Oleh: Seorang Kawan Lama
LESINDO.COM – Ada masa ketika hidup terasa begitu sempit, seolah masa depan hanya selebar lorong-lorong kampus di Universitas Gajayana. Di sanalah kita berjalan—bukan hanya dengan langkah kaki, tetapi dengan beban yang tak selalu bisa kita ceritakan.
Pagi-pagi kita datang bukan karena sudah siap menghadapi hari, melainkan karena tidak punya pilihan lain selain tetap berjalan. Sepatu yang kita pakai—itu-itu saja—kadang sudah tipis di telapak, kadang basah oleh hujan yang tak sempat kita hindari. Tapi kita tetap memakainya, sebab mengganti bukan perkara mudah. Ada kebutuhan lain yang lebih mendesak daripada sekadar terlihat layak.
Kita hidup dari jeda ke jeda kiriman. Dari satu harapan ke harapan berikutnya. Uang saku bukan sesuatu yang pasti, melainkan sesuatu yang dinanti dengan cemas. Ketika tak kunjung datang, kita belajar menunda lapar. Bukan karena kuat, tapi karena terbiasa.
Warung depan kampus menjadi saksi yang paling setia. Di sana, nama kita bukan sekadar panggilan—ia tercatat rapi dalam buku utang yang makin hari makin tebal. Kita hafal betul cara tersenyum sambil berkata, “Nanti saya bayar, Bu.” Dan anehnya, di balik semua itu, kita tidak merasa hina. Justru di situlah harga diri diuji: bertahan tanpa kehilangan harapan.
Malam-malam panjang kita isi bukan hanya dengan membaca buku, tapi juga menenangkan pikiran yang sering kali berisik. Ada kecemasan tentang biaya kuliah yang belum lunas, tentang tugas yang menumpuk, tentang masa depan yang terasa seperti kabut. Kita tidak selalu kuat. Ada hari-hari ketika kita ingin menyerah, ingin pulang, ingin berhenti berpura-pura baik-baik saja.
Tapi entah kenapa, selalu ada alasan untuk bertahan.
Mungkin karena kita melihat satu sama lain.
Di antara kita, tak ada yang benar-benar utuh. Semua membawa luka. Semua menyimpan cerita tentang keterbatasan. Namun justru di situlah kita menemukan kekuatan yang tidak diajarkan di ruang kelas: bahwa kebersamaan bisa menjadi penyangga ketika hidup terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri.
Kita berbagi lebih dari sekadar makanan. Kita berbagi keyakinan. Ketika satu orang hampir jatuh, yang lain diam-diam menguatkan. Tidak dengan nasihat besar, tapi dengan kehadiran yang sederhana: duduk bersama, tertawa tanpa alasan, atau sekadar berkata, “Kita pasti bisa.”
Dan kita memang bisa.
Bukan karena jalan menjadi mudah, tapi karena kita menolak untuk berhenti.
Hari ini, ketika hidup telah membawa kita ke tempat yang berbeda, mungkin banyak hal telah berubah. Kita tak lagi mencatat utang di warung. Sepatu kita mungkin sudah lebih layak. Meja kerja kita mungkin lebih nyaman dari bangku kayu yang dulu kita tempati.
Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang: rasa itu.
Rasa lapar yang pernah kita tahan. Rasa malu yang pernah kita telan. Rasa takut yang pernah kita lawan diam-diam.
Semua itu kini menjelma menjadi sesuatu yang lebih tenang: keteguhan.
Jika hari ini kita mampu berdiri, itu bukan semata karena kecerdasan atau keberuntungan. Itu karena kita pernah jatuh dalam diam dan memilih untuk bangkit tanpa banyak suara.
Dan ketika suatu hari kita kembali bertemu—entah di sudut kota atau dalam sebuah perjumpaan yang sederhana—kita tidak sedang merayakan kesuksesan. Kita sedang menghormati perjalanan.
Perjalanan yang tidak mudah.
Perjalanan yang nyaris mematahkan kita.
Namun pada akhirnya, justru membentuk kita.
Selamat untuk kita, kawan.
Untuk setiap air mata yang tak pernah sempat jatuh, untuk setiap lapar yang kita sembunyikan di balik tawa.
Kita mungkin lahir dari keterbatasan,
tapi kita tidak pernah berhenti memperjuangkan kemungkinan.

