spot_img
BerandaJelajahjelajahDi Gunung Prau, Aku Menatapmu

Di Gunung Prau, Aku Menatapmu

Karena sesungguhnya puncak bukanlah tentang siapa yang paling dahulu tiba. Puncak adalah tentang siapa yang mampu membawa seluruh perjalanan pulang dengan selamat.

Liputan Perjalanan : Redaksi

LESINDO.COM – Bukan sebagai sesuatu yang hendak kutaklukkan. Bukan pula sebagai panggung untuk menguji seberapa kuat kaki dan seberapa berani nyali. Bagiku, gunung bukan lawan yang harus dikalahkan. Ia adalah halaman sunyi tempat manusia belajar membaca dirinya sendiri.

Di ketinggian, ketika langkah akhirnya berhenti dan pandangan terbuka luas ke segala penjuru, ada sesuatu yang sulit diterjemahkan oleh kata-kata. Gunung-gunung berdiri seperti barisan penjaga bumi. Awan mengalir perlahan di lembah. Cahaya matahari menyentuh pucuk-pucuk bukit, sementara angin membawa dingin yang terasa sampai ke dalam dada.

Aku terdiam.

Betapa indah ciptaan Tuhan.

Hanya dengan melihat hamparan bumi dari sebuah puncak, hati sudah dibuat takjub. Padahal yang terlihat baru sebagian kecil dari dunia. Di atas sana masih terbentang langit yang tak bertepi, tata surya yang begitu luas, galaksi yang entah berapa banyak jumlahnya.

Lalu, siapa kita?

Barangkali manusia hanyalah setitik debu yang kebetulan diberi kesempatan untuk menyaksikan kebesaran semesta.

Gunung membuat kesadaran itu terasa nyata.

Untuk sampai kepadamu, Gunung, manusia tidak cukup membawa keberanian. Ia harus membawa persiapan. Tubuh harus dilatih. Mental harus dikuatkan. Logistik harus diperhitungkan. Pengetahuan tentang jalur, cuaca, perlengkapan, dan keselamatan harus dipahami.

Sebab alam bukan tempat untuk bermain-main dengan kesombongan.

Jangan datang hanya karena FOMO. Jangan mendaki sekadar karena orang lain sedang ramai mengunggah foto di puncak. Jangan menjadikan gunung sebagai latar untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat daripada mereka yang belum pernah sampai.

Gunung tidak pernah peduli pada popularitas.

Ia menerima siapa saja.

Yang datang dengan sepatu mahal maupun sandal sederhana. Yang sudah puluhan kali mendaki maupun mereka yang baru pertama kali mengenal jalur. Yang berjalan cepat maupun yang berkali-kali harus berhenti untuk mengatur napas.

Gunung tidak bertanya siapa kita.

Ia hanya mengajarkan satu hal: hormatilah alam.

Sebab setiap gunung memiliki wataknya sendiri.

Ada yang menyambut dengan jalur terjal, ada yang menyembunyikan jalan di balik lebatnya vegetasi. Ada yang membuka tubuhnya melalui hamparan sabana, ada pula yang membiarkan kabut menjadi tirai yang menutup pandangan.

Jangan merasa paling tahu hanya karena pernah menaklukkan beberapa puncak.

Sebab pengalaman pun bisa menjadi jebakan ketika ia melahirkan kesombongan.

Di gunung, ego harus ditinggalkan di kaki pendakian.

Tidak ada gunanya merasa paling kuat ketika teman di belakang mulai tertinggal. Tidak ada kemuliaan dalam meninggalkan seseorang sendirian di tengah jalur. Sebab perjalanan menuju puncak bukan perlombaan.

Jika berangkat bersama, maka pulang pun seharusnya bersama.

Tunggu mereka yang kelelahan.

Temani mereka yang kehilangan tenaga.

Berikan tangan kepada mereka yang membutuhkan pegangan.

Karena sesungguhnya puncak bukanlah tentang siapa yang paling dahulu tiba. Puncak adalah tentang siapa yang mampu membawa seluruh perjalanan pulang dengan selamat.

Di antara tanjakan, manusia akan bertemu dengan dirinya sendiri.

Napas mulai tersengal.

Kaki terasa berat.

