spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Di Balik Jeruji, Ada yang Dipenjara oleh Uang

Part 1 : Di Balik Jeruji, Ada yang Dipenjara oleh Uang

Hukuman yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran dapat berubah menjadi cermin dari ketimpangan yang juga terjadi di luar penjara.

Oleh : Arunika M

Di balik pintu besi, semua orang seharusnya sama.

LESINDO.COM – Sama-sama kehilangan kebebasan. Sama-sama harus menjalani konsekuensi dari perbuatannya. Sama-sama mempunyai waktu untuk menengok kembali jalan hidup yang pernah ditempuh.

Tetapi kehidupan kadang memiliki cara sendiri untuk membuat kesetaraan itu kembali berjarak.

Ada yang masuk penjara membawa nama besar, jaringan luas dan kemampuan finansial. Ada yang datang hanya membawa pakaian di tubuh dan keluarga yang bahkan untuk menjenguk pun harus menghitung ongkos perjalanan.

Bagi sebagian orang, penjara mungkin tetap memiliki celah untuk menghadirkan kenyamanan.

Bagi yang lain, jeruji hanyalah jeruji.

Di situlah kita menemukan ironi.

Hukuman yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran dapat berubah menjadi cermin dari ketimpangan yang juga terjadi di luar penjara.

Yang memiliki uang mempunyai lebih banyak pilihan.

Yang tidak memiliki apa-apa hanya mempunyai satu pilihan: menerima keadaan.

Cerita semacam itu sebenarnya bukan cerita baru.

Berita datang silih berganti. Kasus terbongkar. Nama disebut. Masyarakat marah. Media memberitakan. Kemudian waktu berjalan.

Muncul berita baru.

Perhatian bergeser.

Kasus lama perlahan tenggelam.

Kita pun kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Barangkali di situlah persoalan yang lebih besar sedang terjadi.

Kita bukan lagi hanya berhadapan dengan pelanggaran hukum, tetapi dengan masyarakat yang perlahan kehilangan rasa terkejut terhadap ketidakadilan.

Sesuatu yang dahulu membuat kita marah, jika terlalu sering terjadi, akhirnya hanya membuat kita mengangkat bahu.

“Memang begitulah.”

Kalimat pendek itu berbahaya.

Sebab dari sanalah pembiaran sering bermula.

Ketika masyarakat mulai percaya bahwa semuanya memang sudah biasa, kesalahan tidak lagi dipandang sebagai kesalahan. Ia berubah menjadi bagian dari sistem kehidupan yang diterima dengan pasrah.

Padahal manusia tidak pernah dilahirkan untuk menjadi terbiasa dengan ketidakadilan.

Penjara sebenarnya bukan hanya tempat untuk menghukum tubuh.

Ia semestinya menjadi tempat seseorang bertemu dengan dirinya sendiri.

Di luar, seseorang dapat bersembunyi di balik jabatan.

Bisa bersembunyi di balik pakaian mahal.

Bisa bersembunyi di balik gelar.

Bisa bersembunyi di balik kekayaan.

Tetapi di dalam kesunyian, seseorang akhirnya berhadapan dengan pertanyaan yang tidak dapat dibeli dengan uang:

Apa yang sebenarnya telah saya lakukan terhadap hidup saya?

Pertanyaan itu mestinya menjadi awal dari pertobatan.

Namun tidak semua orang sampai ke sana.

Ada yang menjalani hukuman hanya sebagai hitungan waktu.

Berapa tahun lagi?

Berapa bulan lagi?

Kapan bebas?

Bukan: apa yang harus saya perbaiki?

Bukan pula: siapa saja yang telah saya rugikan?

Lebih jauh lagi, mungkin tidak pernah terlintas:

Mengapa saya sampai menjadi manusia seperti ini?

Di sinilah penjara yang sesungguhnya.

Sebab seseorang bisa keluar dari penjara, tetapi belum tentu keluar dari keserakahannya.

Bisa bebas dari jeruji, tetapi tetap menjadi tawanan nafsunya.

Bisa kembali ke rumah, tetapi membawa hati yang sama.

Kita sering keliru mengira bahwa orang berpendidikan pasti menjadi manusia yang baik.

Tidak selalu.

Ilmu membuat seseorang tahu.

Tetapi adab membuat seseorang tahu bagaimana menggunakan apa yang diketahuinya.

Orang bisa memiliki gelar panjang, tetapi pendek dalam empati.

Bisa pandai berbicara tentang moral, tetapi gagal menjaga kejujuran.

Bisa memahami aturan, tetapi sibuk mencari celah untuk menghindarinya.

Bisa membaca banyak buku, tetapi tidak mampu membaca penderitaan orang miskin di sekitarnya.

Maka persoalannya bukan lagi apakah seseorang berilmu.

Pertanyaannya:

Untuk apa ilmu itu digunakan?

Jika ilmu hanya menjadi alat untuk memperbesar kekuasaan, ia kehilangan maknanya.

Jika jabatan hanya menjadi jalan memperkaya diri, ia kehilangan kehormatannya.

Jika kekayaan membuat seseorang tidak lagi mampu melihat kesusahan orang lain, kekayaan itu telah berubah menjadi tembok.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments