LESINDO.COM – Di tengah dunia yang semakin riuh oleh ukuran-ukuran lahiriah—angka di rekening, jabatan di kartu nama, hingga sorotan yang datang dan pergi—kearifan Jawa justru mengajukan pertanyaan yang sunyi: apa sebenarnya yang membuat manusia layak dihormati?
Bagi orang Jawa, kehormatan tidak pernah benar-benar bersemayam pada apa yang tampak di permukaan. Ia tumbuh dari dalam, perlahan, seperti akar yang tak terlihat namun menopang pohon agar tetap tegak menghadapi musim apa pun. Tiga hal menjadi penyangga itu: akal, agami, dan budi pekerti.
Akal, dalam pandangan ini, bukan sekadar alat berpikir, melainkan mahkota yang tak kasatmata. Ia melekat pada manusia sebagai pembeda sekaligus penuntun. Namun, mahkota itu tidak bersinar dengan sendirinya. Ia perlu diasah oleh kawruh dan dipandu oleh kebijaksanaan. Orang yang berakal bukan hanya yang cerdas berbicara, tetapi yang mampu menimbang—empan papan—kapan harus melangkah, kapan harus menahan diri. Dalam diamnya, ia memancarkan terang.
Di sisi lain, ada agami—yang oleh kearifan Jawa diposisikan sebagai derajat. Bukan dalam arti simbol atau identitas, melainkan sebagai laku yang menghidupkan hubungan manusia dengan Gusti. Spiritualitas di sini tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam sikap sehari-hari. Ia hadir dalam kerendahan hati, dalam kesediaan untuk tidak merasa paling benar. Seperti padi yang menguning, semakin berisi justru semakin merunduk. Di sanalah derajat itu diuji: bukan pada seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi pada seberapa dalam ia mampu menundukkan diri.
Namun, semua itu pada akhirnya bermuara pada budi pekerti—kautaman yang menjadi wajah nyata dari apa yang tersembunyi di dalam jiwa. Dalam tradisi Jawa, kehormatan tidak pernah jauh dari laku. Ia tampak dari cara seseorang berbicara, dari pilihan kata yang keluar dari lathi, hingga dari sikap tubuh yang mencerminkan rasa hormat pada sesama. Pepatah lama mengingatkan, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.” Sebuah pengingat bahwa kata-kata dapat meninggikan atau merendahkan, sebagaimana perilaku dapat memuliakan atau mencoreng diri sendiri.
Ketiganya—akal, agami, dan budi—bukanlah bagian yang berdiri sendiri. Mereka saling menghidupi, membentuk lingkaran yang utuh. Apa yang dipikirkan akan memengaruhi apa yang diyakini, dan apa yang diyakini akan tampak dalam tindakan. Dalam bahasa yang lebih puitis, orang Jawa menyebutnya sebagai “ngunduh wohing pakarti”: memetik buah dari apa yang ditanam dalam batin.
Di tengah zaman yang serba cepat ini, ketika pengakuan sering kali lebih dihargai daripada kedalaman, konsep tersebut terasa seperti jeda yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa kemuliaan tidak dibangun dalam sekejap, melainkan melalui ketekunan menjaga yang tak terlihat—pikiran yang jernih, iman yang teguh, dan budi yang halus.
Mungkin, pada akhirnya, menjadi manusia yang “luhur wekasane” bukanlah tentang mencapai puncak tertentu, melainkan tentang setia merawat tiga hal itu dalam keseharian yang sederhana. Sebab di sanalah, dalam hal-hal yang nyaris tak terdengar, kehormatan sejati diam-diam tumbuh dan menemukan bentuknya.(Lia)

