spot_img
BerandaJelajahTiga Gerbang Kebenaran

Tiga Gerbang Kebenaran

Jangan menunggu rambut memutih untuk menyadari bahwa waktu ternyata berlari jauh lebih cepat daripada yang kita kira.

Di Mana Manusia Belajar Menghargai Hidup

LESINDO.COM – Barangkali manusia memang harus kehilangan sesuatu terlebih dahulu untuk memahami nilainya. Kita sering baru menyadari mahalnya kesehatan setelah tubuh terbaring sakit. Baru mengerti arti kebebasan setelah langkah dibatasi jeruji. Dan baru memahami betapa singkatnya hidup ketika berdiri di hadapan sebuah makam.

Aneh memang.

Kita memiliki mata, tetapi sering terlambat melihat. Memiliki telinga, tetapi terlalu sibuk untuk mendengar. Memiliki waktu, tetapi menghabiskannya untuk mengejar sesuatu yang belum tentu kita perlukan.

Kita baru belajar menghargai kehidupan setelah kehidupan memperlihatkan wajah sebaliknya.

Jika suatu hari ingin memahami manusia tanpa topengnya, mungkin kita tidak perlu datang ke istana. Tidak perlu melihat rumah-rumah mewah atau panggung tempat orang-orang menerima penghargaan.

Datanglah ke tiga tempat yang sunyi.

Rumah sakit. Penjara. Pemakaman.

Tiga tempat yang tidak menawarkan kemewahan, tetapi menyimpan tiga kebenaran paling mendasar tentang kehidupan.

Rumah Sakit dan Harga Sebuah Napas

Di rumah sakit, manusia tidak lagi sibuk membicarakan pencapaian.

Di sana, seorang pejabat dan buruh dapat sama-sama duduk menunggu hasil pemeriksaan. Orang kaya dan orang sederhana sama-sama berharap pada kesembuhan. Jabatan kehilangan suara. Uang kehilangan kesombongannya.

Yang paling penting hanya satu:

semoga masih diberi kesempatan untuk hidup.

Di lorong-lorong rumah sakit, kita dapat menemukan manusia yang sedang bernegosiasi dengan waktu.

Seorang ibu menunggu anaknya membuka mata.

Seorang suami menggenggam tangan istrinya.

Seorang anak duduk dalam diam, berharap dokter membawa kabar baik untuk orang tuanya.

Di tempat seperti itu, satu tarikan napas bisa lebih berharga daripada seluruh isi rekening.

Kita kemudian sadar, selama ini mungkin kita terlalu sering mengeluhkan hidup.

Mengeluh pekerjaan.

Mengeluh penghasilan.

Mengeluh rumah yang sempit.

Mengeluh kendaraan yang tidak baru.

Mengeluh tentang hidup orang lain yang tampaknya lebih baik.

Padahal mungkin ada seseorang di sebuah kamar rumah sakit yang hanya menginginkan satu hal sederhana yang selama ini kita nikmati tanpa pernah menghitung nilainya:

bangun pagi dengan tubuh yang sehat.

Kita mengira kesehatan adalah keadaan biasa.

Padahal ia adalah kekayaan yang setiap hari kita terima tanpa kuitansi.

Maka sebelum tubuh meminta kita berhenti, rawatlah ia.

Sebab ketika kesehatan pergi, banyak hal yang dahulu terlihat penting mendadak menjadi tidak berarti.

Penjara dan Harga Sebuah Kebebasan

Kemudian, cobalah memandang kehidupan dari balik jeruji.

Di sana, langit yang sama tampak berbeda.

Matahari tetap terbit. Burung masih terbang. Jalan-jalan tetap ramai. Orang-orang bebas berjalan ke mana mereka suka.

Tetapi bagi seseorang di balik jeruji, kebebasan sederhana itu adalah sesuatu yang sangat mahal.

Melangkah keluar tanpa harus meminta izin.

Berkumpul dengan keluarga.

Menghirup udara pagi di halaman rumah.

Pergi ke mana kaki ingin membawa tubuh.

Hal-hal sederhana yang sering kita anggap tidak berharga, ternyata bisa menjadi impian terbesar seseorang.

Penjara mengajarkan kita sebuah paradoks kehidupan:

manusia sering tidak menyadari luasnya dunia sampai hidupnya dibatasi oleh dinding.

Kita yang bebas justru sering merasa terpenjara oleh masalah.

Terpenjara oleh ambisi.

Terpenjara oleh gengsi.

Terpenjara oleh penilaian orang lain.

Terpenjara oleh keinginan untuk selalu terlihat berhasil.

Padahal pintu masih bisa kita buka.

Kaki masih bisa membawa kita pergi.

Langit masih terbentang tanpa pagar.

Barangkali yang kita perlukan bukan kehidupan baru, melainkan kesadaran baru untuk menghargai kehidupan yang sedang kita jalani.

Pemakaman dan Harga Sebuah Kehidupan

Lalu ada pemakaman.

Tempat yang tidak pernah berdusta.

Di sana, manusia tidak membawa gelar.

Tidak membawa rekening.

Tidak membawa rumah.

Tidak membawa kendaraan.

Tidak membawa pakaian terbaik.

Semua yang selama hidup dibanggakan akhirnya ditinggalkan di ambang liang.

Yang tersisa hanyalah tubuh yang perlahan kembali kepada tanah.

Batu nisan tidak pernah menuliskan berapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan dalam hidup.

Ia juga tidak mencatat berapa mahal kendaraan yang pernah kita miliki.

Tidak pula mencatat berapa luas rumah yang pernah kita bangun.

Yang tertinggal justru sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli:

kenangan.

Tentang kebaikan.

Tentang pertolongan.

Tentang kasih sayang.

Tentang seseorang yang pernah membuat hidup orang lain sedikit lebih ringan.

Di pemakaman, kita seperti sedang membaca akhir dari sebuah cerita yang suatu hari juga akan menjadi milik kita.

Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa.

Kita menghabiskan sebagian besar hidup untuk mengumpulkan banyak hal.

Lalu pada akhirnya, kita pergi dengan tangan yang kembali kosong.

Betapa ironisnya manusia.

Seumur hidup mengejar kepemilikan, padahal pada akhirnya yang benar-benar menjadi milik kita mungkin hanya amal, kenangan, dan doa orang-orang yang pernah merasakan kebaikan kita.

Jangan Menunggu Kehilangan

Tiga tempat itu seolah berdiri sebagai tiga cermin.

Rumah sakit berkata:

“Hargailah kesehatanmu.”

Penjara berkata:

“Syukurilah kebebasanmu.”

Pemakaman berkata:

“Ingatlah bahwa waktumu terbatas.”

Ketiganya mengajarkan hal yang sama:

jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Jangan menunggu sakit untuk mulai mencintai tubuh.

Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk mengatakan bahwa ia berarti.

Jangan menunggu hubungan retak untuk meminta maaf.

Jangan menunggu rambut memutih untuk menyadari bahwa waktu ternyata berlari jauh lebih cepat daripada yang kita kira.

Sebab hidup tidak pernah memberikan surat pemberitahuan tentang kapan semuanya akan berakhir.

Tidak ada kalender yang mencoret tanggal kematian kita.

Tidak ada jam yang berbunyi dan berkata, “Waktumu tinggal sekian.”

Kita hanya menjalani hari demi hari, seolah esok pasti tersedia.

Padahal tidak ada satu pun manusia yang benar-benar memiliki janji tentang hari esok.

Maka ketika pagi kembali datang, jangan hanya bersyukur karena matahari masih terbit.

Bersyukurlah karena kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki sesuatu.

Masih diberi kesempatan untuk memeluk orang tua.

Masih diberi kesempatan untuk meminta maaf.

Masih diberi kesempatan untuk bersedekah.

Masih diberi kesempatan untuk menolong.

Masih diberi kesempatan untuk mengatakan, “Aku menyayangimu.”

Karena boleh jadi, kalimat sederhana yang kita tunda hari ini adalah kalimat yang kelak paling ingin kita ucapkan ketika kesempatan sudah tidak ada.

Pada Akhirnya, Kita Hanya Singgah

Suatu hari nanti, rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain.

Pakaian yang kita simpan akan dipakai atau disimpan oleh orang lain.

Barang-barang yang kita beli dengan susah payah akan berpindah tangan.

Foto-foto kita mungkin akan tersimpan dalam album yang perlahan berdebu.

Dan dunia akan terus berjalan.

Matahari tetap terbit.

Pasar tetap ramai.

Jalan-jalan tetap dipenuhi kendaraan.

Orang-orang tetap mengejar kehidupannya masing-masing.

Hanya kita yang berhenti.

Mungkin itulah sebabnya hidup tidak seharusnya dihabiskan hanya untuk terlihat berhasil.

Sebab manusia tidak diciptakan untuk selamanya tinggal di dunia.

Kita hanya sedang singgah.

Dan seorang yang sadar bahwa dirinya hanya singgah akan lebih berhati-hati dalam melangkah.

Ia tidak ingin terlalu banyak menyakiti.

Tidak ingin terlalu lama menyimpan dendam.

Tidak ingin pergi dengan membawa terlalu banyak penyesalan.

Ia ingin ketika waktunya pulang tiba, ada sesuatu yang tertinggal dari dirinya.

Bukan kemewahan.

Bukan popularitas.

Bukan nama besar.

Melainkan kebaikan.

Sebab mungkin ukuran keberhasilan manusia yang sebenarnya bukanlah seberapa tinggi ia pernah berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang merasa lebih kuat setelah pernah mengenalnya.

Dan ketika kelak nama kita hanya tinggal kenangan, semoga masih ada seseorang yang berkata dalam doanya:

“Semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang pernah ia berikan.”

Jika itu terjadi, barangkali kita tidak benar-benar pergi.

Kita hanya berhenti hadir secara fisik, sementara kebaikan yang pernah kita tanam terus berjalan dari satu hati ke hati lainnya.

Maka, sebelum sampai di tiga gerbang itu—rumah sakit, penjara, dan pemakaman—belajarlah memahami pesan yang dibawanya sejak sekarang.

Rawatlah tubuhmu.

Syukurilah kebebasanmu.

Gunakan waktumu untuk mencintai dan berbuat baik.

Sebab hidup tidak pernah bertanya kepada kita berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.

Pada akhirnya, ia hanya meninggalkan satu pertanyaan:

“Selama diberi kesempatan hidup, apa yang sudah kau tinggalkan bagi dunia?” (Hib)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments