Oleh : Arunika AM
LESINDO.COM – Senja tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bergeser perlahan, meninggalkan warna jingga di langit sebelum menyerahkan dunia kepada gelap. Di sebuah jalan yang mulai lengang, seseorang berjalan sendirian. Langkahnya pelan. Sesekali ia berhenti, menatap langit, seolah sedang mencari sesuatu yang pernah tinggal di sana.
Barangkali sebuah nama.
Atau mungkin sebuah kenangan.
Jalan itu pernah menjadi tempat dua manusia berbagi cerita. Mereka berjalan berdampingan ketika cahaya sore jatuh di antara pepohonan. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Kadang hanya tawa kecil, tatapan singkat, atau diam yang terasa cukup untuk menerjemahkan perasaan.
Dulu, senja adalah waktu untuk pulang bersama.
Kini, senja justru menjadi pengingat bahwa tidak semua kepulangan membawa seseorang kembali kepada orang yang dirindukannya.
Ada masa ketika dua hati merasa waktu terlalu cepat berlari. Mereka ingin memperpanjang sore, menahan matahari agar tidak segera tenggelam. Sebab, selama cahaya masih tersisa, mereka percaya kebersamaan belum berakhir.
Namun waktu tidak pernah berunding dengan siapa pun.
Ia bergerak tanpa meminta izin. Membawa perubahan, memisahkan pertemuan, menghapus kebiasaan, lalu menyisakan kenangan sebagai satu-satunya benda yang tidak bisa disentuh.
Aku rindu pada masa itu,
saat hatimu masih untukku.
Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi bagi seseorang yang sedang kehilangan, sebuah kalimat dapat menjadi ruang panjang tempat kenangan berulang-ulang diputar.
Di kejauhan, burung-burung terbang menuju sarang. Mereka bergerak beriringan, mengikuti naluri untuk kembali ke tempat yang mereka kenal. Pemandangan itu justru menimbulkan pertanyaan yang lebih sunyi: jika semua makhluk memiliki tempat untuk pulang, lalu ke mana seseorang harus membawa rindunya ketika rumah di dalam hati sudah tidak lagi memiliki pintu?
Tidak ada jawaban.
Senja semakin tipis. Warna jingga berubah kelabu. Jalan yang tadi masih menyimpan sisa cahaya mulai ditelan bayangan.
Ia tetap berjalan.
Barangkali begitulah cara manusia berdamai dengan kehilangan. Bukan dengan melupakan, melainkan dengan belajar berjalan bersama sesuatu yang tidak lagi bisa dimiliki.
Ada kenangan yang tidak perlu dibuang. Ia cukup diletakkan di tempat yang semestinya—di masa lalu.
Sebab mempertahankan seseorang yang telah memilih pergi hanya akan mengubah rindu menjadi luka yang terus dipelihara.
Malam akhirnya datang.
Tidak ada lagi cahaya yang bisa ditahan. Tidak ada lagi alasan untuk menunggu. Yang tersisa hanyalah langkah kaki, suara angin, dan ingatan tentang sebuah senja yang pernah begitu hangat.
Mungkin suatu hari, senja akan datang dengan warna yang sama.
Langit kembali jingga. Burung-burung kembali melintas. Jalan yang pernah menjadi saksi dua hati kembali ramai oleh orang-orang yang tidak mengetahui apa pun tentang kisah yang pernah tinggal di sana.
Dan seseorang itu mungkin masih berada di tempat yang sama.
Tetapi kali ini ia tidak menunggu siapa-siapa.
Ia hanya berdiri sebentar, menatap matahari yang perlahan tenggelam, lalu tersenyum kecil.
Bukan karena rindunya telah hilang.
Melainkan karena ia akhirnya mengerti: tidak semua rindu harus sampai kepada pemiliknya.
Sebagian cukup menjadi doa yang diam-diam dikirimkan kepada langit.
Sebagian lainnya dibiarkan jatuh bersama cahaya senja—satu per satu, perlahan, tanpa suara.
Dan ketika malam benar-benar tiba, ia melanjutkan perjalanan.
Sendirian.
Dengan hati yang mungkin belum sepenuhnya sembuh, tetapi sudah belajar menerima bahwa ada kepulangan yang tidak selalu berarti kembali.
Sebab pada akhirnya, senja tidak pernah berjanji untuk tinggal.
Ia hanya datang sebentar, memberi cahaya, lalu pergi.
Seperti seseorang yang pernah kita cintai.

