Oleh: Machrus Muhamad
LESINDO.COM – Pagi itu, Indonesia seperti menerima kabar dari arah yang berbeda-beda. Dari timur Nusantara, Gunung Ibu di Halmahera Barat kembali mengirimkan letusannya. Tidak lama kemudian, Ili Lewotolok di Lembata menyemburkan abu ke langit. Dari Selat Sunda, Anak Krakatau kembali menunjukkan denyutnya. Sementara di Jawa Timur, Semeru pun berdiri dengan kepulan abu yang menjulang dari puncaknya.
Seolah-olah, pada satu pagi, alam berbicara dalam bahasa yang sama: bahwa manusia tidak pernah benar-benar berkuasa atas bumi yang dipijaknya.
Di tempat lain, api melahap kawasan dan meninggalkan kepedihan. Ada masyarakat yang harus hidup dalam kecemasan. Ada anak-anak yang mungkin belum mengerti mengapa langit di atas rumah mereka berubah kelabu. Ada orang-orang tua yang hanya bisa memandangi tanah kelahiran mereka sambil berharap musibah segera berlalu.
Ketika kabar-kabar itu datang bertubi-tubi, kita sebagai bangsa tentu boleh merasa sedih. Boleh merasa takut. Bahkan boleh bertanya kepada diri sendiri: Ada apa dengan negeri ini?
Namun, barangkali pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa alam terus menunjukkan kekuatannya.
Pertanyaan yang jauh lebih sulit adalah: apa yang sudah manusia lakukan terhadap negeri ini?
Kita tentu tidak memiliki hak untuk memastikan bahwa setiap bencana adalah hukuman Tuhan. Tidak ada manusia yang mampu membaca sepenuhnya rahasia dan kehendak-Nya. Musibah adalah bagian dari misteri kehidupan yang terlalu besar untuk disimpulkan hanya dengan satu kalimat.
Tetapi musibah selalu memberi manusia kesempatan untuk berkaca.
Dan di hadapan cermin itulah, barangkali kita harus berani melihat wajah bangsa ini dengan lebih jujur.
Sebab, negeri ini bukan hanya sedang menghadapi ancaman dari alam. Dalam banyak kesempatan, negeri ini juga terluka oleh tangan manusia sendiri.
Luka itu bernama keserakahan.
Luka itu bernama pengkhianatan terhadap amanah.
Luka itu bernama kekuasaan yang digunakan bukan untuk melayani, tetapi untuk memperkaya diri sendiri.
Kita menyaksikan bagaimana sebagian kecil orang—mungkin hanya segelintir—memiliki kemampuan untuk membuat penderitaan jutaan orang menjadi lebih berat. Mereka menggerogoti uang rakyat, merusak lingkungan, mempermainkan kepercayaan, dan menjadikan jabatan sebagai jalan menuju kepentingan pribadi.
Sungguh ironis.
Di satu tempat, rakyat harus berjuang menghadapi abu gunung api.
Di tempat lain, rakyat harus menghadapi harga-harga yang terus menekan kehidupan.
Di sudut yang berbeda, ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Namun, di balik meja-meja yang tertutup, mungkin masih ada orang-orang yang sibuk menghitung keuntungan dari penderitaan yang tidak pernah mereka rasakan.
Bukankah ini juga bencana?
Bencana tidak selalu datang dengan suara gemuruh.
Kadang-kadang, bencana datang dalam bentuk tanda tangan.
Datang dalam bentuk keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat.
Datang dalam bentuk anggaran yang bocor.
Datang dalam bentuk hutan yang dibuka tanpa nurani.
Datang dalam bentuk uang rakyat yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, jalan, dan kehidupan, tetapi justru hilang ke dalam kantong-kantong keserakahan.
Maka ketika hari-hari seperti ini datang, ketika alam seakan berbicara dari berbagai penjuru negeri, mungkin kita perlu menundukkan kepala.
Bukan untuk menyerah.
Tetapi untuk merenung.
Ya Allah, janganlah musibah-musibah ini menjadi tanda murka-Mu atas negeri kami.
Jika ini adalah ujian, kuatkan kami.
Jika ini adalah teguran, sadarkan kami.
Dan jika selama ini kami terlalu jauh dari kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab, tunjukkan kepada kami jalan untuk kembali.
Sebab negeri ini terlalu indah untuk dihancurkan oleh keserakahan segelintir orang.
Indonesia terlalu kaya untuk membuat rakyatnya hidup dalam penderitaan.
Tanah yang subur ini terlalu luas untuk diperebutkan demi kepentingan kelompok.
Laut yang membentang dari Sabang hingga Merauke terlalu agung untuk hanya menjadi ruang bagi manusia-manusia yang sibuk memperkaya diri.
Kita harus percaya bahwa Indonesia bukan hanya milik mereka yang memiliki kekuasaan.
Indonesia adalah milik petani yang bangun sebelum matahari terbit.
Milik nelayan yang menantang gelombang.
Milik relawan yang datang ketika bencana terjadi.
Milik tenaga kesehatan yang bekerja tanpa mengenal waktu.
Milik guru yang tetap mengajar meski dengan segala keterbatasan.
Milik anak-anak yang masih menyimpan mimpi tentang masa depan.
Dan ketika musibah datang, sesungguhnya kekuatan terbesar bangsa ini selalu muncul dari tempat yang sama: dari hati rakyatnya.
Dari tangan-tangan yang mengulurkan bantuan tanpa menanyakan asal-usul.
Dari dapur-dapur sederhana yang memasak untuk para pengungsi.
Dari relawan yang menembus hujan dan jalan berlumpur.
Dari orang-orang yang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi masih bersedia membaginya.
Di situlah Indonesia yang sesungguhnya tinggal.
Bukan hanya di gedung-gedung megah.
Bukan hanya dalam pidato-pidato panjang.
Tetapi dalam gotong royong yang tumbuh ketika saudara sebangsa sedang terluka.
Mungkin itulah jawaban terbaik ketika negeri sedang menghadapi ujian: jangan membiarkan musibah memecah kita.
Kuatkan solidaritas.
Bantu tanpa memilih.
Berdoa tanpa berhenti.
Awasi mereka yang diberi amanah.
Dan jangan pernah membiarkan keserakahan menjadi kebiasaan yang dianggap biasa.
Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah tertimpa musibah.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu bangkit setiap kali jatuh, belajar dari luka, dan memperbaiki kesalahan.
Hari ini, ketika gunung-gunung kembali berbicara dan berbagai musibah mengetuk pintu negeri, mungkin kita sedang diingatkan tentang satu hal yang sederhana.
Bahwa manusia hanyalah penghuni sementara.
Kekuasaan hanyalah titipan.
Jabatan hanyalah amanah.
Dan harta yang dikumpulkan dengan mengorbankan penderitaan rakyat, pada akhirnya tidak akan mampu membeli kembali satu pun kepercayaan yang telah hancur.
Semoga semua musibah yang terjadi di negeri ini bukanlah hukuman akibat ulah manusia.
Namun, jika berbagai peristiwa ini menjadi teguran bagi kita untuk lebih menjaga bumi, memperbaiki diri, dan menghentikan keserakahan, maka semoga kita cukup rendah hati untuk mendengarkannya.
Karena barangkali yang paling perlu kita selamatkan hari ini bukan hanya rumah-rumah yang terdampak bencana.
Bukan hanya jalan-jalan yang rusak.
Bukan hanya lingkungan yang terluka.
Tetapi juga nurani bangsa ini.
Bangkitlah, negeriku.
Kuatlah, Indonesiaku.
Semoga tangan-tangan yang jujur semakin banyak.
Semoga mereka yang merusak negeri ini segera dihentikan.
Semoga keadilan tidak hanya menjadi kata-kata dalam pidato.
Dan semoga, dari setiap musibah yang membuat kita menangis, lahir Indonesia yang lebih sadar, lebih jujur, dan lebih manusiawi.
Sebab selama rakyat masih saling menggenggam tangan, selama masih ada orang-orang yang rela membantu tanpa pamrih, dan selama nurani belum sepenuhnya mati, negeri ini masih memiliki alasan untuk berharap.
Indonesia boleh diuji. Tetapi Indonesia tidak boleh kehilangan hati.

