LESINDO.COM – Mengapa Banyak Anak Muda Terlihat Berhasil, tetapi Diam-Diam Kehilangan Arah?
Mereka tampak baik-baik saja.
Di layar telepon, hidup mereka terlihat seperti perjalanan tanpa hambatan. Secangkir kopi di kafe yang sedang populer. Foto dari bandara. Sepatu baru. Telepon genggam keluaran terbaru. Unggahan tentang kerja keras. Video tentang kesuksesan. Sesekali muncul kutipan motivasi yang terdengar meyakinkan.
Namun, layar sering kali tidak bercerita tentang semuanya.
Tidak ada kamera yang merekam kecemasan ketika malam tiba. Tidak ada unggahan tentang tabungan yang hampir habis. Tidak ada story tentang pekerjaan yang tak kunjung memberikan kepastian. Tidak ada foto tentang kebingungan seorang anak muda yang, setelah berusaha keras terlihat berhasil, tiba-tiba bertanya kepada dirinya sendiri:
“Sebenarnya, aku sedang mengejar apa?”
Di usia dua puluhan, banyak orang sedang berada dalam perlombaan yang bahkan mereka sendiri tidak tahu garis akhirnya berada di mana.
Mereka berlari.
Tetapi tidak semua tahu ke mana.
Generasi yang Sibuk Terlihat Berhasil
Usia 20-an selama ini sering digambarkan sebagai masa emas. Masa ketika tenaga masih kuat, waktu relatif panjang, dan kesalahan belum selalu berakibat fatal. Ini adalah usia untuk mencoba pekerjaan, membangun kemampuan, gagal, memulai lagi, lalu menemukan jalan hidup.
Namun, ada paradoks yang semakin terlihat.
Semakin banyak anak muda yang memiliki akses informasi, semakin banyak pula yang kebingungan menentukan arah. Semakin mudah melihat kesuksesan orang lain, semakin sulit sebagian dari mereka merasa cukup terhadap hidup sendiri.
Media sosial mengubah cara manusia memandang pencapaian.
Kesuksesan kini bukan hanya sesuatu yang dirasakan, melainkan sesuatu yang harus diperlihatkan.
Orang tidak cukup memiliki pekerjaan; pekerjaannya harus terlihat menarik. Tidak cukup berwisata; perjalanannya harus diunggah. Tidak cukup membeli sesuatu; orang lain harus tahu bahwa ia mampu membelinya.
Pelan-pelan, batas antara menjadi sukses dan terlihat sukses mulai kabur.
Di situlah jebakannya.
Seorang anak muda dapat menghabiskan bertahun-tahun membangun citra keberhasilan tanpa pernah sungguh-sungguh membangun fondasi keberhasilan itu sendiri.
Ia sibuk membuat orang percaya bahwa hidupnya sedang naik.
Padahal, dirinya sendiri tidak tahu apakah ia sedang benar-benar berkembang atau hanya sedang berlari agar tidak tertinggal dari orang lain.
Ketakutan yang Membuat Orang Tidak Pernah Memulai
Di tengah tuntutan untuk terlihat berhasil, muncul musuh lain yang lebih senyap: ketakutan untuk gagal.
Banyak anak muda ingin memulai usaha, tetapi takut rugi.
Ingin menulis, tetapi takut tulisannya dianggap buruk.
Ingin pindah pekerjaan, tetapi takut salah memilih.
Ingin melanjutkan pendidikan, tetapi takut terlambat.
Ingin mencoba sesuatu yang baru, tetapi terlalu sibuk membayangkan kemungkinan terburuk.
Mereka akhirnya memilih satu tempat yang terasa aman: tidak melakukan apa-apa.
Ironisnya, diam juga memiliki risiko.
Orang yang terlalu lama menunggu kepastian sering kali kehilangan kesempatan bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena keberaniannya habis sebelum langkah pertama dilakukan.
Kegagalan memang menyakitkan. Tetapi kegagalan pada usia muda sering kali merupakan ongkos pendidikan yang paling mahal sekaligus paling berharga.
Orang yang pernah salah memilih jalan belajar membaca arah.
Orang yang pernah kehilangan uang belajar menghargai nilai kerja.
Orang yang pernah jatuh belajar membedakan antara keinginan sesaat dan tujuan hidup.
Sedangkan mereka yang terus-menerus menghindari kegagalan dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang tampak aman, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal kapasitas dirinya sendiri.
Mereka menjadi penonton.
Dan hidup mereka berjalan tanpa pernah benar-benar mereka mainkan.
Uang yang Habis untuk Terlihat Keren
Kesalahan lain terjadi di tempat yang tampaknya sederhana: cara membelanjakan uang.
Usia 20-an adalah masa ketika seseorang mulai memiliki penghasilan sendiri. Untuk pertama kalinya, ia memiliki kebebasan menentukan apa yang akan dibeli.
Dan pasar mengetahui hal itu.
Setiap hari, anak muda disuguhi alasan untuk merasa kurang.
Kurang modis.
Kurang mengikuti tren.
Kurang memiliki pengalaman.
Kurang memiliki barang terbaru.
Kurang menarik dibandingkan orang lain.
Akhirnya, penghasilan yang seharusnya dapat menjadi modal masa depan perlahan berubah menjadi biaya untuk mempertahankan gaya hidup.
Barang dibeli bukan karena dibutuhkan, melainkan karena takut tertinggal.
Tempat didatangi bukan karena ingin menikmati, melainkan karena semua orang sedang pergi ke sana.
Uang habis.
Foto tersimpan.
Lalu tren berganti.
Tidak ada yang salah dengan menikmati hidup. Masalah muncul ketika kesenangan berubah menjadi pelarian dari kecemasan.
Ada perbedaan antara memberikan hadiah kepada diri sendiri dan terus-menerus membeli sesuatu untuk menutupi kekosongan yang tidak selesai.
Investasi paling mahal di usia muda bukan selalu saham, properti, atau bisnis.
Sering kali, investasi terbesar adalah kemampuan.
Pengetahuan.
Keterampilan.
Pengalaman.
Dan karakter.
Sebab barang dapat kehilangan nilai. Tren dapat berubah. Pekerjaan dapat hilang.
Tetapi kemampuan yang benar-benar dimiliki seseorang akan selalu dapat dibawa ke mana pun ia pergi.
Teman-Teman yang Menentukan Masa Depan
Ada keputusan lain yang jarang dianggap serius: memilih siapa yang berada di sekitar kita.
Lingkungan memiliki cara bekerja yang tidak selalu disadari.
Kebiasaan seseorang dapat berubah karena apa yang setiap hari ia lihat sebagai sesuatu yang normal.
Jika setiap hari seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang gemar menunda, menunda akan terasa wajar.
Jika setiap percakapan dipenuhi gosip, gosip akan dianggap hiburan.
Jika ambisi dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan, orang yang ingin berkembang bisa merasa bersalah karena ingin melangkah lebih jauh.
Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak selalu membuat seseorang nyaman.
Kadang, justru membuatnya merasa tertinggal.
Tetapi rasa tertinggal itu dapat menjadi bahan bakar untuk belajar.
Teman yang baik bukan mereka yang selalu membenarkan kita.
Teman yang baik adalah mereka yang mampu berkata, “Kamu sebenarnya bisa lebih baik dari ini.”
Banyak orang berbakat kehilangan masa depannya bukan karena tidak memiliki kecerdasan, tetapi karena terlalu lama berada di tempat yang salah.
Lingkungan tidak menentukan segalanya.
Tetapi lingkungan dapat menentukan seberapa sulit seseorang harus berjuang untuk menjadi dirinya sendiri.
Kapal Tanpa Kompas
Barangkali masalah terbesar generasi usia 20-an bukan kurangnya kesempatan.
Melainkan terlalu banyaknya pilihan.
Ketika semua jalan terbuka, seseorang justru dapat mengalami kebingungan menentukan langkah pertama.
Menjadi pegawai.
Membangun bisnis.
Melanjutkan pendidikan.
Menjadi kreator.
Merantau.
Pulang kampung.
Mengejar uang.
Mengejar passion.
Setiap pilihan memiliki pendukungnya sendiri.
Setiap hari, seseorang dapat menemukan video yang mengatakan bahwa satu jalan adalah jalan menuju kebahagiaan, sementara video berikutnya mengatakan sebaliknya.
Akhirnya, banyak anak muda hidup dengan cara paling mudah: mengikuti arus.
Mereka masuk ke suatu pekerjaan karena orang lain melakukannya.
Membeli sesuatu karena sedang populer.
Mengambil keputusan karena takut berbeda.
Hidup berjalan.
Tetapi arah tidak pernah benar-benar ditentukan.
Di titik tertentu, mereka mulai merasa lelah.
Bukan karena perjalanan terlalu jauh.
Melainkan karena sejak awal mereka tidak tahu ke mana sedang menuju.
Arah hidup memang tidak selalu datang seperti petunjuk yang jatuh dari langit.
Ia sering dibentuk perlahan.
Dari kegagalan.
Dari pekerjaan yang ternyata tidak cocok.
Dari pertemuan dengan orang-orang baru.
Dari kesalahan.
Dari kesunyian.
Dan, yang paling penting, dari keberanian untuk sesekali berhenti dan bertanya:
“Kalau semua orang berhenti melihatku, apakah aku masih ingin menjalani hidup seperti ini?”
Ketika Hidup Berantakan, Apakah Itu Berarti Gagal?
Tidak semua kehidupan yang tampak berantakan sedang menuju kehancuran.
Kadang, sesuatu memang harus runtuh agar seseorang dapat melihat fondasi mana yang sebenarnya rapuh.
Usia 20-an adalah laboratorium kehidupan.
Di sana seseorang belajar bahwa cinta tidak selalu bertahan.
Pekerjaan tidak selalu memberikan kepastian.
Teman tidak selalu tinggal.
Uang tidak selalu cukup.
Dan rencana tidak selalu berjalan sebagaimana yang ditulis.
Tetapi justru di tengah kekacauan itulah karakter mulai terbentuk.
Yang berbahaya bukan jatuh pada usia muda.
Yang berbahaya adalah jatuh, lalu memutuskan bahwa hidup sudah selesai.
Usia 20-an seharusnya tidak dihabiskan untuk menjadi sempurna.
Terlalu banyak orang muda membuang energi karena ingin hidupnya tampak selesai, padahal hidup baru saja dimulai.
Tidak apa-apa jika belum memiliki semuanya.
Tidak apa-apa jika pernah salah.
Tidak apa-apa jika jalan hidup berubah.
Yang penting adalah jangan sampai kehilangan kemauan untuk belajar.
Sebab pada akhirnya, orang yang kuat di usia 30-an bukan selalu mereka yang hidupnya mulus sejak muda.
Sering kali, mereka adalah orang-orang yang pernah hancur.
Pernah salah memilih.
Pernah kehilangan.
Pernah gagal.
Pernah merasa tertinggal.
Tetapi tidak pernah berhenti berjalan.
Dan mungkin, itulah yang perlu dipahami oleh mereka yang sedang berada di usia dua puluhan hari ini:
Kamu tidak harus langsung menjadi hebat.
Kamu tidak harus memiliki semua jawaban.
Kamu tidak harus terlihat sukses di mata semua orangKompa.
Namun, jangan habiskan masa mudamu hanya untuk membangun kehidupan yang terlihat indah dari luar, sementara di dalamnya kamu sendiri tidak menemukan arah.
Sebab hidup bukan panggung untuk meyakinkan orang lain bahwa kita berhasil.
Hidup adalah perjalanan panjang untuk memastikan, ketika kelak usia bertambah dan jalan semakin jauh, kita masih mampu berkata kepada diri sendiri:Kompa
“Aku mungkin pernah tersesat. Tetapi setidaknya, aku tidak pernah berhenti mencari jalan pulang.(Adre)

