spot_img
BerandaJelajahjelajahWaktu Mengajarkan Cara Pulang

Waktu Mengajarkan Cara Pulang

Sebuah bait dari lagu dolanan Jawa yang mungkin dulu hanya dinyanyikan tanpa benar-benar dipahami. Padahal di dalamnya tersimpan pesan yang begitu dalam—meski licin, tetap dipanjat; meski sulit, tetap dijalani, demi membersihkan diri.

LESINDO.COM – Ketika yang dicari bukan lagi gemuruh dunia, melainkan pulang yang tenang.

Oleh waktu, manusia diam-diam diubah.

Bukan hanya wajah yang perlahan menyimpan garis usia. Bukan sekadar rambut yang mulai dipenuhi warna perak, atau langkah yang tak lagi secepat dahulu. Ada sesuatu yang lebih sunyi dari semua itu—sesuatu yang berubah di dalam, jauh di ruang paling pribadi, tempat niat, makna, dan kesadaran tumbuh tanpa suara.

Pada titik tertentu dalam hidup, seseorang akan sampai pada sebuah persimpangan yang ganjil. Jalan di depannya masih panjang, dunia tetap ramai, kesempatan masih berseliweran, dan ambisi masih terbuka lebar. Namun entah mengapa, langkah tak lagi tergesa.

Bukan karena kalah.
Bukan karena menyerah.
Melainkan karena mulai paham—bahwa tidak semua yang pernah dikejar harus dibawa sampai akhir.

Di usia muda, hidup sering dipandang seperti perlombaan panjang. Siapa lebih cepat, ia dianggap lebih berhasil. Siapa lebih tinggi, ia dipandang lebih berarti. Maka orang berlari—mengejar pengakuan, kedudukan, kekayaan, pujian, dan segala yang tampak gemerlap dari kejauhan.

Hari-hari dipenuhi target. Waktu terasa kurang. Istirahat seperti kemewahan. Diam dianggap tertinggal.

Namun hidup, seperti guru yang sabar, selalu punya caranya sendiri untuk mengajarkan sesuatu.

Kadang melalui kehilangan.
Kadang melalui kegagalan.
Kadang lewat pertemuan singkat dengan orang-orang sederhana yang justru tampak lebih damai.

Lalu tanpa sadar, ada yang mulai berubah.

Riuh yang dulu terasa penting, kini terdengar seperti gema dari kejauhan. Masih ada, masih terdengar, tetapi tak lagi menentukan arah.

Ada yang perlahan dilepas.

Bukan karena tak mampu menggenggam, melainkan karena sadar tidak semua harus dimiliki.

Ada yang mulai dijaga lebih dalam—waktu bersama keluarga, obrolan sederhana, kesehatan, ketenangan, doa yang tak pernah dipamerkan, dan malam-malam sunyi ketika seseorang akhirnya benar-benar bercakap dengan dirinya sendiri.

Napas pun terasa berbeda.

Lebih dalam.
Lebih pelan.
Seolah tubuh sedang mengingatkan bahwa waktu tidak selalu panjang.

Pada fase ini, arah hidup seperti mulai menunduk.

Bukan tunduk karena kalah, tetapi sedang belajar melihat ke bawah—melihat jejak sendiri, melihat siapa saja yang pernah ditinggalkan, siapa yang diam-diam setia, dan apa saja yang selama ini luput diperhatikan karena terlalu sibuk menatap ke depan.

Jejak-jejak lama pun datang kembali.

Kenangan masa kecil, suara ibu memanggil pulang saat senja, aroma tanah setelah hujan, suara gamelan dari kejauhan, hingga tembang sederhana yang dulu terdengar biasa.

“Cah angon, penekno blimbing kuwi…”

Sebuah bait dari lagu dolanan Jawa yang mungkin dulu hanya dinyanyikan tanpa benar-benar dipahami. Padahal di dalamnya tersimpan pesan yang begitu dalam—meski licin, tetap dipanjat; meski sulit, tetap dijalani, demi membersihkan diri.

Barangkali hidup memang seperti itu.

Bukan tentang seberapa tinggi seseorang pernah naik, tetapi seberapa bersih ia menjaga isi hatinya sepanjang perjalanan.

Waktu tak pernah berhenti. Ia tetap berjalan, tanpa menunggu siapa pun. Namun pada akhirnya, ada fase ketika manusia berhenti mengejarnya.

Ia memilih berjalan bersama waktu.

Lebih sadar.
Lebih ringan.
Lebih mengerti bahwa pulang bukan perkara jarak, melainkan kesiapan jiwa.

Dan di ujung jalan yang tak lagi sama itu, seseorang akhirnya memahami satu hal paling sederhana—

Bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil digenggam.

Melainkan seberapa ringan langkah saat tiba waktunya kembali pulang.

Karena pada akhirnya, yang benar-benar tersisa bukanlah harta, jabatan, atau tepuk tangan dunia…

melainkan apa yang diam-diam pernah dijaga di dalam jiwa.(Mic)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments