spot_img
BerandaJelajahSebelum Menatap Kabah, KBIHU Armina Kartasura Berlatih di Donohudan

Sebelum Menatap Kabah, KBIHU Armina Kartasura Berlatih di Donohudan

Manasik, dengan demikian, bukan sekadar simulasi gerakan. Ia menjadi ruang untuk menumbuhkan kesiapan—ilmu, fisik, mental, sekaligus ketenangan hati.

LESINDO.COM — Kain ihram putih bergerak perlahan mengitari miniatur Kabah di pelataran Asrama Haji Donohudan, Sabtu (29/8). Di tengah terik matahari, sejumlah calon jemaah laki-laki mengikuti langkah pembimbing, mencoba menghadirkan suasana Tanah Suci dalam sebuah latihan.

Sekilas, pemandangan itu menyerupai pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Namun, mereka belum berada di Masjidil Haram. Miniatur Kabah di Donohudan menjadi ruang belajar bagi ratusan calon jemaah dari sejumlah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).

Mereka mengikuti manasik haji dan umrah dengan mempraktikkan tahapan ibadah yang telah dipelajari. Bukan sekadar menghafalkan doa, tetapi membiasakan diri memahami urutan, gerakan, dan tata cara ibadah sebelum benar-benar berhadapan dengan situasi di Tanah Suci.

Di antara peserta, tampak sejumlah jemaah lanjut usia. Langkah mereka tidak lagi panjang dan cepat. Namun, mereka tetap mengikuti arahan pembimbing dengan saksama. Sesekali mereka memperlambat langkah untuk memastikan setiap tahapan dilakukan dengan benar.

Belajar Mengelilingi Kabah

Miniatur Kabah menjadi pusat praktik. Para calon jemaah belajar kembali tata cara tawaf, yakni mengelilingi Kabah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari arah pojok Hajar Aswad.

Pembimbing menjelaskan tahapan tawaf, termasuk posisi awal dan bacaan yang dianjurkan. Pada tiga putaran pertama dalam tawaf qudum atau tawaf umrah, jemaah laki-laki disunnahkan melakukan raml, yakni berlari dengan langkah pendek-pendek. Adapun pada empat putaran berikutnya, jemaah berjalan seperti biasa.

Jemaah KBIHU Armina Bersiap Berangkat dari Masjid Hj. Sudalmiyah Rais.UMS Menuju Embarkasi Donohudan. (mc)

Setiap kali melewati pojok Hajar Aswad, jemaah dianjurkan mencium atau mengusapnya apabila memungkinkan. Jika tidak memungkinkan karena kondisi padat, cukup memberikan isyarat dengan tangan kanan sambil mengucapkan Allahu Akbar. Sementara ketika melewati Rukun Yamani, jemaah juga dianjurkan mengusapnya apabila memungkinkan.

Dari satu putaran ke putaran berikutnya, calon jemaah berusaha mengingat kembali rangkaian yang kelak harus mereka jalankan di Tanah Suci.

Setelah menyelesaikan tawaf kemudian shalat sunnah di belakang Maqam Ibrahim dan meminum air zam-zam, praktik dilanjutkan dengan sa’i, yakni berjalan tujuh kali perjalanan antara Bukit Safa dan Marwah. Para peserta kembali mengikuti arahan pembimbing untuk memahami urutan serta tata cara pelaksanaannya.

Bagi calon jemaah, latihan tersebut menjadi penting karena ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik. Mereka akan berhadapan dengan jutaan jemaah dari berbagai negara, lingkungan yang berbeda, cuaca yang tidak selalu mudah diprediksi, serta rangkaian ibadah yang menuntut kesiapan fisik dan mental.

Menyiapkan Kemandirian Jemaah

Salah satu pembimbing KBIHU Armina Kartasura, Mahfudz Furqoni, mengatakan pembekalan dalam manasik diberikan agar calon jemaah memahami tata cara pelaksanaan ibadah haji dan umrah dengan baik.

Pemahaman tersebut, menurut dia, penting agar jemaah memiliki kemandirian selama berada di Tanah Suci. Mereka tidak semestinya sepenuhnya bergantung kepada pembimbing maupun ketua grup.

Jemaah perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika memasuki setiap tahapan ibadah sehingga mampu menjalankannya sesuai tuntunan syariat.

Manasik, dengan demikian, bukan sekadar simulasi gerakan. Ia menjadi ruang untuk menumbuhkan kesiapan—ilmu, fisik, mental, sekaligus ketenangan hati.

Para jemaah mempraktikkan sa’i antara Bukit Safa dan Marwah di bawah bimbingan pembimbing, sembari melafalkan doa-doa yang telah dipelajari secara berulang. (mc)

Bagi sebagian calon jemaah, perjalanan menuju Tanah Suci merupakan penantian yang panjang. Haji sebagai rukun Islam kelima membutuhkan kesiapan yang tidak sederhana. Selain kemampuan finansial, calon jemaah harus mempersiapkan kesehatan fisik, mental, ilmu, serta kesiapan spiritual.

Masa tunggu keberangkatan yang dapat berlangsung bertahun-tahun justru memberi ruang untuk mempersiapkan diri. Ketika kesempatan itu akhirnya tiba, berbagai latihan menjadi bagian dari ikhtiar agar perjalanan ibadah dapat dijalani dengan lebih baik.

Di antara peserta manasik, usia pun bukan penghalang untuk terus belajar. Para jemaah lanjut usia tetap mengikuti setiap tahapan dengan tekun. Bagi mereka, kesempatan menjadi tamu Allah bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, melainkan buah dari penantian, doa, dan ikhtiar yang panjang.

Di hadapan miniatur Kabah, langkah-langkah itu kembali ditata. Mereka belajar mengingat urutan ibadah, memahami tuntunan, sekaligus mengenali batas kemampuan tubuh.

Donohudan hari itu menjadi ruang persiapan sebelum perjalanan yang sesungguhnya. Miniatur Kabah bukan sekadar replika bangunan suci. Di sana, para calon jemaah sedang menata kembali pengetahuan dan kesiapan diri—agar ketika kelak melihat Kabah yang sebenarnya, langkah mereka tidak lagi ragu.

Kelak, ketika berada di Tanah Suci, tidak ada lagi ruang untuk sekadar mencoba-coba. Setiap tahapan harus dijalankan dengan pengetahuan dan keyakinan. Karena itu, sebelum kaki benar-benar menginjak Tanah Haram, para calon jemaah terlebih dahulu belajar menjejakkan langkahnya di Donohudan.

Dari miniatur Kabah itu, sebuah perjalanan panjang menuju Baitullah perlahan dimulai. (Mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments