Oleh : Goes Mic
LESINDO.COM – Ada orang yang memiliki rumah besar, kendaraan mewah, dan tabungan berlimpah, tetapi tetap mengeluh seolah hidupnya kurang. Di sisi lain, ada mereka yang hidup sederhana, namun wajahnya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Perbedaan keduanya sering kali bukan terletak pada jumlah harta, melainkan pada keadaan hati.
Sesungguhnya, hidup terasa sempit dan melelahkan bukan semata-mata karena sedikitnya materi. Yang lebih sering menjadi penyebab adalah hati yang terbelenggu oleh hawa nafsu dan syahwat. Nafsu memiliki tabiat yang unik: ia tidak pernah mengenal kata cukup. Setiap kali satu keinginan terpenuhi, ia segera melahirkan keinginan baru yang lebih besar. Seolah kebahagiaan selalu berada di tempat yang belum dicapai, pada benda yang belum dimiliki, atau pada posisi yang belum diraih.
Tanpa disadari, manusia pun masuk ke dalam perlombaan yang tidak memiliki garis akhir. Hari-hari dihabiskan untuk mengejar sesuatu yang terus menjauh. Yang sudah ada dipandang biasa, sedangkan yang belum dimiliki dianggap sebagai syarat utama untuk merasa bahagia. Akibatnya, nikmat yang telah Allah titipkan perlahan kehilangan makna.
Padahal, rasa cukup bukanlah hadiah yang diberikan oleh banyaknya harta. Ia lahir dari kemampuan melihat karunia yang telah ada. Dalam ajaran Islam, sikap itu dikenal sebagai qanaah—menerima dengan lapang apa yang telah dianugerahkan, tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar menjadi lebih baik.
Qanaah bukan berarti berhenti berusaha atau pasrah tanpa ikhtiar. Justru qanaah mengajarkan keseimbangan. Tangan tetap bekerja, pikiran tetap berkarya, tetapi hati tidak diperbudak oleh keinginan yang tak bertepi. Seseorang boleh bercita-cita tinggi, namun tidak menggantungkan ketenangan jiwanya pada keberhasilan dunia semata.
Ketika ukuran hidup tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar rasa syukur yang tumbuh di dalam hati, pandangan terhadap kehidupan pun berubah. Kita mulai melihat bahwa banyak hal yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan nikmat yang luar biasa: kesehatan, keluarga yang masih menemani, udara yang dapat dihirup tanpa biaya, kesempatan untuk beribadah, hingga kemampuan tersenyum di tengah kesederhanaan.
Pada saat itulah kabut ilusi perlahan tersingkap. Langit batin menjadi lebih terang. Dada terasa lebih lapang dalam menerima kenyataan, dan kesabaran tumbuh tanpa dipaksa. Hidup memang tidak selalu menghadirkan apa yang kita inginkan, tetapi selalu menyuguhkan sesuatu yang dapat kita syukuri.
Alam seolah memberi pelajaran yang tak pernah usang. Gunung tidak pernah memprotes kabut yang datang menutup puncaknya. Ia tetap tegak ketika matahari bersinar, tetap diam ketika hujan mengguyur, dan tetap kokoh saat angin menerpa. Kabut datang, lalu pergi. Musim berganti silih berganti. Gunung tetap berada di tempatnya.
Begitu pula hati yang dipenuhi qanaah. Ia tidak mudah goyah oleh pasang surut kehidupan. Ketika rezeki datang, ia bersyukur. Ketika ujian menghampiri, ia bersabar. Sebab ia memahami bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri.
Mungkin kita belum memiliki semua yang diimpikan. Mungkin masih ada doa yang belum menemukan jawabannya. Namun, selama kita masih mampu mensyukuri apa yang telah ada, sesungguhnya kita telah memiliki modal terbesar untuk menjalani hidup dengan damai.
Sebab, kebahagiaan bukan selalu tentang menambah apa yang dimiliki, melainkan tentang mengurangi rasa kurang di dalam hati. Dan ketika qanaah menjadi penghuni jiwa, hidup yang semula terasa berat perlahan berubah menjadi perjalanan yang lebih ringan, lebih teduh, dan lebih membahagiakan.

