Oleh : Machrus Muhamad
Dieng, batu, dan sebuah refleksi tentang manusia yang belajar bertahan dari waktu
LESINDO.COM – Kabut turun perlahan di dataran tinggi Dieng. Ia tidak datang seperti hujan yang mengetuk keras atap rumah, melainkan menyusup pelan di antara rerumputan, menyentuh batu-batu tua, lalu menggantung seperti selendang putih di udara yang dingin.
Di tempat semacam ini, waktu terasa berbeda.
Jam tangan mungkin masih berdetak, tetapi perasaan tentang waktu seakan berhenti. Di hadapan sebuah candi tua, manusia mendadak menyadari betapa singkat umur dirinya. Batu yang berdiri di depan mata telah melewati berabad-abad, sementara manusia yang mengaguminya hanya singgah beberapa menit, mengambil gambar, lalu pergi.
Namun, benarkah candi itu hanya sebuah bangunan tua?
Atau ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang sedang disampaikan batu-batu itu kepada manusia?
Saya duduk cukup lama di pelatarannya. Memandang susunan batu andesit yang telah mengalami perjalanan panjang melintasi zaman. Lumut tumbuh di sela-selanya. Permukaannya tidak lagi sempurna. Ada bagian yang aus, retak, dan berubah warna karena usia.
Tetapi justru pada ketidaksempurnaan itulah keindahannya.
Candi tidak sedang memperlihatkan dirinya sebagai sesuatu yang baru. Ia tidak menyembunyikan luka. Ia tidak menghapus bekas zaman. Ia justru memperlihatkan seluruh perjalanan hidupnya melalui retakan, lumut, dan batu yang terkikis.
Di situlah saya merasa sedang membaca sebuah buku yang tidak ditulis dengan tinta.
Buku itu ditulis dengan waktu.
Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana seluruh kisah yang pernah berlangsung di sekitar candi itu secara utuh. Sejarah selalu menyisakan ruang kosong. Nama-nama manusia hilang, suara-suara masa lalu lenyap, dan berbagai peristiwa hanya meninggalkan serpihan yang harus dirangkai kembali.
Candi-candi di Dieng diperkirakan berasal dari masa Mataram Kuno sekitar abad ke-7 atau ke-8. Mereka bukan sekadar tumpukan batu yang kebetulan masih bertahan. Keberadaannya berkaitan dengan kehidupan keagamaan, kekuasaan, kebudayaan, serta cara manusia masa lalu memandang hubungan antara dirinya, alam, dan sesuatu yang dianggap lebih tinggi dari dirinya.
Tetapi waktu tidak pernah mengenal belas kasihan.
Kerajaan berganti. Kekuasaan berpindah. Kepercayaan berkembang. Hutan mengambil kembali ruang yang pernah dibuka manusia. Candi-candi itu perlahan tersisih dari ingatan.
Batu yang dahulu menjadi pusat kehidupan spiritual, pada suatu masa hanya menjadi bagian dari lanskap yang ditumbuhi semak.
Di sinilah sejarah terasa ironis.
Manusia membangun sesuatu dengan keyakinan bahwa ia akan bertahan lama. Namun manusia sendiri yang kemudian pergi. Nama pembangunnya mungkin tak lagi dikenal. Mereka yang dahulu berdoa di sana telah menjadi debu. Generasi demi generasi berlalu.
Sementara batu masih berdiri.
Ia tidak memiliki suara, tetapi justru karena itulah ia tidak pernah berbohong.
Ada satu hal menarik dari peninggalan sejarah: kita sering melihatnya sebagai sesuatu yang telah selesai.
Padahal tidak.
Sebuah candi bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia juga merupakan cerita tentang bagaimana generasi setelahnya memperlakukan masa lalu.
Ketika bangunan tua mengalami kerusakan, manusia datang dengan penelitian, dokumentasi, konservasi, dan restorasi. Batu yang pernah terancam hilang dari lanskap sejarah berusaha dipertahankan agar generasi berikutnya masih dapat menyentuh jejaknya.
Di titik ini, candi mengajarkan sebuah paradoks.
Untuk mempertahankan sesuatu agar tetap hidup, manusia harus menerima kenyataan bahwa sesuatu itu pernah rusak.
Tidak ada restorasi tanpa kerusakan.
Tidak ada pemulihan tanpa luka.
Dan mungkin demikian pula kehidupan manusia.
Kita sering ingin menjadi seperti batu yang tidak pernah retak. Padahal kehidupan justru membentuk kita melalui retakan-retakan itu.
Saya memandangi wisatawan yang datang silih berganti.
Ada yang berjalan cepat. Ada yang berhenti untuk berfoto. Ada yang membaca papan informasi. Ada yang hanya berdiri sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan.
Setiap orang membawa cerita sendiri.
Candi mungkin hanya menjadi latar belakang bagi sebuah foto bagi sebagian orang. Tetapi bagi orang lain, ia bisa menjadi pintu masuk menuju perenungan yang lebih panjang.
Bukankah hidup juga demikian?
Satu tempat yang sama dapat menghasilkan makna yang berbeda bagi setiap manusia.
Bagi seorang pedagang, Dieng mungkin adalah tempat mencari nafkah. Bagi petani, ia adalah tanah yang harus dirawat. Bagi wisatawan, ia adalah perjalanan. Bagi fotografer, ia adalah cahaya dan komposisi. Bagi seorang sejarawan, ia adalah dokumen kebudayaan.
Dan bagi saya, sore itu, candi adalah sebuah cermin.
Saya melihat diri sendiri di antara batu-batu tua itu.
Betapa sering manusia merasa hidupnya paling berat hanya karena sedang menghadapi satu persoalan. Betapa mudah kita menganggap satu kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Padahal, jika batu-batu ini mampu bercerita, mungkin mereka akan mengatakan bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar berjalan lurus.
Ada masa ketika segala sesuatu dibangun.
Ada masa ketika sesuatu runtuh.
Ada masa ketika semuanya dilupakan.
Dan ada masa ketika kehidupan kembali menemukan maknanya.
Batu tidak pernah terburu-buru.
Ia tidak mengejar siapa pun.
Ia tidak iri kepada batu di sebelahnya.
Ia hanya menjalani waktu.
Mungkin inilah pelajaran yang paling sederhana sekaligus paling sulit bagi manusia modern.
Kita hidup dalam dunia yang terus menyuruh kita berlari.
Berhasil lebih cepat. Kaya lebih cepat. Terkenal lebih cepat. Memiliki rumah lebih cepat. Mencapai jabatan lebih cepat. Bahkan bahagia pun seolah harus lebih cepat.
Padahal hidup tidak pernah berjanji bahwa siapa yang paling cepat akan menjadi pemenang.
Ada orang yang sampai lebih dahulu tetapi kehilangan dirinya sendiri.
Ada pula yang datang terlambat, tetapi justru menemukan kedamaian.
Candi di Dieng seakan berbisik: jangan terlalu sibuk menghitung seberapa cepat engkau berjalan. Sesekali lihatlah apakah langkahmu masih menuju arah yang benar.
Sebab perjalanan hidup bukan perlombaan melawan orang lain.
Ia adalah perjalanan untuk berdamai dengan diri sendiri.
Dari tempat saya duduk, kabut semakin tebal.
Candi perlahan kehilangan ketajaman bentuknya. Batu-batu itu seperti kembali masuk ke dalam rahasia alam.
Saya terdiam.
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika melihat benda yang berusia ratusan tahun berdiri di hadapan kita. Perasaan itu bukan sekadar kagum. Ada semacam kesadaran bahwa kehidupan manusia hanyalah satu titik kecil di antara rentang waktu yang begitu panjang.
Kita datang.
Kita tumbuh.
Kita mencintai.
Kita kecewa.
Kita kehilangan.
Kita membangun.
Kita meruntuhkan.
Lalu pada akhirnya kita pergi.
Namun bukan berarti hidup menjadi sia-sia.
Justru karena waktu terbatas, setiap langkah menjadi berharga.
Barangkali manusia tidak dituntut untuk menjadi abadi seperti batu. Kita hanya diminta meninggalkan sesuatu yang baik selama masih diberi kesempatan untuk hidup.
Sebuah kebaikan kecil.
Sebuah ilmu.
Sebuah karya.
Sebuah kenangan.
Atau bahkan sekadar hati yang pernah membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Dieng mengajarkan bahwa keheningan bukan berarti ketiadaan suara.
Kadang-kadang justru dalam diam, sesuatu berbicara lebih dalam.
Batu-batu itu tidak berteriak tentang kejayaannya. Mereka tidak meminta dipuji. Mereka tidak menjelaskan berapa lama telah bertahan.
Mereka hanya berdiri.
Dan dari sikap diam itulah lahir sebuah refleksi: barangkali keteguhan hidup bukan tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kemampuan untuk tetap menemukan alasan berdiri setelah berkali-kali mengalami keruntuhan.
Manusia boleh retak.
Manusia boleh lelah.
Manusia boleh kehilangan arah.
Tetapi selama masih ada kesediaan untuk melangkah, perjalanan belum selesai.
Seperti candi yang pernah terlupakan tetapi kemudian kembali dirawat, kehidupan pun memiliki cara sendiri untuk memulihkan sesuatu yang kita kira telah berakhir.
Tidak selalu seperti yang kita inginkan.
Tidak selalu sesuai dengan rencana.
Tetapi mungkin justru di sanalah rahasia kehidupan bekerja.
Hari mulai beranjak petang.
Kabut menyelimuti candi semakin rapat. Angin dingin mengusap wajah. Saya berdiri dan menoleh sekali lagi.
Batu itu masih di sana.
Diam.
Tegak.
Tua.
Namun tidak kalah oleh waktu.
Saya kemudian menyadari: yang membuat candi terasa abadi bukan semata-mata karena batu-batunya mampu bertahan berabad-abad. Keabadian itu lahir dari cerita yang terus dibaca oleh generasi yang datang setelahnya.
Begitu pula manusia.
Kita mungkin tidak akan hidup selamanya. Nama kita mungkin suatu hari hilang dari ingatan. Foto-foto kita akan menguning, rumah-rumah berubah, dan generasi baru datang menggantikan kita.
Tetapi kebaikan yang pernah kita tanam dapat berjalan lebih panjang daripada usia tubuh.
Maka sebelum meninggalkan Dieng, saya membawa pulang satu kesimpulan sederhana dari batu-batu tua itu:
Hidup tidak meminta kita menjadi manusia yang tidak pernah retak. Hidup hanya meminta kita tetap tegak, meski pernah berkali-kali dihantam waktu.
Sebab pada akhirnya, yang membuat seseorang berharga bukan berapa lama ia hidup, melainkan apa yang ia tinggalkan setelah perjalanan itu selesai.
Dan mungkin, seperti candi yang diam-diam menyimpan gema abad, setiap manusia pun sesungguhnya sedang menulis prasastinya sendiri—bukan pada batu, melainkan pada hati orang-orang yang pernah ditemuinya.

