LESINDO.COM – Dalam kearifan Jawa, batin manusia ibarat kebun. Apa yang ditanam, itulah yang akan dipanen. Pikiran yang diulang-ulang, disadari atau tidak, akan menjelma menjadi laku. Dari laku, ia menjelma kebiasaan. Dan dari kebiasaan, perlahan terbentuk watak—yang kemudian menentukan arah hidup seseorang. Maka hidup bukan semata perkara apa yang datang dari luar, melainkan bagaimana batin memberi makna dan tanggapan.
Orang Jawa dahulu sering mengingatkan dengan halus: “eling lan waspada.” Eling, berarti sadar akan isi batin sendiri. Waspada, berarti berhati-hati dalam merawatnya. Sebab pikiran yang dibiarkan liar ibarat kebun yang tak terurus—ditumbuhi ilalang, penuh keruwetan, dan kehilangan arah. Sebaliknya, pikiran yang dijaga dengan kesadaran akan melahirkan ketenangan yang tidak gaduh, kekuatan yang tidak perlu ditunjukkan, serta kebijaksanaan yang tidak tergesa-gesa.
Di tengah kehidupan yang semakin riuh, manusia sering sibuk merawat yang tampak, tetapi lalai menjaga yang tersembunyi. Padahal, segala yang tampak hanyalah bayangan dari apa yang telah lama tumbuh di dalam diri. Kemarahan, kegelisahan, bahkan kebahagiaan—semuanya berakar dari pikiran yang terus dipelihara hari demi hari.
Maka, merawat pikiran bukanlah perkara kecil. Ia adalah laku sepi yang hasilnya terasa panjang. Ketika seseorang memilih untuk mengisi batinnya dengan hal-hal yang jernih, pelan-pelan hidupnya pun akan mengikuti arah kejernihan itu. Tidak selalu mudah, tidak selalu cepat, tetapi pasti.
Seperti petani yang tekun menanam tanpa tergesa memanen, demikian pula manusia yang bijak. Ia tidak sibuk mengejar hasil, melainkan setia menjaga apa yang ia tanam dalam pikirannya. Sebab ia tahu, dari pikiran yang terjaga, akan lahir kehidupan yang luwih tentrem—lebih damai, luwih kuwat—lebih kuat, dan luwih wicaksana—lebih bijaksana.(Amy)

