Oleh : R. Adilla M
LESINDO.COM – Ada satu hal yang barangkali baru kita pahami setelah umur berjalan cukup jauh: hidup tidak pernah memberikan peta lengkap kepada siapa pun.
Ketika berusia sepuluh tahun, dunia terasa sederhana. Kita mungkin hanya mengenal sekolah, permainan, teman-teman, keluarga, dan cita-cita yang mudah diucapkan. Ingin menjadi dokter, guru, tentara, pilot, atau apa saja yang terdengar gagah di telinga anak-anak. Masa depan seperti jalan lurus yang ujungnya bisa diterka.
Tetapi hidup rupanya bukan jalan lurus.
Ia lebih menyerupai perjalanan panjang dengan tikungan yang tak selalu diberi tanda. Ada persimpangan yang memaksa kita memilih. Ada jalan yang tiba-tiba tertutup. Ada seseorang yang datang dan kemudian pergi. Ada harapan yang tumbuh bertahun-tahun, lalu runtuh hanya dalam satu malam. Ada pula peristiwa yang dahulu kita anggap sebagai kegagalan, tetapi bertahun-tahun kemudian justru kita sadari sebagai cara kehidupan menyelamatkan kita dari jalan yang keliru.
Di situlah hidup bekerja dengan caranya sendiri.
Takdir kadang seperti penulis cerita yang gemar menyembunyikan halaman berikutnya. Kita hanya diperbolehkan membaca apa yang sedang terjadi hari ini. Tentang esok, kita diminta menunggu.
Maka tidak mengherankan jika banyak rencana akhirnya berubah menjadi kenangan. Apa yang dahulu kita kejar mati-matian ternyata bukan tempat kita berhenti. Apa yang pernah kita takutkan justru menjadi pintu menuju kehidupan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Hidup sering kali tidak berjalan sesuai rencana, tetapi bukan berarti ia berjalan tanpa arah.
Ada masa ketika seseorang merasa telah menemukan bentuk kehidupannya. Pekerjaan mulai mapan, keluarga berjalan, hubungan dengan orang-orang terdekat terasa menemukan iramanya. Kita mulai merasa telah memahami bagaimana kehidupan bekerja.
Namun justru ketika semuanya terasa mulai tenang, perjalanan kembali membuka babak baru.
Sebab menemukan kenyamanan bukan berarti perjalanan selesai.
Memulai sesuatu dari awal pada usia yang tidak lagi muda adalah pekerjaan yang tidak sederhana. Kita membawa terlalu banyak pengalaman, terlalu banyak kenangan, juga terlalu banyak luka yang belum seluruhnya sembuh. Kita tidak lagi berjalan seperti anak-anak yang mudah percaya bahwa semua persoalan akan selesai dengan sendirinya.
Kita berjalan dengan kesadaran bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Di dalam perjalanan bersama orang lain, misalnya, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kesamaan. Ada perbedaan yang harus diterima. Ada kesalahan yang perlu dimaafkan. Ada perkataan yang sebaiknya tidak dibalas. Ada persoalan kecil yang lebih baik dilewatkan daripada dijadikan alasan untuk menghentikan perjalanan panjang.
Pada titik tertentu, kedewasaan bukan lagi tentang memenangkan perdebatan.
Ia adalah kemampuan untuk berkata dalam hati: barangkali aku bisa memilih untuk tidak memperpanjangnya.
Sebab hidup terlalu pendek jika seluruh energi kita habiskan untuk menghitung kesalahan orang lain.
Kita kemudian belajar bahwa memaafkan bukan selalu berarti membenarkan. Melepaskan bukan berarti kalah. Diam bukan berarti tidak memiliki jawaban. Dan mengalah tidak selalu menunjukkan kelemahan.
Kadang-kadang, seseorang memilih tenang karena ia tahu ada perjalanan yang jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan sebuah pertengkaran.
Waktu mengajarkan satu hal yang sering terlambat kita pahami: tidak semua hal harus diselesaikan dengan cara kita.
Ada sesuatu yang memang harus diterima.
Ada kehilangan yang harus diikhlaskan.
Ada kepergian yang tidak perlu dikejar.
Ada pintu yang memang harus ditutup agar kita memiliki kesempatan melihat pintu lain yang terbuka.
Barangkali inilah bagian paling sunyi dari perjalanan hidup: menerima bahwa kita tidak memiliki kendali penuh atas apa yang akan terjadi.
Kita dapat merencanakan, tetapi tidak dapat memastikan.
Kita dapat berusaha, tetapi tidak dapat memaksa hasil.
Kita dapat mencintai, tetapi tidak dapat memastikan seseorang akan tinggal selamanya.
Kita dapat menjaga, tetapi tidak dapat menghindarkan semua yang kita sayangi dari kehilangan.
Pada akhirnya, manusia hanya seorang pejalan.
Kita membawa bekal seadanya, berjalan sejauh yang mampu, lalu menyerahkan bagian yang tidak mampu kita kendalikan kepada Tuhan.
Di usia tertentu, pertanyaan tentang hidup pun berubah. Ketika muda, kita sibuk bertanya, “Apa yang ingin aku dapatkan?” Semakin jauh berjalan, pertanyaannya perlahan bergeser menjadi, “Apa yang sebenarnya perlu aku syukuri?”
Perubahan pertanyaan itu menunjukkan bahwa perjalanan telah mengubah kita.
Dulu kita ingin memiliki banyak hal. Sekarang mungkin kita hanya ingin hidup lebih tenang. Dulu kita ingin dikenal banyak orang. Kini kita mulai memahami bahwa tidak dikenal pun tidak apa-apa, selama hidup tidak kehilangan makna.
Dulu kita ingin sampai paling depan.
Sekarang kita hanya ingin sampai dengan hati yang tetap utuh.
Sebab garis akhir kehidupan adalah wilayah yang tidak pernah bisa kita lihat dari tempat kita berdiri hari ini. Tidak ada manusia yang mengetahui secara pasti kapan perjalanan akan berhenti, di mana langkah terakhir akan jatuh, dan dalam keadaan seperti apa sebuah cerita akan ditutup.
Itulah sebabnya hidup seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa jauh kita telah berjalan.
Barangkali yang lebih penting adalah bagaimana kita berjalan.
Apakah sepanjang perjalanan kita masih mampu menghargai orang lain?
Masihkah kita dapat memaafkan?
Masihkah kita sanggup bersyukur ketika keadaan tidak sesuai keinginan?
Masihkah kita mampu tersenyum setelah berkali-kali kecewa?
Dan yang paling penting: ketika jalan di depan tiba-tiba gelap, apakah kita masih percaya bahwa Tuhan mengetahui ke mana kita sedang diarahkan?
Tidak semua perjalanan harus kita pahami sejak awal.
Ada jalan yang baru masuk akal setelah kita menoleh ke belakang.
Baru ketika rambut mulai memutih, kita mungkin menyadari bahwa beberapa kegagalan ternyata adalah perlindungan. Beberapa penolakan adalah penyelamatan. Beberapa kehilangan justru memberi ruang bagi sesuatu yang lebih baik untuk tumbuh.
Kita hanya sering terlalu terburu-buru menilai sebuah peristiwa ketika peristiwa itu belum selesai.
Padahal hidup belum selesai menulis ceritanya.
Mungkin hari ini kita sedang berada di halaman yang berat. Mungkin sedang berhadapan dengan persimpangan yang membingungkan. Mungkin sesuatu yang telah dibangun bertahun-tahun harus dimulai kembali.
Tidak apa-apa.
Mulailah lagi.
Berjalanlah lagi.
Tidak perlu selalu tahu di mana akhirnya.
Sebab manusia memang tidak diberi tugas untuk mengetahui seluruh perjalanan. Tugas kita hanyalah menjalani bagian jalan yang berada di depan mata dengan sebaik-baiknya.
Jika hari ini hanya mampu berjalan satu langkah, berjalanlah satu langkah.
Jika harus berhenti sebentar untuk mengatur napas, berhentilah.
Tetapi jangan menganggap sebuah persinggahan sebagai akhir.
Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang seberapa sempurna rencana yang pernah kita susun. Ia adalah tentang bagaimana kita tetap berjalan ketika rencana itu berubah.
Dan mungkin, di situlah makna perjalanan sesungguhnya.
Kita tidak pernah benar-benar tahu di mana jalan ini akan berakhir. Kita hanya tahu bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk melangkah.
Maka jalani saja.
Dengan sabar ketika jalan menanjak.
Dengan rendah hati ketika berada di atas.
Dengan lapang dada ketika harus kehilangan.
Dengan keberanian ketika harus memulai kembali.
Dan dengan keyakinan bahwa setiap langkah, bahkan yang terasa salah sekalipun, tetap menjadi bagian dari cerita yang sedang ditulis-Nya.
Sebab hidup bukan tentang mengetahui akhir cerita.
Hidup adalah keberanian untuk terus berjalan, meski kita belum pernah membaca halaman terakhirnya.

