Oleh : Jihan F
LESINDO.COM – Pagi belum sepenuhnya terang ketika kabut masih menggantung di lereng Gunung Sumbing. Udara dingin menyusup di sela pakaian. Di hadapan mata, hamparan ladang sayur membentang mengikuti lekuk tanah, bertingkat-tingkat seperti tangga raksasa yang mengarah ke langit.
Di tempat seperti ini, orang mungkin datang untuk mencari pemandangan.
Tetapi setelah beberapa saat, yang ditemukan justru sesuatu yang lebih sederhana: ketenangan.
Desa Butuh di lereng Gunung Sumbing, Magelang, bukan sekadar lanskap pegunungan yang indah. Ia adalah ruang kecil untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang terlalu sibuk.
Di sepanjang perjalanan, ladang sayuran menjadi bagian paling menonjol dari wajah desa. Tanaman tumbuh di petak-petak tanah yang mengikuti kemiringan lereng. Jalan desa meliuk di antara rumah-rumah warga dan lahan pertanian. Sesekali terlihat petani bekerja, sementara kabut bergerak perlahan di antara perbukitan.
Udara di sini berbeda.
Dingin, tetapi menyegarkan.
Ada kalanya kita perlu benar-benar berhenti dan menarik napas panjang. Bukan sekadar untuk memenuhi paru-paru dengan oksigen, tetapi untuk memberi kesempatan kepada pikiran agar ikut beristirahat.
Barangkali selama ini kita terlalu sering menggunakan kepala untuk memikirkan banyak hal.
Pekerjaan.
Uang.
Keluarga.
Target.
Masa depan.
Persoalan yang belum selesai.
Telepon yang terus berbunyi.
Pesan yang harus segera dijawab.
Hari-hari berjalan cepat, sementara kita sering lupa bahwa tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda.
Maka sesekali pergi bukanlah kemewahan.
Ia bisa menjadi kebutuhan.
Uang yang Berubah Menjadi Kenangan
Menginap di lereng gunung tentu membutuhkan biaya. Ada penginapan yang harus dibayar, makanan yang harus dibeli, bahan bakar yang harus digunakan, serta berbagai kebutuhan perjalanan lainnya.
Beberapa ratus ribu rupiah mungkin berpindah dari dompet.
Tetapi apakah benar-benar hilang?
Tidak selalu.
Uang yang kita keluarkan dalam perjalanan bisa berubah menjadi pengalaman. Ia bisa menjadi pendapatan bagi pemilik penginapan, pedagang makanan, petani, pengelola wisata, pengemudi, atau masyarakat setempat.
Di satu sisi, kita mendapatkan pelayanan.
Di sisi lain, ada kehidupan orang lain yang ikut bergerak.
Begitulah roda ekonomi bekerja dalam bentuknya yang paling sederhana: uang berpindah tangan, tetapi manfaatnya dapat berjalan lebih jauh.
Dan bagi seorang pelancong, ada sesuatu yang tidak tercatat dalam kuitansi.
Kenangan.
Pemandangan yang kita lihat hari ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, gambar itu dapat tersimpan bertahun-tahun di dalam kepala.
Suatu hari nanti, ketika kita melihat kembali foto-foto perjalanan, suasana itu bisa muncul lagi.
Kabut.
Ladang hijau.
Udara dingin.
Jalan yang menanjak.
Secangkir minuman hangat.
Tawa bersama orang-orang terdekat.
Semuanya menjadi arsip kehidupan.
Materi boleh berkurang, tetapi pengalaman bertambah.
Tidak Semua Keuntungan Berbentuk Uang
Ada cara sederhana untuk memahami perjalanan: kita tidak selalu sedang membelanjakan uang, tetapi sedang menukarkan uang dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli setiap hari.
Kita menukarnya dengan suasana.
Dengan pengalaman.
Dengan waktu.
Dengan kesehatan.
Dengan ketenangan.
Dengan cerita.
Barangkali inilah yang sering terlupakan dalam kehidupan modern. Kita terlalu pandai menghitung apa yang keluar dari rekening, tetapi lupa menghitung apa yang masuk ke dalam diri.
