LESINDO.COM, 8 Mei 2026 — Dunia kesehatan internasional meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus setelah munculnya klaster infeksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik. Hingga pekan ini, sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara World Health Organization (WHO) mencatat delapan kasus terkait, lima di antaranya telah terkonfirmasi laboratorium.
Kasus ini menjadi perhatian global karena sebagian penumpang kapal telah turun di sejumlah negara sebelum wabah teridentifikasi, sehingga otoritas kesehatan di berbagai wilayah kini melakukan pelacakan kontak dan pengawasan ketat terhadap penumpang maupun kru kapal. WHO menilai risiko pandemi global tetap rendah, namun mengingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan karena masa inkubasi virus yang relatif panjang.
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang umumnya ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus, kepada manusia. Penularan paling sering terjadi melalui udara ketika seseorang menghirup partikel dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan material yang terkontaminasi, maupun melalui gigitan hewan pengerat, meski kasus tersebut tergolong jarang.
Dalam kondisi tertentu, beberapa jenis hantavirus seperti varian Andes diketahui memiliki potensi penularan antarmanusia melalui kontak sangat dekat, meski kasusnya sangat terbatas. Investigasi awal pada klaster MV Hondius menunjukkan adanya keterkaitan dengan strain tersebut.
Secara medis, hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama. Pertama, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan dapat berkembang menjadi gagal napas akut dengan tingkat kematian tinggi. Kedua, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan dapat menyebabkan perdarahan serta gagal ginjal akut.
Gejala awal infeksi umumnya menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, diare, hingga kelelahan berat. Gejala biasanya muncul dalam rentang satu hingga delapan minggu setelah paparan virus.
Otoritas kesehatan di berbagai negara mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menggunakan disinfektan sebelum membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran hewan pengerat guna mencegah partikel virus terhirup.(Rsy)

