LESINDO.COM – Ada satu kebiasaan manusia yang barangkali paling sulit disadari: kita terlalu sering menunggu sesuatu yang luar biasa, sampai lupa bahwa kehidupan yang sedang kita jalani sesungguhnya sudah menyimpan begitu banyak keajaiban.
Kita menunggu hari besar. Menunggu keberhasilan. Menunggu perjalanan jauh. Menunggu datangnya rezeki yang melimpah. Menunggu sebuah kabar yang menggembirakan. Kita seperti meyakini bahwa kebahagiaan selalu berada di depan sana, di suatu tempat yang belum kita capai.
Padahal, sementara kita sibuk menunggu sesuatu yang besar datang, kehidupan yang sederhana diam-diam terus berlalu.
Matahari terbit setiap pagi.
Begitu sering kita melihatnya hingga cahaya yang perlahan menyapu langit itu tidak lagi terasa istimewa. Kita menganggapnya sebagai bagian dari rutinitas, seperti sesuatu yang pasti akan selalu ada.
Suara orang-orang yang kita cintai pun demikian.
Karena mendengarnya setiap hari, kita mengira suara itu akan terus tinggal di sekitar kita. Kita tidak pernah benar-benar membayangkan suatu hari rumah bisa menjadi begitu sunyi hanya karena satu suara yang biasa kita dengar tiba-tiba tidak lagi ada.
Makan malam bersama keluarga.
Secangkir kopi pada pagi hari.
Sahabat yang masih bersedia mendengarkan cerita-cerita yang sama.
Tubuh yang masih mampu berjalan.
Udara yang masuk dan keluar dari paru-paru tanpa perlu kita pikirkan.
Langit yang terbuka luas di atas kepala.
Semua itu begitu dekat, begitu akrab, sehingga sering kali justru luput dari perhatian.
Kita hampir tidak menyadarinya.
Sampai suatu hari, semuanya pergi.
Barangkali di situlah tragedi kecil menjadi manusia: kita sering kali baru memahami nilai sebuah momen setelah momen itu berubah menjadi kenangan. Kita baru merindukan sebuah kebersamaan ketika kursi di samping kita kosong. Kita baru menghargai kesehatan setelah tubuh tidak lagi bisa diajak bekerja sama seperti dulu. Kita baru memahami betapa indahnya hari-hari biasa setelah hari-hari itu tinggal cerita.
Waktu memang memiliki cara yang aneh untuk mengajari manusia.
Ia tidak selalu memberi tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi yang terakhir. Ia tidak membunyikan lonceng ketika seseorang sedang mengucapkan kalimat terakhirnya kepada kita. Ia tidak memasang tanda pada sebuah sore yang kelak, bertahun-tahun kemudian, justru akan kita kenang sebagai salah satu hari paling sederhana sekaligus paling berharga dalam hidup.
Karena itu, para pemikir Stoik mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan: jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.
Lihatlah kehidupan selagi ia masih berlangsung.
Perhatikan orang-orang yang duduk di sampingmu.
Dengarkan suara yang hari ini masih bisa kamu dengar.
Nikmati udara yang masih bebas memenuhi paru-parumu.
Pandanglah cahaya senja, meskipun matahari sudah terbenam ribuan kali sepanjang hidupmu.
Sebab tidak ada yang benar-benar biasa ketika kita mau melihatnya dengan kesadaran.
Barangkali kita tidak selalu membutuhkan kehidupan yang lebih luar biasa.
Barangkali yang kita perlukan hanyalah mata yang lebih jernih untuk melihat betapa luar biasanya kehidupan yang selama ini kita sebut biasa.
Satu hari lagi.
Satu pagi yang sehat.
Satu kesempatan untuk berbicara dengan orang yang kita sayangi.
Satu perjalanan pulang.
Satu meja makan yang masih dipenuhi suara.
Hal-hal kecil itu mungkin tidak akan masuk ke dalam sejarah. Tidak akan menjadi berita besar. Tidak akan membuat dunia berhenti sejenak untuk memperhatikannya.
Tetapi justru dari situlah kehidupan dibangun.
Dari hari-hari yang tampaknya biasa.
Dari momen-momen kecil yang kita jalani tanpa banyak perayaan.
Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika waktu telah membawa kita jauh dari hari ini, kita akan menoleh ke belakang dan menyadari sesuatu yang terlambat kita pahami.
Bahwa pagi yang kita anggap biasa itu ternyata sangat indah.
Bahwa rumah yang dahulu terasa sederhana ternyata begitu menenangkan.
Bahwa suara seseorang yang dahulu kita dengar setiap hari ternyata merupakan salah satu suara yang paling kita rindukan.
Bahwa hidup yang dulu kita anggap kurang luar biasa, ternyata adalah kehidupan yang suatu hari nanti rela kita tukarkan apa saja hanya untuk mengalaminya sekali lagi.
Maka sebelum semuanya berubah menjadi kenangan, mungkin kita perlu berhenti sejenak.
Menarik napas.
Melihat sekeliling.
Lalu berkata dalam hati:
Ternyata, berada di sini saja sudah merupakan sebuah keajaiban.
Sebab suatu hari nanti, momen-momen yang hari ini kita sebut biasa mungkin justru menjadi bagian dari masa lalu yang paling ingin kita datangi kembali.
Dan ketika hari itu tiba, kita akan mengerti: kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, ia hanya hadir sebagai sebuah hari biasa yang masih sempat kita jalani. (Ifa)