Padahal tidak semua keuntungan harus terlihat dalam bentuk angka.
Ketika pikiran yang semula penuh menjadi lebih tenang, bukankah itu keuntungan?
Ketika tubuh mendapatkan kesempatan beristirahat dari rutinitas, bukankah itu keuntungan?
Ketika kita kembali pulang dengan hati lebih ringan, bukankah itu juga keuntungan?
Dalam dunia kesehatan, suasana menyenangkan dan aktivitas yang membuat seseorang merasa bahagia dapat berkaitan dengan berbagai proses biologis dalam tubuh, termasuk pelepasan endorfin dan neurotransmiter lain yang berperan dalam rasa nyaman.
Namun, jauh sebelum istilah-istilah medis itu dikenal, manusia sebenarnya sudah memahami satu hal sederhana: suasana yang baik dapat membuat hati menjadi lebih baik.
Dan pegunungan punya caranya sendiri untuk melakukan itu.
Menghirup Udara, Mengembalikan Kesadaran
Di lereng Sumbing, udara seolah mengajarkan manusia untuk memperlambat langkah.
Tidak perlu terburu-buru.
Duduk sebentar.
Memandang jauh.
Tarik napas.
Rasakan dinginnya udara.
Lalu lepaskan perlahan.
Sesederhana itu.
Tetapi justru dalam kesederhanaan tersebut sering kali kita menemukan sesuatu yang hilang dari kehidupan sehari-hari: kesadaran bahwa kita sedang hidup.
Selama ini kita mungkin sibuk mengejar kehidupan sampai lupa menikmatinya.
Kita mengejar uang untuk membeli kenyamanan, tetapi kadang lupa bahwa kenyamanan tidak selalu harus dibeli dengan mahal.
Ada kenyamanan yang tumbuh dari pemandangan.
Ada yang lahir dari udara pagi.
Ada yang datang dari percakapan sederhana.
Ada yang muncul ketika kita duduk diam tanpa memikirkan apa pun.
Lereng gunung memberi ruang untuk semua itu.
Sebuah Investasi yang Tidak Masuk Rekening
Perjalanan ke lereng Sumbing mungkin tidak membuat rekening bertambah.
Namun, ia bisa membuat kehidupan terasa lebih kaya.
Kita pulang membawa foto, tetapi yang tersimpan bukan hanya gambar.
Ada suasana.
Ada cerita.
Ada rasa.
Ada pengalaman.
Dan semua itu tidak memiliki harga jual.
Mungkin suatu saat uang yang kita keluarkan hari ini tidak lagi kita ingat jumlahnya. Dua ratus ribu, tiga ratus ribu, atau lebih—angka itu perlahan kehilangan makna.
Tetapi kita masih mungkin mengingat pagi ketika kabut menggantung di lereng Sumbing.
Masih ingat dinginnya udara.
Masih ingat hijaunya ladang.
Masih ingat perasaan ketika berdiri memandang hamparan pegunungan.
Itulah keajaiban pengalaman.
Materi memiliki umur.
Kenangan sering kali tidak.
Karena itu, sesekali tidak ada salahnya menukar sebagian uang dengan perjalanan.
Bukan untuk pamer bahwa kita pernah datang ke suatu tempat.
Bukan pula untuk sekadar mengisi galeri telepon dengan foto.
Tetapi untuk memberi kesempatan kepada tubuh dan pikiran menikmati kehidupan dari sisi yang berbeda.
Sebab hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Hidup juga tentang berapa banyak pengalaman yang sempat kita rasakan.
Dan ketika suatu hari usia semakin bertambah, mungkin yang paling kita rindukan bukanlah uang yang pernah kita simpan, melainkan waktu yang pernah kita gunakan untuk menikmati dunia.
Di lereng Gunung Sumbing, di antara ladang sayur yang bertingkat dan udara dingin yang menyentuh wajah, kita seperti diingatkan pada satu hal sederhana:
Ada uang yang habis setelah dibelanjakan. Ada pula uang yang berubah menjadi kenangan.
Dan kenangan itu, kelak, mungkin menjadi salah satu bentuk kekayaan yang paling kita syukuri.

