LESINDO.COM – Oleh waktu, manusia diajari satu kenyataan yang tak pernah bisa ditolak: segala yang datang, pada akhirnya akan pergi. Daun yang tumbuh akan gugur. Air yang menguap akan turun kembali menjadi hujan. Matahari yang terbit pun, pada waktunya, tenggelam ke ufuk barat. Begitu pula manusia.
Namun bagi sebagian masyarakat Jawa, kematian tidak pernah benar-benar dipahami sebagai “pergi.” Ia lebih sering disebut mulih—pulang.
Di sebuah desa yang masih memelihara laku spiritual warisan leluhur, kabar kematian tidak selalu disambut dengan teriakan histeris atau ketakutan yang berlebihan. Tangis tetap ada, kehilangan tetap terasa, tetapi di balik suasana duka, tersimpan sebuah keyakinan yang telah hidup berabad-abad: bahwa hidup di dunia memang hanya persinggahan singkat.
“Urip iku mung mampir ngombe.”
Hidup itu hanya mampir minum.
Kalimat sederhana itu bukan sekadar petuah orang tua di serambi rumah. Ia adalah inti dari filsafat tua yang dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi—pemahaman tentang dari mana manusia berasal, dan ke mana ia akan kembali.
Bagi orang Jawa, manusia bukan sekadar tubuh yang tersusun dari daging, darah, dan tulang. Ada unsur yang lebih halus, lebih dalam, yang disebut rasa sejati. Tubuh hanyalah wadah, sementara jiwa adalah musafir.
Maka ketika kematian datang, yang mati sesungguhnya bukanlah manusia seluruhnya. Yang selesai hanyalah tugas raganya.
Tubuh kembali ke tanah.
Napas kembali ke angin.
Panas kembali ke api.
Cairan kembali ke air.
Semuanya pulang ke tempat asalnya.
Dalam kosmologi Jawa, proses ini dikenal sebagai kembalinya unsur Sedulur Papat. Empat saudara yang menemani manusia sejak lahir, perlahan melepaskan ikatannya satu per satu. Tanah mengambil kembali jasad. Udara menarik napas terakhir. Panas tubuh memudar. Air meninggalkan segala kelembapan.
Yang tertinggal hanyalah pancer—inti kesadaran.
Di titik inilah, kematian tidak lagi dipandang sebagai kehilangan, melainkan pelepasan.
Orang-orang tua Jawa percaya, setelah tubuh selesai dengan dunianya, jiwa memasuki ruang yang tak lagi bisa dijelaskan oleh logika manusia. Mereka menyebutnya alam kelanggengan—sebuah ruang sunyi yang tak memiliki jarak, arah, ataupun waktu.
Tak ada lapar.
Tak ada lelah.
Tak ada sakit.
Yang ada hanya kesadaran.
Dalam kesunyian itu, hidup yang pernah dijalani seperti diputar ulang tanpa bisa disembunyikan. Segala amarah, cinta, kebohongan, luka, ketulusan, dan penyesalan hadir tanpa tirai.
Tak ada hakim.
Tak ada pengadilan.
Jiwa sendirilah yang menyaksikan dirinya.
Barangkali di sanalah makna surga dan neraka dipahami secara berbeda. Bukan semata tempat, melainkan keadaan batin. Jiwa yang semasa hidup dipenuhi ketamakan, kebencian, dan keterikatan akan merasa berat, seperti belum selesai dengan dunia. Sementara jiwa yang telah berdamai, ringan, dan bening, dipercaya akan melesat menuju cahaya sejatinya.
Dalam spiritualitas Jawa, perjalanan itu memiliki puncak: Manunggal ing Kawula Gusti.
Sebuah keadaan ketika manusia tak lagi sibuk mempertahankan “aku.” Tak lagi terikat oleh pujian, jabatan, atau ketakutan kehilangan. Orang Jawa menyebutnya mati sakjeroning urip—mati selagi hidup. Bukan mati secara jasad, melainkan matinya ego, nafsu, dan segala keterikatan duniawi.
Mereka yang sampai pada laku itu dipercaya tidak benar-benar takut pada kematian. Sebab bagi mereka, mati bukan akhir perjalanan.
Mati hanyalah pulang.
Pulang ke asal.
Pulang ke sunyi.
Pulang kepada sumber yang sejak awal meminjamkan kehidupan.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, orang-orang Jawa telah lama memahami sesuatu yang sering dilupakan manusia modern: bahwa yang paling abadi bukanlah tubuh, bukan nama, bukan harta—melainkan kesadaran yang akhirnya kembali kepada asalnya.
Karena pada akhirnya, seperti air yang tak pernah lupa jalan menuju samudera, jiwa pun selalu tahu ke mana ia harus pulang.

