spot_img
BerandaBudayaPart 2 : Gatholoco: Ketika Tokoh Vulgar Menantang Kesalehan yang Hanya Berhenti...

Part 2 : Gatholoco: Ketika Tokoh Vulgar Menantang Kesalehan yang Hanya Berhenti di Kulit

Setiap pertemuan menjadi ruang untuk mempertanyakan pengetahuan. Setiap perdebatan menjadi semacam ujian. Setiap lawan bicara membawa pandangan yang harus dibongkar, diuji, atau direnungkan kembali.

Menelusuri jejak sebuah serat Jawa yang menggunakan bahasa kasar, tubuh, dan perdebatan keagamaan untuk mengajukan pertanyaan yang justru sangat serius: apakah manusia mengenal Tuhan hanya melalui aturan, atau melalui pengenalan terhadap dirinya sendiri?

Oleh: Raihan HM

Apa gunanya pengetahuan agama jika tidak mengubah watak manusia? Syariat dan Hakikat: Pertentangan atau Dua Sisi?

LESINDO.COM – Salah satu pembacaan penting terhadap karya ini adalah hubungan antara syariat dan hakikat.

Syariat berbicara tentang aturan kehidupan. Hakikat berbicara tentang kedalaman makna.

Keduanya sebenarnya tidak harus dipertentangkan.

Masalah muncul ketika seseorang menganggap bentuk sebagai keseluruhan kebenaran.

Dalam tradisi tasawuf Jawa, penghayatan keagamaan sering bergerak dari pengetahuan lahir menuju pengalaman batin. Manusia tidak cukup hanya mengetahui sesuatu; ia dituntut mengalami, menyadari, dan mengubah dirinya.

Karena itu, Serat Gatholoco dapat dibaca sebagai kritik terhadap keberagamaan yang berhenti pada simbol.

Bukan kritik terhadap agama.

Bukan pula pembenaran terhadap perilaku menyimpang.

Melainkan kritik terhadap kesalehan yang kehilangan akhlak.

Gatholoco seolah mengatakan bahwa manusia jangan terlalu cepat merasa telah menemukan Tuhan hanya karena telah menguasai kata-kata tentang Tuhan.

Mengapa Harus Menggunakan Bahasa Vulgar?

Inilah bagian paling sulit dari karya tersebut.

Mengapa pengarang memilih bahasa yang kasar?

Mengapa persoalan tubuh dan seksualitas harus dibawa masuk ke dalam perdebatan filsafat?

Jawabannya mungkin justru terletak pada sifat sastra satiris itu sendiri.

Bahasa vulgar digunakan untuk mengguncang pembaca.

Jika pengarang menggunakan bahasa yang terlalu halus, pembaca mungkin akan mengangguk dan segera melupakannya. Tetapi ketika sesuatu yang tabu dilemparkan ke tengah perdebatan keagamaan, pembaca dipaksa berhenti.

Keterkejutan menjadi alat kritik.

Dengan cara itu, Gatholoco bekerja seperti pisau: bukan hanya memotong sesuatu yang dianggap salah, tetapi juga melukai kenyamanan pembacanya sendiri.

Dan pertanyaan paling penting kemudian muncul:

Mengapa kita lebih mudah marah karena sebuah kata dianggap vulgar daripada marah terhadap kesombongan, ketidakadilan, kemunafikan, dan hilangnya kemanusiaan?

Darmagandhul dan Dunia yang Mengiringi

Kehadiran Darmagandhul sebagai pendamping Gatholoco juga memperkaya struktur cerita.

Tokoh pendamping dalam karya semacam ini bukan sekadar pelengkap perjalanan. Ia dapat menjadi alat untuk menghubungkan gagasan besar dengan dunia manusia sehari-hari.

Perjalanan Gatholoco bukan perjalanan geografis semata.

Ia adalah perjalanan gagasan.

Setiap pertemuan menjadi ruang untuk mempertanyakan pengetahuan. Setiap perdebatan menjadi semacam ujian. Setiap lawan bicara membawa pandangan yang harus dibongkar, diuji, atau direnungkan kembali.

Karena itu, pengembaraan Gatholoco sesungguhnya dapat dibaca sebagai pengembaraan kesadaran.

Ia bergerak dari luar menuju ke dalam.

Dari pertanyaan tentang orang lain menuju pertanyaan tentang diri sendiri.

Dari Kesombongan Menuju Kesadaran

Ada paradoks menarik pada sosok Gatholoco.

Ia tampil sebagai orang yang merasa paling tahu. Ia keras, arogan, dan suka menantang.

Namun perjalanan panjangnya justru membuat pembaca melihat bahwa pengetahuan sejati tidak berhenti pada kemampuan memenangkan perdebatan.

Manusia yang merasa paling benar dapat terjebak pada kesombongan yang sama dengan manusia yang tidak memiliki pengetahuan.

Pada titik ini, Gatholoco menjadi kritik terhadap dirinya sendiri.

Ia menantang orang lain agar tidak merasa paling benar, tetapi ia pun harus menghadapi ujian yang sama.

Di sinilah dimensi spiritual karya tersebut menjadi semakin kuat.

Mengenal Tuhan tidak mungkin dipisahkan dari proses mengenal keterbatasan diri.

Semakin seseorang merasa paling mengetahui segala sesuatu, semakin jauh ia dari kesadaran bahwa manusia pada akhirnya tetap makhluk yang terbatas.

Perempuan sebagai Cermin Batin

Pertemuan Gatholoco dengan perempuan juga dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar episode erotis.

Perempuan dalam cerita menjadi ruang ujian terhadap hasrat, ego, dan pengendalian diri.

Di sinilah tubuh kembali muncul sebagai medan spiritual.

Manusia bukan hanya diuji oleh pengetahuan.

Ia diuji oleh keinginan.

Ia diuji oleh nafsu.

Ia diuji oleh kekuasaan.

Ia diuji oleh kemampuan mengendalikan dirinya sendiri.

Maka pertarungan terbesar Gatholoco sebenarnya bukan melawan para santri yang menjadi lawan debatnya.

Pertarungan terbesarnya adalah melawan dirinya sendiri.

Dan mungkin inilah inti perjalanan spiritual yang paling sulit: mengalahkan ego di dalam diri.

 

 


 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments