Oleh : Goes Mic
Dari Istana sampai Republik
LESINDO.COM – Pola yang sama sebenarnya telah berulang selama berabad-abad.
Dalam sejarah kerajaan, pergantian takhta sering ditulis sebagai legitimasi bagi penguasa baru. Yang menang disebut penerus yang sah. Yang kalah bisa dicatat sebagai pembangkang.
Keraton berdiri di atas reruntuhan konflik sebelumnya.
Kemudian Republik Indonesia lahir.
Tetapi republik pun tidak terbebas dari pertarungan tafsir.
Sesudah kemerdekaan, Indonesia menghadapi berbagai pergulatan mengenai bentuk negara, ideologi, dan distribusi kekuasaan.
Madiun 1948.
Darul Islam.
PRRI/Permesta.
Berbagai konflik politik dan militer sesudahnya.
Satu demi satu meninggalkan korban.
Dan setiap konflik melahirkan versi sejarahnya sendiri.
Ada sejarah negara.
Ada sejarah tentara.
Ada sejarah partai.
Ada sejarah keluarga korban.
Ada sejarah orang-orang yang memilih diam karena keselamatan.
Dan ada sejarah yang tidak pernah sempat ditulis.
Pemenang Tidak Selalu Berarti Benar
Inilah jebakan terbesar dari kalimat “sejarah ditulis oleh pemenang”.
Kita bisa tergoda menyimpulkan bahwa pemenang selalu salah dan yang kalah selalu benar.
Padahal tidak sesederhana itu.
Kemenangan tidak otomatis melahirkan kebenaran.
Kekalahan juga tidak otomatis melahirkan keluhuran.
Yang perlu dicurigai justru adalah klaim kebenaran tunggal.
Sebab setiap kekuasaan mempunyai kecenderungan untuk menciptakan narasi yang membuat keberadaannya tampak sah.
Kerajaan melakukannya.
Kolonialisme melakukannya.
Revolusi melakukannya.
Negara modern pun bisa melakukannya.
Karena itu, tugas penulis sejarah bukan menjadi juru bicara pemenang.
Tugasnya justru menguji cerita yang sudah dianggap selesai.
Mencari dokumen yang hilang.
Membandingkan kesaksian.
Mendengar suara yang dibungkam.
Dan bertanya kepada masa lalu dengan keberanian yang sama ketika seorang wartawan bertanya kepada pejabat yang sedang berkuasa.
Peneleh dan Pelajaran yang Tertinggal
Rumah Tjokroaminoto di Peneleh mungkin hanya sebuah bangunan tua.
Tetapi di sana pernah tinggal anak-anak muda yang kelak menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Mereka tidur di bawah atap yang sama.
Mereka belajar dari guru yang sama.
Namun sejarah membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Ada yang menjadi presiden.
Ada yang menjadi pemimpin gerakan kiri.
Ada yang menjadi imam gerakan negara Islam.
Pada akhirnya, sebagian dikenang sebagai pendiri bangsa. Sebagian lain dikenang sebagai pemberontak.
Di situlah ironi sejarah bekerja.
Orang-orang yang pernah duduk bersama dapat dikenang dengan nama yang berbeda setelah mereka mati.
Yang satu mendapat monumen.
Yang lain mendapat stigma.
Yang satu masuk buku pelajaran.
Yang lain masuk bab pemberontakan.
Padahal mereka pernah sama-sama muda, sama-sama membaca, sama-sama bermimpi, dan sama-sama percaya bahwa mereka sedang memperjuangkan masa depan.
Barangkali sejarah memang tidak pernah benar-benar selesai.
Sebab selama manusia masih berkuasa, selalu ada kemungkinan seseorang ingin menulis ulang masa lalu agar masa kininya terlihat lebih benar.
Dan karena itu, pertanyaan terpenting bukan lagi:
Siapa yang menang?
Melainkan:
Siapa yang diberi hak untuk bercerita tentang kemenangan itu?
Sebab pada akhirnya, perang bisa selesai ketika senjata berhenti berbunyi.
Tetapi pertarungan atas ingatan bisa berlangsung jauh lebih lama.
Bahkan sampai berabad-abad.
Dan mungkin, justru di situlah perang yang paling sunyi berlangsung:
bukan lagi memperebutkan tanah, istana, atau negara—melainkan memperebutkan ingatan manusia tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

