Oleh : Mad Mac
LESINDO.COM – Ada seorang anak yang menerima makanan bergizi gratis di sekolah, tetapi tidak langsung menyantapnya.
Kotak makanan itu dimasukkan ke dalam wadah yang sudah dibawa dari rumah. Ia kemudian memilih membeli nasi kucing di kantin sekolah.
Sepintas, pemandangan itu mudah disalahartikan.
Ada yang mungkin melihatnya sebagai bentuk penolakan. Ada pula yang tergoda menjadikannya bukti bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Padahal, ketika anak itu ditanya mengapa tidak menyantap makanan yang sudah diberikan, jawabannya justru sangat sederhana:
Ia tidak selera.
Barangkali di situlah kita perlu belajar membedakan antara sebuah program yang baik dan sebuah menu yang belum tentu cocok dengan lidah semua orang.
Sebab manusia bukan hanya makhluk yang membutuhkan makanan. Manusia juga memiliki ingatan tentang makanan.
Lidah mengenal rumah.
Lidah mengenal dapur ibu.
Lidah mengenal warung yang sejak kecil didatangi.
Lidah bahkan mengenal rasa yang mungkin tidak pernah tercatat dalam tabel kandungan gizi, tetapi melekat kuat dalam ingatan seseorang.
Di Solo, misalnya, nasi kucing bukan sekadar nasi dalam bungkus kecil. Ia adalah bagian dari kebudayaan makan masyarakat. Nasi, sedikit lauk seperti bandeng, sambal, lalu dibungkus sederhana. Harganya murah, sekitar Rp2.500, tetapi bagi sebagian orang justru terasa akrab dan menggugah selera.
Mungkin karena ada sambalnya.
Bagi sebagian lidah orang Jawa, sambal bukan sekadar pelengkap. Ia seperti nyawa yang membangunkan rasa.
Makanan tanpa sambal kadang terasa seperti kalimat yang kehilangan tanda seru.
Saya sendiri sering merasakan hal serupa.
Pagi hari, sebelum sampai di sekolah atau tempat kegiatan, saya kadang mampir ke warung HIK—Hidangan Istimewa Kampung. Di Solo, HIK bukan sekadar tempat membeli makanan. Ia adalah bagian dari ritme kota.
Pagi datang, penjual membuka warung. Hari bergeser, penjual lain menggantikannya. Malam turun, lampu-lampu warung kembali menyala. Bahkan ketika sebagian besar rumah telah mematikan lampu, masih ada orang yang duduk menikmati teh panas, nasi bungkus, gorengan, dan percakapan kecil.
Solo Raya seperti memiliki urat nadi yang tidak pernah benar-benar berhenti berdetak.
Dengan uang sekitar Rp10.000, saya bisa mendapatkan teh panas, dua bungkus nasi, dan empat gorengan yang masih hangat.
Secara ekonomi, mungkin tidak banyak.
Tetapi soal rasa, kadang justru cukup untuk membuat pagi terasa lengkap.
Di situlah kita menemukan paradoks sederhana: sesuatu yang murah belum tentu tidak bernilai, dan sesuatu yang bergizi belum tentu langsung disukai semua lidah.
Namun persoalan MBG sesungguhnya jauh lebih besar daripada soal nasi kucing dan sambal.
Kita sedang berbicara tentang anak-anak.
Tentang tubuh yang sedang tumbuh.
Tentang pikiran yang sedang dibentuk.
Tentang masa depan yang sedang duduk diam di bangku-bangku sekolah.
Karena itu, tujuan utama MBG semestinya tidak berhenti pada pertanyaan: Apakah kotak makanan itu habis?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah anak-anak kita cukup makan untuk belajar?
Sebab anak yang lapar sulit diajak berbicara tentang masa depan.
Ketika perut kosong, pelajaran matematika bisa terasa jauh. Buku pelajaran kehilangan daya tarik. Suara guru terdengar seperti sesuatu yang datang dari kejauhan. Konsentrasi terpecah antara papan tulis dan bayangan makanan.
Maka makanan di sekolah sesungguhnya bukan sekadar urusan perut.
Ia adalah bagian dari investasi terhadap pikiran.
Anak yang cukup makan memiliki peluang lebih baik untuk menyimak pelajaran, berpikir, bermain, dan tumbuh. Dari sanalah pendidikan bekerja dengan cara yang paling sederhana: memastikan tubuh tidak menjadi penghalang bagi pikiran untuk berkembang.
Karena itu, MBG patut dilihat sebagai ikhtiar yang baik.
Tetapi sesuatu yang baik tidak berarti tidak boleh dikritik.
Justru karena tujuannya baik, ia harus terus diperbaiki.
Menu perlu dievaluasi. Selera anak perlu didengar. Makanan lokal bisa menjadi pertimbangan. Variasi perlu diperhatikan. Cara penyajian pun mungkin perlu dipikirkan kembali.
Sebab makanan yang paling bergizi sekalipun akan kehilangan manfaatnya jika tidak dimakan.
Di sinilah negara bertemu dengan sesuatu yang sangat manusiawi: selera.
Negara bisa menyusun anggaran.
Negara bisa membuat standar gizi.
Negara bisa menghitung kalori, protein, karbohidrat, dan kebutuhan nutrisi.
Tetapi lidah seorang anak tetap memiliki bahasa sendiri.
Ia tidak mengenal tabel.
Ia mengenal rasa.
Ia mengenal aroma.
Ia mengenal kebiasaan.
Dan karena itu, membangun program makanan bagi jutaan anak bukan hanya persoalan menghitung kebutuhan gizi. Ia juga membutuhkan kemampuan memahami kebudayaan makan masyarakat.
Indonesia terlalu luas untuk dipaksa memiliki satu selera.
Apa yang disukai anak di Solo belum tentu sama dengan anak di Papua. Apa yang akrab bagi anak Jawa belum tentu dikenal anak di Sulawesi. Begitu pula sebaliknya.
Makanan memiliki geografi.
Ia memiliki sejarah.
Ia memiliki kelas sosial.
Ia memiliki kenangan.
Dan karena itu, membicarakan makanan berarti juga membicarakan manusia.
Maka saya kira kita tidak perlu terburu-buru menjadikan seorang anak yang memilih nasi kucing sebagai simbol kegagalan MBG.
Jangan menilai sebuah program besar hanya dari satu kotak makanan yang tidak disentuh.
Tetapi jangan pula menjadikan program yang baik sebagai sesuatu yang kebal dari evaluasi.
Keduanya sama-sama tidak bijaksana.
Yang satu terlalu cepat menyalahkan.
Yang lain terlalu cepat membenarkan.
Padahal kehidupan selalu berada di antara keduanya.
Ada hal yang sudah baik, tetapi masih bisa diperbaiki.
Ada kebijakan yang benar secara gagasan, tetapi membutuhkan kepekaan ketika bertemu kenyataan.
Di sinilah ukuran keberhasilan sebuah program bukan sekadar seberapa rapi ia dirancang di atas kertas, melainkan seberapa jauh ia mampu menyentuh kehidupan manusia yang sesungguhnya.
Termasuk lidah seorang anak.
Termasuk kebiasaan sebuah keluarga.
Termasuk budaya makan sebuah kota.
Termasuk nasi kucing di kantin sekolah.
Pada akhirnya, saya tetap percaya bahwa MBG adalah ikhtiar yang baik.
Sebab negara yang memikirkan makanan anak-anaknya sesungguhnya sedang memikirkan masa depan.
Tetapi makanan bergizi tidak seharusnya berhenti sebagai kewajiban administratif. Ia harus menjadi makanan yang benar-benar dinikmati, bukan sekadar diterima.
Sebab tujuan akhirnya bukan membuat kotak-kotak makanan berpindah dari tangan petugas ke tangan siswa.
Tujuannya adalah membuat anak-anak tumbuh lebih sehat dan belajar dengan lebih baik.
Kalau sesekali seorang anak memilih nasi kucing, mungkin kita tidak perlu marah.
Barangkali ia hanya sedang mengatakan sesuatu yang sederhana kepada kita:
bahwa manusia bukan hanya membutuhkan makanan yang baik, tetapi juga makanan yang terasa dekat dengan dirinya.
Dan mungkin dari sepiring nasi kucing yang murah itu kita belajar sesuatu yang lebih mahal:
bahwa kebijakan sebesar apa pun tetap akan berhadapan dengan manusia—dengan selera, kebiasaan, ingatan, dan kehidupan sehari-hari.
Maka jangan ukur keberhasilan MBG hanya dari berapa kotak yang dibagikan.
Ukur dari berapa anak yang tidak lagi belajar dalam keadaan lapar.
Ukur dari mata yang lebih segar ketika guru mengajar.
Ukur dari tubuh yang tumbuh lebih sehat.
Dan pada akhirnya, ukur dari satu hal yang paling sederhana:
apakah anak-anak itu memiliki tenaga yang cukup untuk mengejar masa depannya.
Sebab masa depan bangsa kadang tidak dimulai dari gedung-gedung megah atau pidato yang panjang.
Ia bisa saja dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:
seorang anak yang pagi itu tidak lagi lapar ketika membuka buku pelajarannya.

