spot_img
BerandaJelajahPintu yang Tak Pernah Dikunci

Pintu yang Tak Pernah Dikunci

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering lebih keras kepada dirinya sendiri dibanding kepada orang lain. Kesalahan masa lalu diulang-ulang dalam kepala seperti rekaman usang yang tak bisa dihentikan. “Aku terlalu kotor.” “Aku sudah terlalu jauh.” “Tuhan mungkin tidak lagi menginginkanku.”

Oleh : Gus Mic

LESINDO.COM – Malam belum benar-benar larut. Di sudut sebuah musala kecil, lampu temaram menggantung diam, memantulkan cahaya kekuningan pada sajadah yang mulai kusam dimakan usia. Udara terasa lembap, sesekali suara jangkrik memecah sunyi. Di tempat seperti itulah, sering kali manusia bertemu dengan dirinya sendiri—tanpa topeng, tanpa gelar, tanpa tepuk tangan, tanpa sorak pujian.

Hanya ada seorang hamba, dan Tuhannya.

Barangkali pada momen seperti itu, banyak orang tiba-tiba mengingat masa lalu yang ingin dilupakan. Tentang lisan yang pernah melukai. Tentang amanah yang pernah diabaikan. Tentang shalat yang berkali-kali ditunda. Tentang janji yang sempat diucapkan kepada langit, tetapi kemudian dilanggar oleh bumi.

Dosa, bagi sebagian orang, kadang terasa seperti gunung. Tinggi. Gelap. Menyesakkan. Semakin dipandang, semakin membuat langkah mundur. Ada yang akhirnya memilih diam. Ada yang merasa dirinya terlalu kotor untuk kembali. Ada pula yang diam-diam meyakini bahwa pintu pulang mungkin sudah tertutup.

Padahal, dalam keyakinan Islam, justru di titik paling gelap itulah cahaya pengampunan sering kali mulai terlihat.

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan sebuah seruan yang begitu lembut, tetapi menghantam relung jiwa:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ayat itu termaktub dalam QS Az-Zumar ayat 53—sebuah ayat yang oleh banyak ulama disebut sebagai salah satu ayat paling menenangkan bagi mereka yang sedang mencari jalan pulang.

Menariknya, ayat itu tidak dimulai dengan panggilan kepada orang saleh. Tidak pula kepada mereka yang hidupnya lurus tanpa cela. Yang dipanggil justru mereka yang “melampaui batas terhadap dirinya sendiri.” Mereka yang jatuh. Mereka yang tersesat. Mereka yang pernah terlalu jauh berjalan.

Seolah Tuhan ingin mengatakan: sejauh apa pun langkahmu meninggalkan-Ku, jalan kembali itu tetap ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering lebih keras kepada dirinya sendiri dibanding kepada orang lain. Kesalahan masa lalu diulang-ulang dalam kepala seperti rekaman usang yang tak bisa dihentikan. “Aku terlalu kotor.” “Aku sudah terlalu jauh.” “Tuhan mungkin tidak lagi menginginkanku.”

Padahal, putus asa dari rahmat Tuhan justru menjadi jebakan yang lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri.

Para ulama kerap mengingatkan, seorang mukmin bukanlah manusia yang tidak pernah salah. Bukan pula sosok tanpa cacat. Seorang mukmin adalah mereka yang ketika tergelincir, ia tahu ke mana harus kembali.

Jatuh, lalu bangkit. Salah, lalu mengaku. Lalai, lalu memperbaiki.

Karena sejatinya, yang membuat seseorang binasa bukanlah dosa. Melainkan kesombongan untuk mengakui dosa.

Iblis tidak terusir karena ia tak pernah beribadah. Ia terusir karena enggan tunduk dan menolak mengakui kesalahan.

Sementara manusia, meski penuh noda, tetap diberi satu anugerah besar: kesempatan untuk kembali.

Maka, jika hari ini hati terasa berat oleh masa lalu, mungkin ini bukan tanda bahwa hidup sudah berakhir. Bisa jadi, justru ini adalah panggilan untuk pulang.

Sebab pintu taubat tidak pernah dikunci.

Dan sering kali, yang menguncinya hanyalah pikiran manusia sendiri.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments