LESINDO.COM – Langit Temanggung pada Jumat malam, 21 Agustus 2026, menyimpan dingin yang menusuk tulang. Di antara gugusan megah atap Jawa Tengah, Gunung Sumbing (3.371 mdpl) berdiri gagah, memanggil para pencari cakrawala. Puncak Sejati, titik tertinggi dari gunung stratovolcano ini, selalu menjanjikan panorama agung di balik jalur pendakiannya yang dikenal terjal dan menantang.
Namun, di kaki gunung, sebuah drama batin dan firasat perlahan bergelayut.
Remaja asal Karanganyar, Dude Kurniawan Pasha (17), telah membulatkan tekad. Bersama dua sahabat setianya sejak masa Sekolah Menengah Pertama (SMP)—Rangga Dwi Arianto (17) dan Fatahilah (17)—ia merencanakan pendakian tektok melalui Basecamp Banaran. Tanpa tenda, tanpa logistik malam yang panjang, mereka bernapas bersama alam dalam satu tarikan napas pendakian cepat.
Sebelum langkah itu diayunkan, izin telah diminta. Namun, di seberang restu itu, ada debar jantung seorang ibu. Retno Lestari, sang ibunda, merasakan keberatan yang teramat sangat. Di rumah, keluarga tengah disibukkan dengan berbagai agenda penting: rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan tradisi merti dusun. Sang ibu berharap buah hatinya tetap di rumah.
Ada getar cemas yang tak terucap sempurna, sebuah intuisi keibuan yang sering kali melampaui logika petualangan anak muda. Namun, usia 17 tahun adalah usia di mana horizon dunia terasa begitu luas untuk dijelajahi, dan bujuk rayu impian pendakian kerap menutup telinga dari kecemasan orang tua. Dude tetap berangkat.
Jalan Berbeda di Puncak Sejati
Pendakian berjalan sesuai ritme usia muda. Setibanya di kawasan sabana Gunung Sumbing yang memesona, dinamika perjalanan mulai teruji. Kelelahan dan pertimbangan fisik membuat Rangga memutuskan mengambil keputusan bijak: ia memilih turun, kembali ke keselamatan basecamp.
Sementara itu, Dude dan Fatahilah meneruskan langkah menembus angin sabana hingga akhirnya menjejakkan kaki di Puncak Sejati (3.371 mdpl). Berdiri di titik tertinggi Sumbing, sejatinya adalah sebuah pencapaian puncak kepuasan batin bagi seorang pendaki muda.
Akan tetapi, hukum alam di gunung kerap berlaku kejam bagi mereka yang lengah. Saat perjalanan turun pada hari Sabtu, Dude dan Fatahilah mengambil jalur yang berbeda. Di titik inilah jalinan kebersamaan mulai merenggang. Jarak tercipta, langkah terpisah, dan kesunyian gunung mulai menelan kehadiran mereka satu per satu.
Kekhawatiran meledak ketika jarum jam menunjuk pukul 18.00 WIB. Ponsel Dude mendadak bungkam, tak lagi bisa dihubungi. Malam menyelimuti Sumbing dengan ketidakpastian. Laporan dilayangkan, relawan bergerak, dan doa-doa mulai dipanjatkan di rumah duka di Karanganyar.
Minggu pagi, fkarunia yang ditakutkan itu terjawab sudah. Dude ditemukan di kawasan Puncak Sejati—bukan lagi dalam kehangatan sapaan sahabat, melainkan dalam keabadian. Di rumah duka, sang ayah, Sri Widodo, tegar menahan tangis menyalami para pelayat, sementara sang ibu ditenangkan oleh dekapan kerabat yang mencoba meredam badai duka di dada.
Pelajaran dari Sumbing: Berangkat Bersama, Pulang Bersama
Tragedi ini menorehkan sebuah garis tebal berwarna kelam tentang esensi dasar dari sebuah petualangan alam bebas. Gunung Sumbing tidak hanya mengajarkan cara menaklukkan ketinggian, tetapi juga menampar ego manusia tentang arti sebuah kebersamaan.
Dalam dunia pendakian, ada sebuah adagium klasik yang tak lekang oleh waktu: “Berangkat bersama, pulang bersama.”
Prinsip ini bukan sekadar slogan romantis di media sosial, melainkan hukum besi keselamatan. Pendakian bukanlah ajang pembuktian siapa yang paling cepat sampai di puncak atau siapa yang paling kuat menaklukkan medan. Puncak tertinggi dari sebuah pendakian bukanlah batu 3.371 mdpl, melainkan keselamatan diri yang mengantar kita kembali memeluk keluarga di rumah.
Ketika ikatan “berangkat bersama” itu terpecah di tengah jalan—ketika pendaki terpisah dari rombongannya—saat itulah risiko berubah menjadi malapetaka. Gunung tidak peduli seberapa akrab persahabatan sejak SMP; ia hanya mengenal kesiapan, kewaspadaan, dan kepatuhan pada prosedur keselamatan.
Lebih dari itu, kisah Dude meninggalkan warisan renungan yang menusuk kalbu bagi siapa pun yang pernah berstatus sebagai anak. Di balik kalimat “jangan pergi” dari seorang ibu, tidak pernah ada niat untuk membatasi kebebasan. Yang ada di sana adalah selapis tipis rasa takut kehilangan nyawa buah hati yang telah dirawatnya dengan segenap jiwa. Restu orang tua adalah kompas batin yang paling jujur; ia kerap kali bisa merasakan badai jauh sebelum awan hitam itu benar-benar turun.
Kini, Dude telah pergi meninggalkan kita semua dalam pelukan keabadian di tanah impian para petualang.
Selamat jalan, Dude. Semoga alam semesta menyambutmu dengan damai, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan seluas samudra. Dari lereng Sumbing yang dingin, kita diingatkan kembali: hormati restu mereka yang melahirkan kita, dan pastikan selalu bahwa setiap langkah pendakian selalu diakhiri dengan kepulangan bersama orang-orang tercinta.
Bagaimana cara Anda dan kelompok pendakian Anda memastikan prinsip “pulang bersama” selalu terjaga di setiap medan ekstrem?

