Oleh : Leona R
Barangkali sawah-sawah kecil di pinggiran kota ini bukan lagi soal apakah akan hilang, melainkan kapan akan hilang.
LESINDO.COM – Di tengah rumah-rumah yang semakin rapat, masih tersisa beberapa petak sawah. Tanamannya menghijau, kemudian menguning ketika musim panen tiba. Dari kejauhan, hamparan itu seperti jeda di antara bangunan-bangunan yang terus tumbuh.
Pagi itu, beberapa perempuan yang usianya tak lagi muda masih bekerja di sana. Kaki mereka menapak lumpur, tangan mereka menanam dan merawat padi. Tidak banyak yang berubah dari cara mereka bekerja. Tanah, air, bibit dan tenaga tubuh masih menjadi bagian dari kehidupan.
Tetapi dunia di sekeliling mereka telah berubah.
Di balik pematang, rumah-rumah berdiri semakin dekat. Jalan semakin ramai. Tanah kosong semakin sulit ditemukan. Sawah yang dahulu mungkin membentang luas kini tinggal beberapa petak, terjepit di antara permukiman.
Ia seperti ruang yang sedang menunggu giliran.
Tanah pertanian yang subur di pinggiran kota memiliki nilai ekonomi yang berbeda ketika kota terus berkembang. Sawah dapat berubah menjadi rumah, pertokoan, gudang atau perumahan. Prosesnya tidak selalu terasa cepat. Satu bidang berpindah tangan, kemudian bidang lainnya.
Sampai suatu ketika, tanaman padi tidak lagi terlihat.
Bagi generasi muda, bertani pun semakin sulit menjadi pilihan profesi. Bukan karena mereka tidak mencintai tanah, tetapi karena kehidupan menuntut kepastian. Bertani membutuhkan kesabaran panjang, sementara hasilnya tidak selalu sebanding dengan biaya produksi dan tenaga yang dikeluarkan.
Maka anak-anak muda memilih pekerjaan lain.
Sawah akhirnya lebih banyak bertahan bersama mereka yang sejak kecil telah mengenal bau tanah basah dan lumpur pematang.
Di tengah pekerjaan, para perempuan itu sesekali berhenti. Mereka duduk di pinggir sawah, membuka makanan kecil yang dibawa dari rumah. Teh panas dituangkan ke gelas.
Percakapan kecil mengalir.
Mungkin tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang harga kebutuhan sehari-hari. Atau sekadar cerita ringan untuk mengusir lelah.
Tidak ada yang istimewa dari adegan itu.
Namun beberapa tahun atau puluhan tahun mendatang, pemandangan semacam ini mungkin justru menjadi sesuatu yang istimewa.
Sebab pertanian juga sedang memasuki zaman yang berbeda.
Mesin perlahan mengambil pekerjaan yang dahulu dilakukan tangan manusia. Membajak tanah, menanam, memanen hingga mengangkut hasil pertanian dapat dilakukan dengan peralatan yang semakin modern. Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat dan efisien.
Tetapi perubahan tidak pernah hanya membawa satu hal.
Ada yang menjadi lebih mudah, tetapi ada pula yang perlahan hilang.
Mungkin kelak anak-anak tidak lagi melihat perempuan-perempuan tua bekerja di sawah. Mereka tidak lagi melihat kaki berlumpur berjalan di atas pematang. Tidak lagi mendengar suara percakapan dari tengah persawahan pada pagi hari.
Bahkan mungkin mereka tidak tahu bahwa di tempat rumah mereka berdiri sekarang, dahulu pernah tumbuh padi.
Begitulah kota berkembang.
Ia tidak selalu menghapus masa lalu dengan suara gaduh. Kadang cukup dengan satu bangunan baru, kemudian bangunan berikutnya, lalu jalan yang diperlebar. Sedikit demi sedikit, warna hijau menghilang dari pinggiran kota.
Yang tersisa adalah beton, aspal dan ingatan.
Maka para perempuan yang hari ini masih duduk di pematang sambil menikmati teh panas mungkin sebenarnya sedang menjalani sebuah adegan terakhir—bukan karena mereka tahu bahwa sawah itu akan hilang, tetapi karena perubahan zaman memang tidak pernah meminta izin kepada siapa pun.
Hari ini mereka masih menanam.
Besok mungkin masih ada yang memanen.
Tetapi suatu hari nanti, boleh jadi orang hanya akan mengenang bahwa di tempat itu pernah ada sawah, pernah ada tanaman padi yang menghijau, pernah ada perempuan-perempuan sederhana yang bekerja dengan tangan mereka sendiri.
Dan ketika semua itu benar-benar hilang, barangkali yang paling mahal bukan lagi harga tanahnya.
Melainkan kenangan tentang kehidupan yang pernah tumbuh di atasnya.

