Menelusuri jejak sebuah serat Jawa yang menggunakan bahasa kasar, tubuh, dan perdebatan keagamaan untuk mengajukan pertanyaan yang justru sangat serius: apakah manusia mengenal Tuhan hanya melalui aturan, atau melalui pengenalan terhadap dirinya sendiri?
Oleh: Raihan HM
Kritik Sosial di Balik Humor dan Vulgaritas
Jika dibaca dalam konteks masyarakat Jawa, Gatholoco juga dapat ditempatkan sebagai karya kritik sosial.
Ia mempertanyakan hierarki pengetahuan.
Siapa yang berhak disebut pintar?
Siapa yang berhak menentukan benar dan salah?
Apakah seseorang menjadi lebih benar karena memakai pakaian tertentu?
Apakah gelar keagamaan otomatis membuat seseorang memiliki budi pekerti?
Pertanyaan semacam ini memiliki daya hidup yang panjang.
Sebab persoalannya tidak hanya berada pada masyarakat abad ke-19.
Ia masih dapat ditemukan hari ini.
Di tengah dunia digital, simbol kesalehan bahkan lebih mudah diproduksi. Foto, kutipan agama, pakaian, gelar, dan pernyataan moral dapat disebarkan dalam hitungan detik.
Tetapi kualitas batin seseorang tidak dapat difoto.
Akhlak tidak memiliki tombol like.
Keikhlasan tidak dapat diukur melalui jumlah pengikut.
Dan kedalaman spiritual tidak selalu terlihat dari penampilan.
Dalam konteks itulah Gatholoco terasa seperti suara dari masa lalu yang tiba-tiba mengetuk pintu zaman sekarang.
Jangan Membaca Gatholoco Hanya dari Kata-Katanya
Kesalahan terbesar dalam membaca karya kontroversial adalah berhenti pada kata-kata yang paling mengejutkan.
Jika pembaca hanya mengambil bagian vulgar, Gatholoco akan tampak seperti karya cabul.
Jika pembaca hanya mengambil bagian perdebatan agama, ia akan terlihat sebagai karya yang menyerang ulama.
Tetapi jika dibaca sebagai karya satiris dan simbolik, lapisannya menjadi jauh lebih kompleks.
Ia berbicara tentang manusia.
Tentang ego.
Tentang tubuh.
Tentang agama.
Tentang pengetahuan.
Tentang nafsu.
Tentang kematian.
Dan terutama tentang pencarian manusia terhadap asal dan tujuan hidupnya.
Di situlah konsep sangkan paraning dumadi menemukan tempatnya.
Manusia tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”
Ia juga harus berani bertanya:
Siapa sebenarnya saya? Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Dan ke mana saya akan kembali?
Gatholoco dan Pelajaran untuk Zaman Sekarang
Lebih dari satu abad setelah karya semacam ini beredar, pertanyaan Gatholoco belum selesai.
Kita hidup dalam zaman ketika orang mudah menghakimi.
Perbedaan pemahaman agama dapat berubah menjadi pertengkaran.
Perdebatan di media sosial sering kali tidak lagi bertujuan mencari kebenaran, tetapi memenangkan kelompok.
Orang lebih sibuk membuktikan bahwa dirinya benar daripada memperbaiki dirinya.
Dalam situasi seperti itu, Gatholoco menawarkan sebuah tamparan filosofis.
Agama seharusnya tidak hanya membuat manusia semakin pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi juga semakin manusiawi terhadap sesama.
Sebab ukuran kedalaman spiritual barangkali bukan seberapa sering seseorang menyebut nama Tuhan, melainkan bagaimana ia memperlakukan manusia lain ketika tidak ada yang melihat.
Di Antara Syariat dan Makrifat
Serat Gatholoco pada akhirnya bukanlah kitab agama dan tidak semestinya ditempatkan sebagai pengganti ajaran agama. Ia adalah karya sastra yang harus dibaca dalam konteks sejarah, kebudayaan, simbolisme, dan tradisi intelektual Jawa.
Justru karena itu, ia menarik.
Ia memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa pada masa tertentu mengolah perjumpaan dengan Islam melalui bahasa budaya mereka sendiri.
Ada syariat.
Ada tasawuf.
Ada simbol tubuh.
Ada filsafat Jawa.
Ada humor.
Ada kritik sosial.
Semuanya bertemu dalam satu ruang sastra yang gaduh.
Dan kegaduhan itu ternyata menyimpan pertanyaan yang sangat sunyi.
Setelah semua perdebatan selesai, siapa sebenarnya diri kita di hadapan Tuhan?
Gatholoco mungkin tidak memberikan jawaban sederhana.
Ia justru membawa pembacanya masuk ke dalam kegelisahan.
Sebab dalam perjalanan menuju kesadaran, pertanyaan terkadang lebih penting daripada jawaban.
Dan mungkin itulah sebabnya karya yang pernah dianggap vulgar dan kontroversial ini tetap menarik untuk dibaca.
Ia mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi sulit dilakukan:
jangan merasa telah sampai kepada hakikat hanya karena telah menguasai bentuk.
Sebab manusia dapat hafal jalan menuju Tuhan, tetapi belum tentu benar-benar berjalan.
Dan pada akhirnya, perjalanan paling panjang bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh.
Melainkan perjalanan dari keramaian ego menuju keheningan batin.

