Oleh : Raihan H
Kartasura dan Bayang-Bayang Kota Satelit
LESINDO.COM – Perubahan kawasan Solo Raya juga menghadirkan persoalan baru. Di satu sisi, Kartasura memiliki sejarah yang panjang dan posisi geografis yang strategis. Di sisi lain, perkembangan kota-kota baru di sekitarnya berjalan lebih agresif.
Solo Baru tumbuh sebagai kawasan perkotaan modern di wilayah Sukoharjo. Pusat-pusat perdagangan, permukiman, perkantoran dan fasilitas baru bermunculan.
Kartasura menghadapi tantangan yang berbeda.
Ia sudah memiliki kota.
Tetapi belum tentu memiliki wajah kota yang mampu menerjemahkan sejarahnya ke dalam masa depan.
Di sinilah persoalan Kartasura menjadi lebih serius.
Apakah kota tua cukup hanya dikenang?
Ataukah sejarah harus menjadi modal untuk membangun masa depan?
Sebab sebuah kota tidak akan menjadi besar hanya karena memiliki masa lalu yang panjang.
Ia menjadi penting ketika mampu mengolah masa lalu menjadi identitas.
Benteng yang Menunggu Dibaca
Ironisnya, peninggalan sejarah Kartasura berada di tengah kehidupan masyarakat modern yang bergerak sangat cepat.
Orang mungkin melewatinya tanpa mengetahui bahwa tembok tua itu pernah menjadi bagian dari kompleks pusat kekuasaan Mataram Islam.
Di sinilah persoalan pelestarian sejarah tidak semata-mata berkaitan dengan bangunan.
Ia berkaitan dengan pengetahuan.
Bangunan tua tanpa cerita hanya akan menjadi tembok.
Tetapi tembok yang mampu menjelaskan bagaimana sebuah kerajaan pernah berdiri, bertengkar, mengalami pemberontakan, kemudian memindahkan ibu kotanya, adalah dokumen sejarah.
Kartasura sebenarnya memiliki bahan yang cukup untuk membangun identitas semacam itu.
Pertanyaannya tinggal satu:
Apakah sejarah tersebut diperlakukan sebagai warisan atau sekadar sisa?
Bekas Terminal dan Harapan Baru
Kini muncul babak lain dalam perjalanan Kartasura.
Bekas terminal lama sedang mengalami perubahan fungsi. Pembangunan masjid di kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari wajah baru kota.
Bangunan keagamaan tentu bukan satu-satunya jawaban bagi masa depan Kartasura.
Tetapi ruang publik baru dapat menjadi titik awal untuk menghidupkan kembali kawasan yang selama ini lebih dikenal sebagai tempat transit.
Kartasura membutuhkan lebih dari sekadar bangunan baru.
Ia membutuhkan narasi baru.
Bagaimana menjadikan orang yang berhenti di Kartasura tidak hanya lewat, tetapi mengenal bahwa mereka sedang berada di sebuah kota yang pernah menjadi ibu kota Mataram?
Bagaimana membuat orang yang datang untuk makan, berbelanja atau beristirahat juga mengetahui bahwa beberapa kilometer dari tempat mereka berdiri terdapat jejak sebuah keraton yang pernah menjadi pusat kekuasaan?
Di situlah pembangunan kota seharusnya bertemu dengan sejarah.
Bukan menggantikan sejarah dengan beton, tetapi menjadikan sejarah sebagai bagian dari kehidupan kota.
Kota yang Terlupakan, atau Kita yang Melupakan?
Kartasura barangkali tidak benar-benar terlupakan.
Yang mungkin terlupakan adalah cara kita membaca kota ini.
Selama ini Kartasura terlalu mudah dipahami sebagai kawasan macet, pasar, pertokoan, simpang jalan dan kota transit.
Padahal di bawah hiruk-pikuk kendaraan itu terdapat lapisan sejarah yang jauh lebih tua.
Ada tembok.
Ada bekas keraton.
Ada cerita tentang raja.
Ada pemberontakan.
Ada kekuasaan yang kehilangan kendali.
Ada ibu kota yang akhirnya harus ditinggalkan.
Dan ada masyarakat yang kemudian melanjutkan hidup di atas tanah bekas pusat kerajaan.
Sejarah sering bekerja dengan cara seperti itu.
Istana bisa runtuh.
Benteng bisa jebol.
Raja bisa berganti.
Ibu kota bisa berpindah.
Tetapi masyarakat tetap tinggal.
Mereka membuka warung. Berdagang. Mengajar. Berangkat kerja. Pulang larut malam. Membangun rumah. Mendirikan tempat ibadah. Membesarkan anak.
Kehidupan terus berjalan.
346 Tahun Kemudian

Pada usia 346 tahun, Kartasura tidak sedang meminta dikembalikan menjadi ibu kota.
Zaman sudah berubah.
Yang dibutuhkan bukan menghidupkan kembali masa kerajaan, melainkan menghidupkan kembali kesadaran sejarahnya.
Kartasura perlu melihat dirinya bukan sebagai kota yang kalah oleh Solo.
Bukan pula sekadar halaman belakang Sukoharjo.
Ia adalah kota dengan identitas sendiri.
Kota yang pernah menjadi pusat Mataram.
Kota yang menyimpan jejak perpindahan kekuasaan.
Kota yang bentengnya pernah jebol.
Kota yang kehilangan status ibu kota tetapi tidak kehilangan kehidupan.
Dan mungkin justru di situlah pelajaran terbesar Kartasura.
Sebuah kota tidak mati hanya karena kekuasaan meninggalkannya.
Kartasura membuktikannya selama 346 tahun.
Dari ibu kota menjadi kota perlintasan.
Dari pusat kerajaan menjadi ruang kehidupan masyarakat.
Dari tembok keraton menjadi peninggalan sejarah.
Kini tantangannya bukan lagi mempertahankan kerajaan.
Tantangannya adalah mempertahankan ingatan.
Sebab jika tembok terakhir runtuh dan cerita tidak lagi diwariskan, Kartasura bukan hanya kehilangan bangunan bersejarah.
Ia akan kehilangan alasan mengapa kota ini layak dikenang.
Selamat Hari Jadi Kartasura ke-346.
11 September 1680 – 11 September 2026.
Dari bekas ibu kota Mataram, kepada sebuah kota yang masih terus mencari cara untuk membaca masa lalunya sendiri.

