Oleh : Raihan HM
LESINDO.COM – Di negeri yang masih bergulat dengan kemiskinan, ketimpangan, dan berbagai persoalan sosial, setiap program yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat sesungguhnya adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Terlepas dari apakah sebuah program memiliki muatan politik atau tidak, selama manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas, maka program tersebut layak didukung.
Rakyat pada dasarnya tidak terlalu sibuk memikirkan siapa yang mendapat keuntungan politik. Mereka lebih peduli apakah anak-anak bisa makan dengan layak, apakah pendidikan semakin mudah dijangkau, apakah kesehatan semakin terjamin, dan apakah kehidupan sehari-hari menjadi sedikit lebih baik.
Karena itu, ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digagas sebagai salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto, banyak harapan yang disematkan di dalamnya. Program ini bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang masa depan generasi muda Indonesia. Tentang anak-anak yang datang ke sekolah dengan perut kenyang dan kesempatan belajar yang lebih baik.
Namun harapan sering kali diuji oleh kenyataan.
Publik dikejutkan dengan kabar penetapan tersangka terhadap Dadan Hindayana, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), bersama dua mantan wakil kepala lembaga tersebut. Kejaksaan Agung menduga adanya praktik korupsi yang terjadi di lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas gizi masyarakat.
Ironisnya, kabar pemeriksaan itu muncul tak lama setelah Dadan menunaikan ibadah haji. Sebuah kontras yang membuat banyak orang menggelengkan kepala. Di satu sisi ada perjalanan spiritual yang seharusnya memperkuat nilai kejujuran dan tanggung jawab, di sisi lain muncul dugaan penyalahgunaan amanah yang begitu besar.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya tentang individu, melainkan tentang sistem.
Mengapa kasus korupsi terus berulang? Mengapa begitu banyak pejabat yang telah melihat pendahulunya tersandung kasus serupa, namun tetap memilih jalan yang sama?
Apakah persoalannya terletak pada mental individu yang rapuh ketika berhadapan dengan kekuasaan dan uang? Ataukah ada sistem yang belum mampu menciptakan pengawasan yang kuat sehingga celah-celah penyimpangan terus terbuka?
Mungkin jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.
Manusia yang lemah bisa merusak sistem yang baik. Namun sistem yang buruk juga mampu menyeret manusia yang semula baik menjadi bagian dari lingkaran penyimpangan. Ketika pengawasan lemah, ketika budaya suap dianggap lumrah, ketika hukuman tidak memberikan efek jera, maka korupsi seperti menemukan tanah yang subur untuk tumbuh.
Yang lebih memprihatinkan, publik sering kali menyaksikan drama yang sama berulang kali. Nama pelaku berganti, lembaga berganti, modus berganti, tetapi ceritanya nyaris serupa. Penangkapan, konferensi pers, rompi tahanan, lalu perlahan menghilang dari perhatian publik hingga muncul kasus berikutnya.
Sementara itu, rakyat hanya bisa mengelus dada.
Mereka membayar pajak, bekerja keras setiap hari, berharap uang negara digunakan untuk kepentingan bersama. Mereka ingin melihat pemimpin yang benar-benar menjalankan amanah, bukan memanfaatkan jabatan sebagai kesempatan memperkaya diri.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan sekadar hilangnya uang negara. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan terkikis, rakyat mulai ragu pada institusi, pada program pemerintah, bahkan pada harapan bahwa perubahan bisa benar-benar terjadi.
Padahal Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi bangsa yang makmur. Sumber daya alam melimpah, penduduk produktif, dan potensi ekonomi yang besar. Yang sering kali kurang hanyalah satu hal yang tampak sederhana tetapi sangat mahal nilainya: amanah.
Sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak runtuh karena kekurangan kekayaan, melainkan karena kehilangan integritas. Sebaliknya, bangsa yang dipimpin oleh orang-orang yang menjaga amanah mampu bangkit meski dengan sumber daya yang terbatas.
Barangkali inilah refleksi yang perlu terus diingat. Jabatan pada akhirnya hanya sementara. Kekuasaan juga tidak abadi. Yang akan dikenang bukan seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan bagaimana ia menggunakan kepercayaan yang dititipkan kepadanya.
Karena ketika amanah dijaga, program sebesar apa pun akan menjadi berkah bagi rakyat. Namun ketika amanah dikhianati, harapan yang dibangun dengan susah payah bisa runtuh dalam sekejap.

