spot_img
BerandaJelajahPerjalanan Pertama Menjadi Perjalanan Terakhir

Perjalanan Pertama Menjadi Perjalanan Terakhir

Seorang anak yang sejak kecil berusaha tidak merepotkan orang lain, pada akhirnya justru meninggalkan orang-orang yang mencintainya dengan kesedihan yang tidak sederhana.

LESINDO.COM – Usianya baru 18 tahun. Maolana Purwo Wibowo seharusnya masih punya banyak waktu untuk mengenal dunia. Mengenal lebih banyak jalan, mencoba berbagai pekerjaan, bercanda bersama teman sebaya, atau mungkin sesekali pulang membawa cerita tentang perjalanan pertamanya ke tempat yang jauh.

Namun hidup memilih jalan yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, Maolana memberanikan diri naik kapal laut. Tujuannya Kalimantan. Ia hendak merantau, mencari nafkah, dan menjalani hidup dengan caranya sendiri.

Pelayaran itu ternyata menjadi pelayaran pertamanya sekaligus yang terakhir.

Di sepanjang perjalanan, Maolana mengalami mabuk laut hebat. Tubuhnya yang mungkin belum terbiasa dengan gelombang dan jauhnya perjalanan harus berhadapan dengan laut yang tak selalu ramah.

Kemudian kabar duka itu datang.

Maolana telah pergi.

Jenazahnya kemudian teridentifikasi sebagai salah satu korban Kapal Virgo.

Tetapi ada sesuatu yang ditemukan petugas dari tubuhnya.

Sebuah ponsel.

Sebuah dompet.

Dan uang tunai yang tersisa hanya Rp13.000.

Bukan jumlah yang berarti bagi kebanyakan orang. Tetapi di saku seorang anak berusia 18 tahun, angka itu seperti potongan kecil dari perjalanan hidup yang belum sempat diselesaikannya.

Di dalam dompet itu juga terdapat foto KTP almarhumah neneknya.

Selembar foto yang mungkin bagi orang lain hanyalah benda biasa. Tetapi bagi Maolana, mungkin di sanalah tersimpan wajah seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Ia pulang dengan membawa benda-benda sederhana itu.

Bukan membawa hasil perantauan.

Bukan membawa cerita tentang Kalimantan.

Bukan pula membawa uang untuk diberikan kepada keluarga.

Ia pulang sebagai jenazah.

Sejak SMP, Maolana sudah terbiasa bekerja.

Pekerjaan serabutan dilakukannya. Apa saja yang bisa dikerjakan, ia jalani. Hidup membuatnya belajar bahwa tidak semua kebutuhan harus dibebankan kepada orang lain.

Kedua orang tuanya telah berpisah.

Ia kemudian tinggal bersama sang kakek.

Di rumah sederhana itulah sebagian perjalanan hidupnya berlangsung. Sang kakek menjadi sosok yang merawat dan membersamainya ketika banyak hal dalam kehidupan Maolana tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Barangkali karena itulah ia tumbuh menjadi anak yang tidak banyak menuntut.

Tidak ingin merepotkan.

Bahkan ketika hendak berangkat merantau, ibunya sempat memberikan uang Rp300 ribu.

Maolana menolaknya.

Bukan karena tidak membutuhkan uang.

Barangkali justru karena ia tahu uang itu tidak mudah didapatkan.

Ia hanya tidak ingin menambah beban orang tuanya.

Kini, uang Rp300 ribu yang dahulu ditolaknya itu tinggal cerita.

Sementara di saku terakhirnya hanya ditemukan Rp13.000.

Ada ironi yang begitu sunyi di sana.

Seorang anak yang sejak kecil berusaha tidak merepotkan orang lain, pada akhirnya justru meninggalkan orang-orang yang mencintainya dengan kesedihan yang tidak sederhana.

Di usia 18 tahun, banyak anak masih sibuk dengan sekolah, permainan, pertemanan, atau merencanakan apa yang ingin dilakukan setelah dewasa.

Maolana memilih bekerja.

Ia seperti dipaksa kehidupan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.

Ia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang memberi. Bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang berusaha.

Mungkin ia ingin membuktikan kepada keluarganya bahwa dirinya bisa berdiri sendiri.

Mungkin ia ingin pulang dari Kalimantan suatu hari nanti dengan membawa sesuatu.

Atau mungkin ia hanya ingin memiliki penghasilan sendiri.

Tak ada lagi yang bisa ditanyakan kepadanya.

Laut telah membawa pergi semua jawaban.

Yang tersisa hanyalah sebuah ponsel, dompet, foto KTP neneknya, dan uang Rp13.000.

Juga seorang kakek yang kini harus menerima kenyataan bahwa anak yang selama ini dirawatnya telah pergi lebih dahulu.

Kadang-kadang manusia terlalu sibuk menghitung nilai sebuah kehilangan dengan uang.

Padahal kehilangan seorang anak tidak pernah memiliki harga.

Rp13.000 mungkin hanya cukup untuk beberapa kebutuhan kecil.

Tetapi di balik uang sejumlah itu ada perjalanan seorang anak yang berangkat membawa keberanian.

Ada seorang kakek yang menunggu kepulangannya.

Ada seorang ibu yang pernah menyodorkan Rp300 ribu, tetapi ditolak dengan alasan tidak ingin merepotkan.

Dan ada sebuah rumah yang mungkin kini terasa jauh lebih sunyi.

Maolana datang ke dunia tanpa membawa apa-apa.

Ia pergi pun hanya membawa benda-benda kecil yang ditemukan dari tubuhnya.

Namun barangkali yang paling besar yang ia tinggalkan bukanlah benda.

Melainkan kenangan.

Tentang seorang anak muda yang sejak SMP memilih bekerja, belajar mandiri, dan berusaha tidak menjadi beban bagi siapa pun.

Kini perjalanan itu telah selesai.

Bukan di tanah rantau yang hendak ditujunya, melainkan di tengah perjalanan laut.

Selamat jalan, Maolana Purwo Wibowo.

Semoga perjalanan terakhirmu menjadi jalan menuju tempat yang lebih tenang.

Dan semoga mereka yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menerima bahwa ada perjalanan hidup yang tidak pernah sampai pada tujuan, tetapi tetap meninggalkan jejak yang dalam di hati orang-orang yang mencintainya. (Tmo)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments