung kopi itu, ia sesekali berbicara.

Mungkin sang nenek pemilik warung telah mengetahui lebih banyak tentang hidup lelaki itu daripada yang diketahui orang lain. Barangkali ada keguncangan jiwa yang pernah dialaminya pada masa lalu. Barangkali pula ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Saya tidak pernah bertanya terlalu jauh.

Ada cerita yang terkadang cukup kita pahami dari cara seseorang duduk dalam kesunyian.

Di warung itulah lelaki tersebut menemukan tempatnya. Ia datang hampir setiap malam, duduk di bangku tua, memesan kopi, lalu menghabiskan waktu tanpa banyak bicara.

Mungkin baginya, warung itu bukan sekadar tempat membeli kopi.

Mungkin, di tengah kehidupan yang sering terasa asing, warung kecil itu adalah salah satu tempat yang masih membuatnya merasa diterima.

Sesekali, pada malam hari, saya juga menghampiri warung itu.

Segelas kopi hitam kemudian disajikan di hadapan saya. Gelasnya sederhana, mungkin telah digunakan bertahun-tahun. Kopinya pekat. Ampasnya bahkan hampir memenuhi bagian bawah gelas.

Kopi itu pahit.

Tetapi justru di situlah kenikmatannya.

Belakangan saya mengetahui, kopi tersebut bukan kopi produksi pabrik. Sang pemilik warung menyangrai sendiri biji kopi yang digunakannya. Setelah itu, biji-biji kopi ditumbuk sendiri, lalu diseduh untuk para pelanggannya.

Ada rasa yang berbeda.

Pahitnya tidak dibuat-buat. Aromanya tidak dipoles oleh kemasan. Tidak ada merek terkenal. Tidak ada desain menarik yang menjanjikan kenikmatan.

Hanya kopi yang lahir dari tangan seorang perempuan tua.

Namun, semakin lama memandang pemilik warung itu, saya justru merasa ada sesuatu yang lebih menarik daripada secangkir kopi di hadapan saya.

Guratan usia memang telah jelas terlihat di wajahnya. Rambutnya telah memutih. Namun, wajah itu masih tampak segar. Kulitnya bersih dan tidak terlihat kusam.

Dalam hati saya sempat berpikir, barangkali pada masa mudanya ia adalah seorang perempuan yang cantik.

Sebab, ketika usia telah memasuki senja pun, kecantikan itu seolah belum sepenuhnya meninggalkan wajahnya.

Tetapi yang paling menarik dari perempuan tua itu bukanlah wajahnya.

Melainkan caranya menjalani hidup.

Nenek itu tinggal seorang diri di pinggiran kota.

Anak-anaknya telah tumbuh dewasa. Kehidupan mereka telah mapan. Salah seorang anaknya bahkan telah menjadi dosen. Mereka menyayangi ibunya dan ingin agar perempuan tua itu tinggal bersama mereka.

Namun, ia memilih jalan yang berbeda.

Ia memilih rumahnya sendiri.

Ia memilih menjalani hari-harinya dengan cara yang sederhana.

Dan ia memilih tetap membuka warung kecil.

Bukan karena anak-anaknya tidak mampu.

Bukan pula karena ia ditinggalkan.

Ia hanya merasa lebih nyaman menjalani masa tuanya dengan cara yang ia pilih sendiri.

Berjualan kopi, bagi nenek itu, ternyata bukan semata-mata tentang mencari uang.

Warung kecil itu adalah dunianya.

Di sanalah ia memiliki kegiatan. Ia bangun, menyiapkan kopi, menyangrai biji kopi, menumbuknya, lalu membuka warung dan menyambut orang-orang yang datang.

Mungkin pembelinya hanya beberapa orang.

Mungkin keuntungan yang diperoleh tidak seberapa.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang yang masuk ke dalam laci meja.

Ada perasaan bahwa dirinya masih mampu melakukan sesuatu.

Masih mampu bekerja.

Masih mampu melayani orang lain.

Masih mampu menghasilkan sesuatu dengan kedua tangannya sendiri.

Di usia senja, ketika banyak orang mulai menghitung apa yang perlahan hilang dari tubuhnya, nenek itu justru mensyukuri apa yang masih dimilikinya.

Kesehatan.

Kekuatan untuk bangun setiap pagi.

Kaki yang masih mampu berjalan.

Tangan yang masih mampu menyangrai dan menumbuk kopi.

Mata yang masih mampu melihat pelanggan datang.

Dan tubuh yang masih diberi kesempatan untuk bekerja.

Barangkali, bagi sebagian orang, bekerja di usia tua adalah sesuatu yang menyedihkan. Seolah seseorang yang telah memasuki masa senja seharusnya berhenti bekerja karena anak-anaknya telah mampu memenuhi segala kebutuhan.

Tetapi nenek penjual kopi itu memperlihatkan pandangan yang berbeda.

Bekerja tidak selalu berarti kekurangan.

Kadang, bekerja adalah cara seseorang mempertahankan semangat hidup.

Ada manusia yang justru merasa lebih cepat tua ketika tidak lagi memiliki kegiatan. Hari-harinya terasa panjang. Waktu berjalan lambat. Sementara tubuh dan pikirannya perlahan kehilangan alasan untuk tetap bergerak.

Nenek itu tampaknya memahami satu hal sederhana.

Selama tubuh masih sehat, hidup masih layak dijalani dengan melakukan sesuatu.

Warung kecil itu mungkin tidak menghasilkan banyak uang.

Namun, warung itu memberinya alasan untuk bangun setiap pagi.

Dan mungkin, itulah kekayaan yang sesungguhnya.

Kita sering mengira kebahagiaan di masa tua adalah berhenti dari segala aktivitas, lalu menikmati hidup tanpa beban. Padahal, bagi sebagian orang, kebahagiaan justru hadir ketika mereka masih mampu melakukan sesuatu yang sederhana.

Membuat kopi.

Melayani pembeli.

Menyapa orang yang datang.

Menyiapkan ketan.

Lalu menutup warung ketika malam telah semakin larut, dengan perasaan bahwa hari itu telah dilalui dengan baik.

Dari warung kecil itu, saya belajar bahwa manusia tidak selalu bekerja karena sedang mengejar uang.

Ada yang bekerja karena ingin merasa hidup.

Ada yang tetap berkarya karena ingin menjaga tubuh dan pikirannya tetap bergerak.

Ada pula yang bekerja sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena masih diberi kesehatan.

Malam semakin larut.

Beberapa pelanggan masih duduk di bangku panjang. Tidak banyak percakapan. Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan dinding gelas. Aroma kopi memenuhi ruangan kecil itu dan bercampur dengan udara malam yang perlahan masuk dari pintu warung.

Di sudut warung, perempuan tua itu masih duduk dengan tenang.

Sesekali ia melayani pelanggan.

Sesekali ia berbicara.

Lalu kembali menikmati kesunyian.

Ia mungkin tidak memiliki warung besar.

Tidak memiliki banyak pelanggan.

Tidak pula menjual kopi dengan merek terkenal.

Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Ia memiliki kesehatan.

Ia memiliki kemandirian.

Ia memiliki hari-hari yang masih bisa diisi dengan kegiatan.

Dan yang terpenting, ia masih memiliki alasan untuk bangun setiap pagi dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.

Barangkali, pada akhirnya, nenek penjual kopi itu tidak sekadar menjual kopi.

Di balik segelas kopi hitam yang pahit dan penuh ampas, ia sedang mengajarkan sesuatu tentang kehidupan.

Bahwa selama tubuh masih diberi kekuatan, usia bukan alasan untuk berhenti merasa berguna.

Bahwa anak-anak yang telah mampu bukan berarti orang tua harus kehilangan dunianya sendiri.

Dan bahwa nikmat terbesar di masa senja bukanlah banyaknya harta yang telah berhasil dikumpulkan, melainkan kesempatan untuk masih bisa bangun di pagi hari dengan tubuh yang sehat, tangan yang masih kuat bekerja, dan hati yang masih mampu bersyukur.

Sebab, mungkin kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk rumah besar, tabungan yang melimpah, atau kehidupan yang serba tersedia.

Kadang, kebahagiaan hanya berupa sebuah warung kecil.

Sebuah bangku tua.

Beberapa pelanggan yang datang setiap malam.

Segelas kopi hitam.

Dan tubuh yang, hingga hari ini, masih diberi kekuatan untuk berkata,

“Alhamdulillah, saya masih sehat. Saya masih bisa melakukan sesuatu.”

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments