LESINDO.COM – Ada kalanya seseorang mengangguk, meski hatinya berkata tidak. Ada kalanya mulut mengatakan, “Siap,” sementara di dalam dada terdengar suara kecil yang berbisik, “Saya sebenarnya tidak setuju.”
Bukan karena ia tidak memiliki keberanian. Bukan pula karena ia sejak awal ingin menjadi manusia yang berpura-pura.
Barangkali ia hanya sedang belajar bertahan.
Di sebuah ruangan kantor, seorang bawahan tersenyum ketika atasannya menyampaikan keputusan yang sebenarnya tidak ia sukai. Ia mengangguk, mencatat, lalu menjawab pendek, “Baik, Pak.”
Setelah keluar ruangan, ia mungkin mengeluh kepada teman dekatnya.
“Kalau menurut saya, keputusan itu kurang tepat.”
Tetapi kalimat itu tidak pernah keluar di dalam ruangan tadi.
Di situlah persoalannya menjadi rumit.
Mana yang disebut kemunafikan dan mana yang disebut kemampuan membaca keadaan?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika membaca kembali pemikiran Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia, yang pertama kali disampaikan pada 1977. Hampir setengah abad berlalu, tetapi beberapa kritiknya terasa seperti mengetuk pintu kehidupan kita hari ini.
“Ciri utama manusia Indonesia adalah munafik.”
Kalimat itu keras.
Bahkan mungkin terlalu keras jika dibaca hanya sebagai tuduhan terhadap watak manusia Indonesia.
Namun, jika dibaca sebagai kritik terhadap lingkungan sosial yang membentuk manusia, kalimat itu seperti cermin.
Sebab kadang seseorang tidak menjadi munafik karena ingin menipu orang lain.
Ia hanya terlalu lama hidup dalam keadaan yang membuat kejujuran terasa mahal.
Ketika “iya” menjadi jalan paling aman
Birokrasi memiliki bahasa sendiri.
Ada surat yang harus melewati meja tertentu. Ada tanda tangan yang harus menunggu. Ada perintah yang sebaiknya tidak diperdebatkan terlalu panjang. Ada rapat yang menghasilkan keputusan, meski sebagian peserta sebenarnya tidak sepakat.
Maka lahirlah kalimat-kalimat yang terdengar sederhana:
“Ya, ikuti saja.”
“Jangan diperpanjang.”
“Yang penting selesai.”
“Nanti malah ribet.”
“Sudahlah, mengalir saja.”
Kalimat-kalimat itu barangkali tidak selalu salah.
Dalam kehidupan bersama, manusia memang membutuhkan kompromi. Tidak semua perbedaan harus menjadi pertengkaran. Tidak semua ketidaksetujuan harus diumumkan.
Tetapi ada saat ketika kompromi perlahan berubah menjadi kebiasaan menanggalkan suara hati.
Di depan mengatakan yes.
Di belakang menyimpan no.
Bahkan dalam sebuah mobilisasi massa, seseorang bisa saja diminta memilih A, B, atau C. Di permukaan ia mengikuti arus. Ia mengangkat tangan, mengenakan atribut, hadir dalam kegiatan, atau memberikan dukungan.
Namun setelah semuanya selesai, pilihannya mungkin berbeda.
Barangkali bukan karena ia tidak memiliki pendirian.
Ia hanya tahu bahwa dalam sistem tertentu, berbeda pendapat memiliki konsekuensi.
Ada ketakutan yang tidak pernah tertulis
Tidak semua tekanan datang dalam bentuk ancaman.
Sebagian hadir dengan cara yang sangat halus.
Takut dianggap tidak loyal.
Takut hubungan dengan atasan menjadi renggang.
Takut urusan administrasi menjadi lebih panjang.
Takut dianggap pembangkang.
Takut kesempatan berikutnya tidak lagi diberikan.
Takut menjadi orang yang berbeda sendiri.
Akhirnya seseorang belajar satu keterampilan yang tidak pernah diajarkan di sekolah: membaca situasi.
Ia tahu kapan harus berbicara.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu kapan harus tersenyum.
Ia tahu kapan harus mengangguk.
Dan tanpa sadar, keterampilan membaca keadaan itu kadang berubah menjadi keterampilan memakai topeng.
Topeng yang mula-mula dipakai untuk satu keadaan.
Lama-lama menjadi kebiasaan.
Kemudian menjadi karakter.
Ewuh-pakewuh dan meja birokrasi
Dalam masyarakat yang menjunjung harmoni, mengatakan sesuatu secara terus terang tidak selalu dianggap sebagai keberanian.
Kadang justru dianggap tidak tahu unggah-ungguh.
Kita mengenal ewuh-pakewuh—perasaan sungkan yang membuat seseorang memilih menahan kata daripada melukai perasaan orang lain.
Nilai itu pada satu sisi memiliki keindahan.
Ia mengajarkan tata krama, penghormatan, dan kehati-hatian dalam berbicara.
Tetapi ketika ewuh-pakewuh bertemu dengan relasi kuasa yang terlalu timpang, ia bisa menjadi persoalan.
Bawahan sungkan kepada atasan.
Pegawai sungkan kepada pejabat.
Anak buah sungkan mengoreksi keputusan pimpinan.
Akhirnya rapat berlangsung tenang.
Semua tampak sepakat.
Tidak ada suara keras.
Tidak ada perdebatan.
Tetapi keputusan yang lahir dari ruangan itu belum tentu mencerminkan suara hati semua orang yang hadir.
Barangkali inilah ironi yang sering tidak kita sadari.
Kita berhasil menciptakan suasana yang tampak harmonis, tetapi belum tentu berhasil menciptakan ruang yang jujur.

