spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Selamat Jalan Para Kuli Tinta Harga yang Terlalu Mahal...

Part 2 : Selamat Jalan Para Kuli Tinta Harga yang Terlalu Mahal untuk Sebuah Berita

Masyarakat membutuhkan wartawan yang selamat, profesional, independen, dan tetap bisa pulang untuk menulis berita berikutnya.

Tubuhnya ikut menjadi modal produksi.

LESINDO.COM – Jurnalis disebut berada di garis depan. Disebut pemburu fakta. Disebut mata dan telinga masyarakat. Ia hadir ketika gunung meletus, banjir menerjang, konflik pecah, gedung runtuh atau kekuasaan sedang dipertanyakan.Kamera dapat diganti.

Laptop dapat dibeli kembali.

Mobil operasional dapat diperbaiki.

Peralatan liputan dapat diasuransikan.

Tetapi manusia tidak mempunyai suku cadang.

Di situlah persoalan keselamatan kerja jurnalis seharusnya ditempatkan: bukan sebagai fasilitas tambahan, melainkan sebagai bagian dari biaya produksi berita.

Jika sebuah perusahaan membutuhkan berita dari medan bencana, maka keselamatan orang yang dikirim ke sana seharusnya ikut masuk dalam perencanaan liputan.

Bukan baru dibicarakan setelah tragedi.

Lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda menyisakan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar bagaimana kronologi kecelakaan itu terjadi.

Pertanyaannya adalah:

Sudah sejauh mana industri pers menghitung keselamatan manusia di balik berita?

Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mencari kambing hitam.

Justru sebaliknya.

Ini adalah kesempatan untuk melihat kembali bagaimana sebuah berita diproduksi.

Apakah risiko sudah dinilai sebelum keberangkatan?

Apakah alat keselamatan memadai?

Apakah komunikasi darurat tersedia?

Apakah ada prosedur penghentian liputan ketika kondisi berubah?

Apakah perusahaan memiliki perlindungan bagi jurnalis yang bekerja di medan berbahaya?

Dan apabila sesuatu terjadi, apakah keluarga benar-benar memiliki perlindungan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengagungkan keberanian setelah tragedi.

Sebab memuji keberanian setelah seseorang hilang tidak akan mengembalikan orang itu kepada keluarganya.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengatakan bahwa wartawan adalah orang-orang yang tidak takut mati.

Mereka takut.

Sangat mungkin mereka takut.

Hanya saja, mereka belajar bekerja di antara rasa takut dan tanggung jawab.

Mereka menyalakan kamera ketika tangan mungkin gemetar.

Mereka membuka buku catatan ketika suasana tidak menentu.

Mereka bertanya ketika orang lain memilih diam.

Mereka mendekati fakta ketika banyak orang lebih nyaman dengan kabar yang sudah dipoles.

Itulah kerja jurnalistik.

Bukan mencari kematian.

Melainkan mencari kebenaran.

Dan karena itulah keselamatan mereka harus dihormati.

Sepuluh hari pencarian di Selat Sunda akhirnya berhenti tanpa menemukan kapal Arupadhatu I.

Operasi bisa dihentikan.

Penyisiran bisa dihentikan.

Laporan bisa ditutup.

Tetapi bagi keluarga, pencarian sesungguhnya mungkin tidak pernah selesai.

Sebab manusia yang hilang bukan sekadar nama dalam daftar korban.

Ia adalah ayah.

Suami.

Anak.

Saudara.

Teman.

Dan bagi dunia jurnalistik, mereka adalah kawan seperjalanan.

Barangkali kelak nama mereka hanya tersisa dalam arsip foto dan berita.

Namun setiap kali seorang fotografer mengangkat kamera ke arah sebuah bencana, setiap kali reporter memasuki wilayah yang sulit, dan setiap kali sebuah berita dikirim dari garis depan, seharusnya ada satu kesadaran yang ikut bekerja:

Jangan pernah menganggap nyawa sebagai biaya produksi.

Berita boleh eksklusif.

Gambar boleh spektakuler.

Tenggat boleh mendesak.

Persaingan media boleh keras.

Tetapi manusia tetap lebih mahal.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan wartawan yang mati demi sebuah berita.

Masyarakat membutuhkan wartawan yang selamat, profesional, independen, dan tetap bisa pulang untuk menulis berita berikutnya.

Dan mungkin itulah penghormatan paling masuk akal kepada lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda:

bukan sekadar menyebut mereka pemberani.

Tetapi memastikan bahwa setelah tragedi ini, profesi jurnalistik tidak lagi meminta pengorbanan yang sama kepada orang-orang berikutnya.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments