spot_img
BerandaBudayaPenyesalan di Ujung Kekuasaan

Penyesalan di Ujung Kekuasaan

“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, nanging dalanipun Allah, karsane kang Maha Suci, kudu eling klawan waspada.”

LESINDO.COM – Di ruang sidang yang dingin dan penuh sorot kamera itu, suara Noel Ebenezer terdengar lebih seperti keluhan batin ketimbang pembelaan hukum. Tidak ada lagi gestur keras seorang aktivis jalanan, tidak ada lagi semangat relawan yang dulu lantang membela kekuasaan di layar televisi. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki yang tampak lelah menghadapi akibat dari jalan panjang yang pernah dipilihnya sendiri.

“Saya kan sudah mengaku salah. Kalau misalnya saya menjadi contoh untuk pemberantasan korupsi, hukum mati saja saya,” ujarnya pelan.

Kalimat itu menyisakan ironi besar. Sebab perjalanan hidup Noel selama ini justru sering dipotret sebagai kisah sukses anak jalanan politik: berangkat dari bawah, dari dunia ojek online, menjadi relawan, lalu masuk lingkar kekuasaan. Sebuah lintasan sosial yang bagi banyak orang tampak mustahil, tetapi nyata terjadi di era politik modern Indonesia.

Di negeri ini, relawan politik bukan lagi sekadar kumpulan simpatisan yang bergerak sukarela. Mereka perlahan menjelma menjadi jalur baru menuju kekuasaan. Dukungan politik tidak pernah benar-benar gratis. Di balik baliho, deklarasi, hingga perang opini di media sosial, selalu ada harapan yang ikut menumpang: akses, kedekatan, posisi, atau setidaknya pengaruh.

Noel adalah gambaran paling terang tentang fenomena itu.

Jejak digitalnya mudah ditelusuri. Dari masa mendukung Presiden Joko Widodo hingga kemudian berada dalam orbit politik Prabowo Subianto, wajahnya nyaris tak pernah absen dalam perdebatan publik. Ia tumbuh dari aktivis relawan menjadi figur yang dikenal media. Kariernya melesat cepat. Dari jalanan menuju layar kaca. Dari pengemudi ojek daring menuju kursi kekuasaan.

Namun sejarah kekuasaan selalu menyimpan jebakan yang sama: tidak semua orang siap ketika tiba di puncak.

Pada mulanya, banyak orang datang ke jabatan dengan idealisme. Mereka membawa semangat perubahan, ingin memperbaiki keadaan, ingin membuktikan bahwa orang kecil juga mampu memimpin dengan bersih. Tetapi kekuasaan memiliki cara halus untuk mengubah manusia. Pelan-pelan ia menghadirkan kenyamanan: penghormatan, fasilitas, pelayanan, akses tanpa batas, dan tentu saja uang yang datang dari banyak arah.

Di titik itulah banyak orang mulai goyah.

Bagi mereka yang tumbuh dari kehidupan keras, uang dalam jumlah besar bisa menjadi ujian paling sunyi. Saat masih menjadi pengemudi ojek daring, tambahan penghasilan hanya datang dari kerja lebih lama: menarik penumpang hingga larut malam, menembus hujan, menghadapi jalan macet, dan menahan lelah. Tetapi di lingkar kekuasaan, uang kadang hadir tanpa perlu peluh. Datang melalui relasi, proyek, kedekatan, atau permainan pengaruh.

Godaan itu sering kali lebih kuat daripada idealisme.

Mungkin karena itu, penyesalan Noel terdengar begitu getir. Sebab pada akhirnya, semua kemewahan yang pernah mengelilingi jabatan terasa tidak berarti ketika palu pengadilan mulai diketukkan. Ancaman hukuman penjara membuat banyak orang mendadak rindu pada hidup sederhana yang dulu pernah mereka tinggalkan.

Menjadi bebas ternyata lebih mahal daripada menjadi pejabat.

Dalam kebudayaan Jawa, situasi semacam ini sebenarnya sudah lama dibaca para pujangga. Raden Ngabehi Ranggawarsita, sastrawan besar Kasunanan Surakarta, pernah menulis kegelisahan zamannya dalam Serat Kalatidha:

“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, nanging dalanipun Allah, karsane kang Maha Suci, kudu eling klawan waspada.”

Kurang lebih, bait itu berbicara tentang zaman gila—masa ketika orang baik justru kesulitan bertahan, sementara mereka yang ikut larut dalam kegilaan sering mendapat keuntungan. Tetapi di tengah kekacauan itu, manusia tetap diingatkan untuk “eling lan waspada”: tetap sadar dan berhati-hati.

Petuah itu terasa semakin relevan hari ini.

Sebab kekuasaan modern bukan hanya soal jabatan, melainkan juga tentang kemampuan manusia menjaga dirinya sendiri. Banyak orang mampu merebut kursi, tetapi tidak semua mampu menjaga hati ketika duduk di atasnya. Tahta selalu membawa tiga bayangan yang sulit dipisahkan: harta, penghormatan, dan godaan.

Dan sejarah berulang kali menunjukkan, manusia sering kalah bukan ketika berjuang menuju atas, melainkan justru ketika sudah berada di puncak.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Tidak pernah di awal. (Mac)

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër
RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments