spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Selamat Jalan Para Kuli Tinta Harga yang Terlalu Mahal...

Part 1 : Selamat Jalan Para Kuli Tinta Harga yang Terlalu Mahal untuk Sebuah Berita

Jurnalis disebut berada di garis depan. Disebut pemburu fakta. Disebut mata dan telinga masyarakat. Ia hadir ketika gunung meletus, banjir menerjang, konflik pecah, gedung runtuh atau kekuasaan sedang dipertanyakan.

Oleh : Redaksi 

Ketika nyawa jurnalis terlalu murah dibandingkan nilai sebuah berita

Ada satu pertanyaan yang jarang muncul setelah sebuah berita sampai ke tangan pembaca:

Berapa harga yang dibayar untuk mendapatkannya?

LESINDO.COM – Pembaca melihat gambar. Redaksi melihat naskah. Pemimpin redaksi melihat tenggat. Pemilik media mungkin melihat angka pembaca dan iklan.

Tetapi di balik semua itu ada seorang manusia.

Ia berangkat membawa kamera, telepon genggam, alat pelindung seadanya, dan satu kesadaran bahwa pekerjaannya adalah mencari fakta dari tempat yang tidak selalu aman.

Pada 7 September 2026, lima jurnalis berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kontak dengan rombongan kemudian hilang. Tim SAR gabungan melakukan pencarian selama sepuluh hari. Namun kapal yang membawa mereka tidak ditemukan. Pada 17 September, operasi SAR resmi dihentikan.

Delapan orang belum kembali.

Lima di antaranya jurnalis.

Di meja redaksi, sebuah liputan mungkin hanya terdiri atas beberapa paragraf dan sejumlah foto.

Di rumah, satu liputan bisa berarti seseorang yang belum pulang.

Profesi wartawan sering dipotret terlalu indah.

Jurnalis disebut berada di garis depan. Disebut pemburu fakta. Disebut mata dan telinga masyarakat. Ia hadir ketika gunung meletus, banjir menerjang, konflik pecah, gedung runtuh atau kekuasaan sedang dipertanyakan.

Semua benar.

Tetapi ada bagian lain yang jarang dibicarakan: siapa yang membayar risiko itu?

Ketika sebuah foto berhasil menembus ruang redaksi, orang jarang bertanya bagaimana fotografer mendapatkannya.

Seberapa dekat ia dengan bahaya?

Berapa jam ia berada di lokasi?

Apakah ia memakai perlengkapan keselamatan yang layak?

Apakah perusahaan menyediakan asuransi?

Siapa yang mengambil keputusan ketika kondisi di lapangan sudah tidak aman?

Dan yang paling sederhana: berapa harga keselamatan seorang jurnalis dibandingkan nilai berita yang sedang dikejar?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting justru karena berita adalah komoditas.

Ada tenggat.

Ada persaingan.

Ada breaking news.

Ada tuntutan gambar eksklusif.

Ada klik.

Ada engagement.

Ada dorongan untuk menjadi media pertama yang menayangkan sebuah peristiwa.

Dalam logika industri, kecepatan mempunyai nilai ekonomi.

Tetapi manusia bukan komoditas.

Jurnalis tidak dibayar untuk mati.

Ia dibayar untuk bekerja.

Dua hal itu tampaknya sederhana, tetapi dalam praktiknya batas antara keduanya bisa menjadi sangat tipis.

Terutama bagi wartawan lapangan dan pewarta foto.

Mereka tidak bekerja dari balik meja. Mereka mendatangi sumber peristiwa. Mereka masuk ke ruang yang sedang kacau untuk membawa pulang informasi.

Ketika orang berlari menjauh dari ledakan, wartawan justru sering bergerak mendekat.

Ketika warga mencari tempat aman, fotografer mencari sudut gambar.

Ketika sebagian orang memilih meninggalkan lokasi bencana, reporter masih mencari narasumber.

Itulah paradoks pekerjaan ini.

Jurnalis dibutuhkan justru ketika keadaan tidak normal.

Tetapi karena bekerja di wilayah yang tidak normal, risiko keselamatannya pun tidak normal.

Karena itu, keberanian tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan.

Dewan Pers telah mengingatkan hal tersebut setelah kasus Anak Krakatau. Jurnalis dan perusahaan pers diminta menempatkan keselamatan jiwa sebagai prioritas, mematuhi batas zona aman, menggunakan perlengkapan pelindung yang sesuai, dan berkoordinasi dengan petugas penanggulangan bencana.

Pesannya jelas.

Tidak ada berita yang seharga dengan nyawa.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi justru karena sederhana, ia seharusnya menjadi prinsip dasar industri media.

Masalahnya, dalam banyak liputan, risiko sering menjadi sesuatu yang dianggap melekat pada profesi.

Seolah-olah wartawan memang harus berani.

Seolah-olah kalau takut berarti tidak profesional.

Seolah-olah semakin dekat dengan bahaya semakin hebat seorang jurnalis.

Di sinilah romantisme profesi bisa berubah menjadi jebakan.

Keberanian berbeda dengan kecerobohan.

Profesionalisme bukan kemampuan mengabaikan rasa takut.

Profesionalisme adalah kemampuan membaca risiko dan mengambil keputusan berdasarkan keselamatan sekaligus kepentingan jurnalistik.

Jurnalis yang memilih mundur dari zona berbahaya bukan berarti pengecut.

Bisa jadi justru ia sedang menjalankan profesionalisme.

Sebab ia masih memiliki satu tanggung jawab lain yang sering terlupakan:

pulang.

Pulang kepada istri.

Pulang kepada suami.

Pulang kepada anak.

Pulang kepada orang tua.

Pulang kepada rumah yang mungkin tidak memahami detail pekerjaannya, tetapi selalu menunggu suara pintu terbuka.

Di sinilah nilai sebuah berita menjadi terasa getir.

Sebuah foto mungkin hanya muncul beberapa detik di layar.

Sebuah video mungkin ditonton jutaan kali.

Sebuah berita mungkin menjadi headline selama sehari.

Kemudian semuanya berlalu.

Algoritma bergerak.

Berita baru datang.

Nama jurnalis yang membuatnya perlahan menghilang dari ingatan publik.

Tetapi keluarga tidak mempunyai tombol scroll.

Bagi keluarga, kehilangan bukan berita satu hari.

Ia menjadi kenyataan setiap pagi.

Kursi yang kosong tetap kosong.

Telepon yang tidak berdering tetap tidak berdering.

Pintu rumah tetap menunggu seseorang yang tidak kunjung pulang.

Karena itu, ketika publik menikmati sebuah berita, ada baiknya kita tidak hanya melihat produknya.

Lihat pula manusianya.

Di belakang satu foto mungkin ada fotografer yang berdiri berjam-jam.

Di belakang satu laporan mungkin ada reporter yang menempuh perjalanan panjang.

Di belakang satu gambar dramatis mungkin ada seseorang yang sedang mempertaruhkan keselamatan.

Dan di belakang mereka semua ada keluarga.

Ironinya, secara ekonomi, profesi jurnalistik tidak selalu memberikan imbalan yang sebanding dengan tuntutan pekerjaannya.

Jurnalis tidak hidup dari keberanian.

Ia membayar makan dengan honor.

Membayar cicilan dengan gaji.

Menyekolahkan anak dari penghasilan.

Membayar bensin untuk mengejar berita.

Membeli peralatan kerja yang kadang nilainya lebih mahal daripada pendapatan beberapa bulan.

Tetapi ketika berada di lapangan, yang dipertaruhkan bukan sekadar uang.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments