Ketika Negeri Masih Diselamatkan oleh Mereka yang Memilih Menjadi Cahaya
LESINDO.COM – Di negeri yang hampir setiap hari dipenuhi berita tentang angka-angka korupsi yang sulit dinalar, ada pemandangan lain yang nyaris tak pernah menjadi tajuk utama. Di balik hiruk-pikuk perebutan kekuasaan dan keserakahan yang menggerogoti kepercayaan publik, masih ada tangan-tangan sunyi yang bekerja tanpa tepuk tangan, tanpa sorotan kamera, bahkan tanpa keinginan untuk dikenang.
Mereka tidak memegang palu kekuasaan. Tidak duduk di kursi empuk pemerintahan. Tidak pula memiliki pengawal yang membuka jalan ke mana pun mereka pergi. Namun, justru dari merekalah harapan sering kali tumbuh ketika negara terasa terlalu jauh menjangkau mereka yang lemah.
Di sudut-sudut kehidupan, rakyat kecil tetap memikul beban yang sama. Ada buruh yang sejak fajar membanting tulang demi membawa pulang sebungkus nasi. Ada ibu yang menahan lapar agar anaknya tetap bisa makan. Ada ayah yang memendam keinginan menyekolahkan buah hatinya lebih tinggi, tetapi kenyataan memaksanya memilih antara membeli buku atau membeli beras.
Sementara itu, layar-layar televisi dan gawai tak henti-hentinya menyuguhkan berita tentang uang rakyat yang menguap dalam jumlah yang membuat dada sesak. Angka-angkanya begitu fantastis hingga kehilangan makna bagi mereka yang bahkan tak pernah menggenggam selembar uang seratus ribu dalam sehari.
Di hadapan kenyataan seperti itu, banyak orang hanya mampu mengelus dada. Bukan karena pasrah, melainkan karena yang tersisa memang hanya dada yang masih sanggup menyimpan harapan.
Namun Tuhan, agaknya, tak pernah benar-benar membiarkan negeri ini kehilangan cahaya.
Di sela gelap yang memanjang, Dia selalu menghadirkan manusia-manusia yang hatinya lebih luas daripada kepentingannya sendiri. Mereka tidak bertanya siapa yang ditolong, apa agamanya, bagaimana sukunya, atau apa pilihan politiknya. Yang mereka lihat hanyalah satu hal: ada manusia yang sedang menderita.
Salah satu di antaranya adalah seorang dokter dari Solo yang namanya telah menjadi legenda kemanusiaan: dr. Lo Siauw Ging.
Ia bukan pejabat negara. Bukan pemilik kerajaan bisnis. Ia hanya seorang dokter yang memilih menjadikan profesinya sebagai jalan pengabdian.
Di ruang praktiknya, kemiskinan tidak pernah menjadi alasan seseorang kehilangan hak untuk sembuh.
Konon, ia memiliki cara yang begitu sederhana, tetapi luar biasa. Bagi pasien yang benar-benar tak mampu, ia memberikan kode khusus kepada apotek-apotek yang telah lama bekerja sama dengannya. Kode itu berarti satu hal: obat harus diberikan tanpa meminta bayaran kepada pasien.
Tagihannya?
Setiap akhir bulan, apotek datang kepadanya. Dan seluruh biaya itu dibayar dari kantong pribadinya.
Puluhan tahun kebiasaan itu berlangsung tanpa konferensi pers, tanpa unggahan media sosial, tanpa spanduk ucapan terima kasih.
Kebaikan yang benar-benar lahir dari hati memang tidak membutuhkan saksi.
Bahkan kepada pasien yang mampu membayar, ia tidak pernah memasang tarif tetap.
“Seikhlasnya.”
Dua kata yang hari ini terdengar semakin langka di tengah dunia yang hampir selalu menghitung segala sesuatu dengan keuntungan.
Nama Lo Siauw Ging memang berasal dari etnis Tionghoa. Namun cinta yang ia curahkan kepada negeri ini jauh melampaui sekat-sekat identitas.
Ia membuktikan bahwa menjadi Indonesia bukanlah perkara nama, warna kulit, atau asal-usul keluarga.
Menjadi Indonesia adalah ketika seseorang rela berbagi luka dengan rakyatnya.
Ketika seseorang merasa gelisah melihat orang lain tidak mampu membeli obat.
Ketika jabatan bukan alat memperkaya diri, melainkan kesempatan untuk meringankan penderitaan sesama.
Ironisnya, negeri ini justru lebih sering dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk mengumpulkan harta dari penderitaan rakyat daripada mengembalikannya kepada rakyat.
Ada yang menjadikan amanah sebagai ladang keuntungan. Ada yang menganggap jabatan sebagai jalan memperbesar rekening. Ada pula yang lupa bahwa setiap rupiah yang dicuri sesungguhnya adalah nasi yang hilang dari meja keluarga miskin, buku yang batal dibeli seorang anak, atau obat yang tak pernah sampai kepada pasien yang membutuhkan.
Di tengah wajah-wajah seperti itulah sosok dr. Lo berdiri begitu kontras.
Ia mengajarkan bahwa kekayaan terbesar manusia bukanlah apa yang berhasil disimpan, melainkan apa yang berhasil diberikan.
Bahwa kemuliaan tidak lahir dari besarnya jabatan, melainkan dari luasnya hati.
Bahwa sejarah sering kali tidak ditulis oleh mereka yang paling berkuasa, tetapi oleh mereka yang paling tulus mencintai sesamanya.
Dua tahun telah berlalu sejak dokter berhati malaikat itu meninggalkan dunia.
Namun sesungguhnya orang-orang seperti dirinya tidak pernah benar-benar wafat.
Ia hidup di setiap doa pasien yang pernah ditolongnya.
Ia hidup dalam cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ia hidup sebagai pengingat bahwa di negeri yang sering kehilangan teladan, masih pernah lahir manusia yang memilih menjadi penawar luka.
Barangkali negeri ini memang tidak kekurangan orang pintar.
Yang semakin langka adalah orang yang hatinya tetap lembut ketika kekuasaan dan kesempatan datang menghampiri.
Semoga Tuhan tidak pernah berhenti mengirimkan manusia-manusia berhati malaikat ke negeri ini.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya bertahan karena hukum yang kuat atau gedung-gedung yang megah.
Ia bertahan karena masih ada orang-orang yang diam-diam menyalakan lilin di tengah pekatnya malam.
Dan selama lilin-lilin itu masih menyala, selalu ada alasan untuk percaya bahwa harapan belum benar-benar padam.
“Bisikan Bibir Negeri”
Mungkin suatu hari nanti, sejarah tidak lagi bertanya berapa banyak kekayaan yang pernah kita kumpulkan.
Sejarah hanya akan bertanya, berapa banyak air mata yang berhasil kita keringkan.
Dan pada pertanyaan itu, nama dr. Lo Siauw Ging telah lama menemukan jawabannya. (Rsy)

