LESINDO.COM – Ada satu fase dalam hidup manusia yang kerap luput disadari: ketika langkah terasa sibuk, tetapi arah perlahan hilang makna. Sejak lahir, manusia membawa fitrah—sebuah kesucian yang bening, seperti embun pagi yang belum tersentuh debu dunia. Namun waktu, dengan segala dinamika dan godaannya, pelan-pelan menguji kejernihan itu.
Sebagian orang terseret arus tanpa sadar. Dunia yang gemerlap menawarkan banyak hal: ambisi, pujian, kepemilikan, dan pengakuan. Semua tampak indah di permukaan, tetapi sering kali meninggalkan ruang hampa di dalam hati. Di titik itulah manusia mulai lupa, bahwa sejatinya hidup ini bukan sekadar perjalanan menjauh, melainkan perjalanan pulang.
Pulang kepada asal. Pulang kepada Yang Maha Menentukan.
Namun, pulang bukan sekadar peristiwa, melainkan keadaan jiwa.
Di sanalah makna ridlo pada takdir menemukan kedalamannya. Ridlo bukan berarti pasrah tanpa usaha, bukan pula menyerah pada keadaan. Ridlo adalah kesadaran yang matang bahwa setiap garis hidup—baik yang terang maupun yang gelap—telah ditenun dengan hikmah yang tak selalu bisa segera dipahami. Ia adalah sikap menerima dengan lapang, sambil tetap menjaga laku dan ikhtiar.
Orang yang ridlo tidak selalu hidup tanpa luka. Ia tetap merasakan kehilangan, kegagalan, dan keterbatasan. Tetapi ia tidak membiarkan luka itu mengeruhkan hatinya. Ia memilih untuk memaknai, bukan menyalahkan. Ia belajar melihat bahwa di balik setiap peristiwa, ada panggilan halus untuk kembali—kembali memperbaiki diri, kembali mendekat, kembali menyucikan hati.
Dalam tradisi batin, jalan ini sering disebut sebagai riyadhah—latihan jiwa. Bukan latihan yang tampak di permukaan, tetapi pergulatan sunyi di dalam diri: menundukkan ego, meluruskan niat, dan menjaga hati dari kotoran yang tak kasatmata. Ini adalah perjalanan yang tidak instan, tidak pula mudah. Namun di situlah nilai sejatinya.
Sebab hati yang bersih bukan terbentuk dari kenyamanan, melainkan dari kesadaran yang terus diasah.
Ada ketenangan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berdamai dengan takdir. Bukan karena hidup mereka tanpa masalah, tetapi karena mereka tidak lagi memusuhi kenyataan. Mereka memahami bahwa apa yang datang tidak selalu bisa dipilih, tetapi bagaimana menyikapinya adalah ruang kebebasan yang Tuhan titipkan.
Dan di situlah kebahagiaan yang hakiki tumbuh—bukan dari apa yang dimiliki, tetapi dari hati yang mampu menerima.
Tentang waktu pulang, tak seorang pun tahu. Ia tetap menjadi rahasia Ilahi yang tak tersingkap oleh logika manusia. Kapan, di mana, dan dalam keadaan apa—semuanya berada di luar jangkauan. Namun satu hal yang bisa dipersiapkan adalah bagaimana kondisi hati saat panggilan itu datang.
Apakah ia ringan karena bersih, atau berat karena penuh noda.
Maka selama waktu masih diberi, ada satu pekerjaan yang tak boleh ditunda: membersihkan hati. Bukan menunggu sempurna, tetapi terus berproses. Bukan menunggu nanti, tetapi memulai hari ini.
Sebab pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling siap.
Dan ridlo pada takdir adalah cahaya yang akan menuntun langkah pulang—pelan, tenang, namun pasti—menuju keabadian yang dirindukan.(Mac)

