spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Jangan Menjadi Orang yang Membuat Ruangan Kehilangan Cahaya

Part 2 : Jangan Menjadi Orang yang Membuat Ruangan Kehilangan Cahaya

Kita mungkin tidak mampu membuat seluruh dunia menjadi terang. Namun setidaknya, jangan sampai kehadiran kita membuat sebuah ruangan kehilangan cahayanya.

Oleh : Dhen Baguse Ngarso

Jangan Wariskan Luka

LESINDO.COM – Setiap orang memiliki pengalaman yang membentuk dirinya. Ada yang pernah diremehkan, dikhianati, diperlakukan tidak adil, atau tumbuh dalam lingkungan yang penuh kemarahan. Pengalaman itu memang meninggalkan jejak, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengulangi keburukan yang sama kepada orang lain.

Orang yang pernah direndahkan tidak harus belajar merendahkan. Mereka yang pernah disakiti tidak perlu menjadikan sakit hati sebagai alasan untuk menyakiti. Di sinilah kedewasaan diuji: apakah seseorang mampu menghentikan rantai keburukan di dalam dirinya atau justru meneruskannya kepada generasi dan lingkungan berikutnya.

Luka tidak harus diwariskan.

Kita membutuhkan filter batin agar tidak semua yang kita terima menjadi bagian dari diri. Tidak semua kemarahan harus dibalas, tidak semua ucapan perlu dimasukkan ke hati, dan tidak semua perlakuan buruk layak mendapatkan respons yang sama.

Sebab apa yang terlalu lama kita simpan akhirnya membentuk cara kita melihat dunia. Dendam yang dipelihara akan mengubah cara kita memperlakukan orang. Prasangka yang dibiarkan tumbuh membuat kita melihat manusia bukan berdasarkan siapa mereka, tetapi berdasarkan kecurigaan kita terhadap mereka.

Maka menjaga hati sesungguhnya juga berarti menjaga agar energi buruk tidak menemukan tempat permanen di dalam diri.

Menjadi Cahaya Tidak Harus Menjadi Matahari

Tidak semua orang harus menjadi pusat perhatian. Tidak semua orang harus tampil sebagai pemimpin. Ada manusia yang justru memberi pengaruh melalui ketenangan, kesediaan mendengar, dan kemampuan membuat orang lain merasa aman.

Ia seperti cahaya kecil di sudut rumah. Tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk membuat orang tidak tersandung.

Mungkin demikian pula kebaikan seharusnya bekerja. Kita tidak harus menjadi matahari bagi semua orang. Cukup jangan menjadi orang yang memadamkan cahaya orang lain.

Jangan membuat bawahan takut menyampaikan kesalahan. Jangan membuat pasangan merasa tidak pernah cukup baik. Jangan membuat anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya selalu salah. Jangan menggunakan kelebihan yang kita miliki untuk mempermalukan mereka yang belum memilikinya.

Sebab manusia yang hari ini berada di bawah belum tentu selamanya berada di bawah. Demikian pula orang yang hari ini berada di atas tidak pernah tahu kapan kehidupannya mengharuskan ia membutuhkan tangan orang lain.

Dalam falsafah Jawa ada pengingat sederhana: aja dumeh—jangan mentang-mentang. Jangan karena memiliki jabatan lalu merasa lebih tinggi. Jangan karena lebih berpendidikan lalu menganggap orang lain bodoh. Jangan karena memiliki kekuasaan lalu merasa bebas memperlakukan manusia sesuka hati.

Apa yang Tertinggal Setelah Kita Pergi?

Pada akhirnya, manusia akan meninggalkan banyak ruang dalam hidupnya: rumah, kantor, lingkungan pertemanan, komunitas, bahkan suatu hari dunia itu sendiri.

Yang tertinggal bukan sekadar jabatan atau benda yang pernah dimiliki, melainkan kesan tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Orang mungkin lupa apa yang pernah kita katakan, tetapi mereka sering mengingat bagaimana perasaan mereka setelah berbicara dengan kita. Apakah mereka merasa dihargai atau direndahkan? Merasa didengar atau diabaikan? Pulang dengan hati lebih ringan atau justru membawa luka yang tidak kita sadari?

Pertanyaan semacam itu layak menjadi cermin.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan seseorang di balik senyumnya. Bisa jadi ia sedang lelah, sedang kehilangan kepercayaan diri, atau sedang berusaha keras agar tetap berdiri. Karena itu, satu sikap yang hangat terkadang jauh lebih berarti daripada nasihat panjang.

Maka sebelum memasuki ruang kehidupan orang lain, barangkali kita perlu belajar mengatur diri sendiri. Menurunkan ego ketika perlu, tegas tanpa merendahkan, berbicara tanpa melukai, dan mendengarkan tanpa tergesa-gesa menghakimi.

Kita mungkin tidak mampu membuat seluruh dunia menjadi terang. Namun setidaknya, jangan sampai kehadiran kita membuat sebuah ruangan kehilangan cahayanya.

Sebab pada akhirnya, kualitas hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berhasil berdiri, tetapi juga tentang berapa banyak orang yang merasa lebih kuat setelah pernah berjalan bersama kita.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments