LESINDO.COM – Ada orang datang ke rumah sakit dengan mobil mewah. Ada pula yang datang dengan sepeda motor tua, bahkan ada yang harus menumpang kendaraan tetangga. Ada pasien yang datang dengan pakaian rapi, berbicara lancar dan memahami istilah-istilah medis. Tetapi tidak sedikit pula yang datang dengan wajah cemas, pendidikan terbatas, bahkan untuk membaca formulir administrasi pun harus meminta bantuan orang lain. Mereka datang dengan latar kehidupan yang berbeda-beda.
Namun ketika pintu ruang pemeriksaan dibuka, sesungguhnya mereka datang membawa sesuatu yang sama: harapan untuk sembuh.
Di situlah profesi dokter diuji.
Bukan hanya seberapa tinggi nilai akademiknya. Bukan hanya seberapa panjang gelar yang melekat di belakang namanya. Bukan pula semata-mata dari kampus mana ia memperoleh pendidikan kedokteran.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting: adab, etika dan empati.
Sebab seorang dokter tidak hanya berhadapan dengan penyakit. Ia berhadapan dengan manusia.
Manusia yang sedang takut.
Manusia yang sedang kesakitan.
Manusia yang mungkin kehilangan pekerjaan karena sakit.
Manusia yang mungkin tidak tahu harus mencari uang dari mana untuk membayar biaya pengobatan. Bahkan manusia yang mungkin datang ke rumah sakit dengan membawa seluruh sisa harapannya.
Dokter dan prestise pendidikan
Menempuh pendidikan kedokteran sejak dahulu sering dianggap sebagai sebuah kebanggaan. Ketika seorang anak berhasil menjadi dokter, keluarga merasa memiliki sebuah pencapaian besar.
Tidak salah.
Menjadi dokter memang membutuhkan proses pendidikan panjang, kemampuan akademik, ketekunan dan tanggung jawab yang besar. Tetapi zaman berubah. Pendidikan kedokteran semakin berkembang dan institusi pendidikan kedokteran semakin beragam. Karena itu, gelar dokter semestinya tidak berhenti menjadi simbol kecerdasan atau prestise sosial.
Sebab menjadi pintar belum tentu menjadi bijaksana.
Kecerdasan bisa membuat seseorang mampu mendiagnosis penyakit. Tetapi empati membuat seseorang mampu memahami penderitaan.
Ilmu bisa membuat seseorang mengetahui bagaimana menyembuhkan tubuh. Tetapi adab mengajarkan bagaimana memperlakukan manusia yang sedang sakit.
Dan di ruang-ruang rumah sakit, keduanya seharusnya berjalan bersama.
Tidak semua orang beruntung dalam kehidupan
Ada manusia yang sejak kecil tumbuh dalam keluarga berada. Pendidikan terbuka luas. Buku tersedia. Sekolah terbaik dapat dijangkau. Ketika sakit, biaya pengobatan bukan persoalan besar.
Tetapi ada pula manusia yang sejak lahir harus berjuang menghadapi kehidupan.
Untuk sekolah saja mungkin harus berjalan kaki berkilo-kilometer.
Untuk makan harus bekerja.
Untuk berobat harus menunggu memiliki uang.
Ada yang tidak sempat menyelesaikan sekolah karena keadaan ekonomi. Ada yang sejak kecil membantu orang tua mencari nafkah. Ada yang hidup di pelosok, jauh dari akses pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Tetapi jangan pernah menyamakan rendahnya pendidikan dengan rendahnya pengetahuan.
Tidak semua orang yang sekolahnya tinggi memiliki keluasan hati. Dan tidak semua orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi berarti tidak memiliki ilmu kehidupan.
Seorang petani mungkin tidak memahami istilah medis, tetapi ia memahami bagaimana mempertahankan kehidupan dari tanah.
Seorang buruh mungkin tidak memiliki gelar akademik, tetapi ia memahami arti tanggung jawab.
Seorang ibu sederhana mungkin tidak pernah membaca buku filsafat, tetapi ia memahami arti pengorbanan.
Dan seorang manusia miskin mungkin tidak memiliki uang banyak, tetapi bukan berarti ia kehilangan harga diri.
BPJS bukan tanda rendahnya derajat manusia
Karena itu, ketika seorang pasien datang menggunakan BPJS, yang hadir di hadapan dokter bukanlah sekadar sebuah kartu.
Di balik kartu itu ada sebuah keluarga.
Ada seorang ayah yang mungkin bekerja sebagai buruh.
Ada seorang ibu yang mungkin berjualan kecil-kecilan.
Ada anak yang mungkin belum mengerti mengapa orang tuanya harus dirawat.
Ada keluarga yang setiap bulan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memastikan ketika sakit mereka masih memiliki akses pelayanan kesehatan.
BPJS adalah mekanisme jaminan kesehatan. Ia bukan ukuran kelas sosial.
Pasien BPJS tetap manusia.
Ia tetap seorang ayah.
Ia tetap seorang ibu.
Ia tetap seorang anak.
Ia tetap memiliki rasa takut, rasa malu, rasa sakit dan harapan yang sama.
Maka ketika seseorang yang sedang sakit dipandang rendah karena menggunakan BPJS, yang terluka bukan hanya tubuhnya.
Martabatnya pun ikut tersentuh.
Polemik yang seharusnya menjadi pelajaran
Belakangan, publik dihadapkan pada polemik yang melibatkan dokter Tamara Dewi Jasmine setelah komentar di media sosial mengenai pasien BPJS menjadi sorotan. RSU Pusri Palembang kemudian mengakhiri kerja sama dengannya sebagai dokter mitra. Kasus tersebut juga berkembang setelah Muhammad Dika Perkasa menyatakan akan menempuh langkah hukum melalui tim kuasa hukum. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, belum disebutkan bahwa laporan polisi atau gugatan tersebut telah resmi didaftarkan.
Apa pun perkembangan akhirnya, persoalan ini semestinya tidak hanya dilihat sebagai pertentangan antara seorang dokter dan masyarakat.
Lebih jauh dari itu, ada pertanyaan besar yang layak kita renungkan:
Sudahkah ilmu pengetahuan berjalan bersama kemanusiaan?
Sebab seorang dokter memiliki posisi yang unik.
Pasien datang kepadanya dalam keadaan tidak berdaya. Pasien mempercayakan tubuhnya, bahkan terkadang kehidupannya, kepada orang yang dianggap lebih memahami penyakit.
Karena itu, satu kalimat dari seorang dokter dapat memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Kalimat yang bagi orang sehat mungkin dianggap biasa, bisa menjadi sangat menyakitkan bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah kehidupannya.
Bayangkan seorang ibu membawa anaknya berobat setelah berhari-hari demam.
Bayangkan seorang buruh membawa istrinya yang sudah tidak mampu berjalan.
Bayangkan seorang petani yang meninggalkan sawahnya karena harus menjaga anaknya di rumah sakit.
Mereka mungkin tidak mampu membayar dengan uang tunai.
Tetapi mereka datang membawa kepercayaan.
Dan kepercayaan itu seharusnya dihormati.
Di hadapan penyakit, manusia menjadi sama
Penyakit tidak pernah bertanya seseorang kaya atau miskin.
Kanker tidak bertanya seseorang lulusan universitas mana.
Jantung tidak mengenal pangkat.
Stroke tidak mengenal status sosial.
Demam tidak bertanya apakah seseorang membayar dengan asuransi swasta atau BPJS.
Ketika tubuh terbaring di ranjang rumah sakit, semua simbol dunia perlahan kehilangan maknanya.
Jas mahal tidak membuat seseorang kebal terhadap penyakit.
Rumah besar tidak menjamin seseorang bebas dari kematian.
Gelar panjang tidak membuat manusia menjadi lebih tinggi di hadapan Tuhan.
Pada akhirnya kita semua hanyalah manusia yang tubuhnya memiliki batas.
Karena itulah profesi kesehatan seharusnya menjadi salah satu ruang paling subur bagi tumbuhnya kemanusiaan.
Ilmu tanpa adab
Kita sering mengatakan bahwa pendidikan membuat manusia menjadi lebih pintar.
Tetapi pendidikan yang sesungguhnya tidak hanya membuat seseorang mampu menjawab pertanyaan.
Pendidikan juga seharusnya membuat seseorang tahu bagaimana memperlakukan orang lain.
Sebab ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan.
Kecerdasan tanpa empati dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Gelar tanpa kerendahan hati dapat menciptakan jarak antara manusia yang menolong dan manusia yang membutuhkan pertolongan.
Padahal ilmu kedokteran sendiri pada hakikatnya adalah ilmu untuk merawat kehidupan.
Bagaimana mungkin ilmu yang bertujuan menyelamatkan manusia justru kehilangan rasa kemanusiaan?
Pasien tidak membutuhkan dokter yang hanya pintar
Pasien memang membutuhkan dokter yang cerdas.
Tetapi pasien juga membutuhkan dokter yang mau mendengarkan.
Dokter yang tidak tergesa-gesa.
Dokter yang memahami bahwa orang di depannya mungkin tidak mengerti istilah medis.
Dokter yang mau menjelaskan dengan bahasa sederhana.
Dokter yang tidak membuat pasien merasa bodoh karena tidak memahami sesuatu.
Dokter yang tidak menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk mengurangi rasa hormat.
Karena terkadang kesembuhan tidak dimulai dari obat.
Kesembuhan bisa dimulai dari sebuah kalimat sederhana: “Bapak tenang, kita coba cari jalan keluarnya.”
Kalimat sederhana itu mungkin tidak tertulis dalam resep.
Tetapi bagi pasien, ia bisa menjadi obat yang sangat berarti.
Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang sedang kita hadapi
Orang yang hari ini datang sebagai pasien mungkin adalah seseorang yang selama hidupnya bekerja keras untuk keluarganya.
Mungkin ia seorang ayah yang tidak pernah mengeluh meski penghasilannya pas-pasan.
Mungkin ia seorang ibu yang lebih sering memikirkan anak daripada dirinya sendiri.
Mungkin ia seorang anak yang membawa orang tuanya dengan perasaan takut kehilangan.
Mungkin ia seseorang yang tidak berpendidikan tinggi, tetapi sepanjang hidupnya telah mengajarkan anak-anaknya tentang kejujuran dan kerja keras.
Kita tidak pernah benar-benar tahu perjalanan hidup seseorang hanya dari pakaian, pekerjaan, pendidikan atau kartu jaminan kesehatan yang ia gunakan.
Karena itu, jangan menilai manusia dari apa yang tampak di permukaan.
Kemiskinan bukan aib. Tidak berpendidikan tinggi bukan kehinaan. Menggunakan BPJS bukan alasan untuk kehilangan martabat.
Pada akhirnya, profesi adalah amanah
Menjadi dokter bukan hanya tentang mendapatkan gelar.
Ia adalah amanah.
Di dalamnya terdapat ilmu, tetapi juga tanggung jawab moral.
Ada kekuasaan untuk menentukan keputusan medis, tetapi juga kewajiban untuk menjaga martabat pasien.
Ada keahlian, tetapi juga tuntutan untuk tetap rendah hati.
Mungkin seorang dokter lupa bahwa pasien yang datang ke hadapannya adalah manusia yang sedang berada dalam keadaan paling rapuh.
Tetapi masyarakat akan selalu mengingat bagaimana seorang dokter memperlakukannya ketika ia sedang tidak berdaya.
Maka barangkali yang perlu kita bangun bukan sekadar dokter yang semakin pintar.
Kita membutuhkan dokter yang semakin berilmu sekaligus semakin beradab.
Semakin tinggi pendidikannya, semakin rendah hati.
Semakin luas pengetahuannya, semakin luas empatinya.
Semakin besar keahliannya, semakin besar pula kepeduliannya kepada mereka yang tidak beruntung dalam kehidupan.
Sebab pada akhirnya, dokter bukan hanya menyembuhkan penyakit. Dokter juga sedang berhadapan dengan manusia.
Dan manusia, bagaimanapun keadaan ekonominya, bagaimanapun tingkat pendidikannya, bagaimanapun kartu jaminan kesehatan yang digunakannya, tetap memiliki satu hal yang sama:
ia ingin dihargai sebagai manusia.
Barangkali di situlah sesungguhnya ukuran tertinggi sebuah pendidikan.
Bukan seberapa tinggi seseorang berdiri karena ilmunya, tetapi seberapa dalam ia mampu merendahkan hati ketika berhadapan dengan mereka yang sedang berada di bawah. (Cha)