Jantung berdetak lebih cepat.

Keringat mengalir di antara dinginnya udara.

Pada saat itulah kita sadar, betapa sederhana namun berharganya sesuatu yang selama ini kita anggap biasa: kemampuan untuk bernapas, berjalan, melihat, mendengar, dan merasakan.

Satu tanjakan mengajarkan syukur.

Satu tarikan napas mengajarkan kehidupan.

Satu langkah mengajarkan kesabaran.

Dan satu puncak mengajarkan kerendahan hati.

Di gunung, keheningan bukanlah kekosongan.

Ia justru penuh dengan suara.

Suara angin yang melewati pepohonan.

Suara langkah kaki yang menyentuh tanah.

Suara burung yang entah dari mana datangnya.

Dan suara paling jujur: suara hati sendiri.

Di sana manusia memiliki kesempatan untuk duduk tanpa harus menjelaskan apa pun kepada dunia.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada gelar.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada tepuk tangan.

Yang tersisa hanyalah tubuh, alam, dan Tuhan.

Mungkin itulah sebabnya gunung sering menjadi tempat perenungan. Ketika hiruk-pikuk kehidupan ditinggalkan untuk sementara, hati menjadi lebih mudah mendengar sesuatu yang selama ini tertutup oleh kebisingan.

Kita mulai bertanya:

Untuk apa sebenarnya semua yang selama ini dikejar?

Mengapa harus selalu menjadi yang terdepan?

Mengapa harus membuktikan diri kepada orang lain?

Bukankah hidup pada akhirnya adalah perjalanan pulang?

Gunung perlahan mengajarkan jawabannya.

Bahwa perjalanan lebih penting daripada kesombongan mencapai tujuan.

Bahwa kebersamaan lebih berharga daripada kecepatan.

Bahwa keselamatan lebih utama daripada sebuah foto di puncak.

Dan bahwa alam bukan milik manusia untuk dieksploitasi sesuka hati, melainkan titipan yang harus dijaga.

Di Gunung Prau, aku kembali menatapmu.

Kau tetap diam.

Tidak pernah mengaku tinggi.

Tidak pernah meminta dipuja.

Tidak pernah berkata bahwa manusia harus datang kepadamu.

Namun setiap kali seseorang berdiri di puncakmu, kau membuatnya menengadah kepada langit dan menundukkan kepala kepada kebesaran Tuhan.

Barangkali itulah bahasa paling indah yang kau miliki.

Diam, tetapi mengajarkan.

Tegak, tetapi merendahkan hati.

Tinggi, tetapi tidak menyombongkan diri.

Dan ketika perjalanan harus berakhir, kita pun turun.

Meninggalkan puncak.

Meninggalkan kabut.

Meninggalkan dingin.

Meninggalkan keheningan.

Tetapi ada sesuatu yang ikut turun bersama kita: kesadaran.

Bahwa tubuh ini masih diberi kesempatan untuk berjalan.

Bahwa jantung ini masih berdetak kuat ketika menanjak.

Bahwa paru-paru ini masih mampu menerima udara pagi yang begitu bersih.

Bahwa mata ini masih diberi kesempatan untuk memandang keindahan bumi.

Betapa banyak nikmat yang ternyata selama ini luput kita syukuri.

Gunung akhirnya tidak lagi menjadi tempat untuk mengatakan, “Aku telah menaklukkanmu.”

Justru sebaliknya, di hadapanmu aku belajar berkata:

“Aku datang kepadamu untuk belajar.”

Belajar tentang sabar.

Belajar tentang perjalanan.

Belajar tentang kebersamaan.

Belajar tentang alam.

Belajar tentang kerendahan hati.

Dan pada akhirnya, belajar tentang diriku sendiri.

Di Gunung Prau, aku menatapmu, Gunung.

Semakin tinggi aku berjalan, semakin kecil rasanya diriku.

Namun justru dalam kekecilan itu, aku menemukan kebesaran-Nya.

Dan ketika matahari perlahan meninggi di balik cakrawala, aku tahu satu hal:

Kita tidak pernah benar-benar menaklukkan gunung.

Kitalah yang sesungguhnya sedang ditaklukkan oleh keindahan, keheningan, dan kebesaran ciptaan Tuhan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments