spot_img
BerandaBudayaKetika Kita Berhenti Memaksa Kehidupan

Ketika Kita Berhenti Memaksa Kehidupan

Dalam kebijaksanaan Jawa, nrimo ing pandum bukan sekadar menerima nasib secara pasif. Ia bukan alasan untuk malas, menyerah, atau membiarkan ketidakadilan berlangsung.

LESINDO.COM – Barangkali salah satu sumber kegelisahan manusia yang paling tua adalah keinginannya untuk mengatur sesuatu yang sejak awal tidak pernah sepenuhnya berada dalam kuasanya: kehidupan.

Kita ingin segala sesuatu datang tepat pada waktunya menurut kalender yang kita buat sendiri. Kita ingin doa dijawab sesuai dengan keinginan, rencana berjalan tanpa gangguan, orang-orang bertindak sebagaimana yang kita harapkan, dan masa depan memberi kepastian sebelum kita melangkah.

Padahal hidup tidak pernah menandatangani perjanjian dengan keinginan manusia.

Ia berjalan dengan hukumnya sendiri.

Ada yang datang ketika kita belum siap. Ada yang pergi ketika kita merasa masih membutuhkannya. Ada pintu yang kita ketuk dengan kesungguhan, tetapi tidak pernah dibukakan. Ada jalan yang sudah kita persiapkan sedemikian rupa, tetapi tiba-tiba harus berbelok karena keadaan.

Di situlah manusia sering keliru membaca kehidupan.

Kita menganggap penundaan sebagai kegagalan. Mengira kehilangan sebagai hukuman. Menganggap jalan yang tertutup sebagai tanda bahwa kita telah salah arah.

Padahal, boleh jadi, kita hanya sedang berhadapan dengan sesuatu yang belum selesai kita pahami.

Tidak semua yang terlambat berarti gagal. Tidak semua yang hilang berarti buruk. Dan tidak semua pintu yang tertutup berarti kehidupan sedang menolak kita.

Ada kalanya kehidupan justru sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang belum mampu kita lihat.

Persoalannya, manusia sering menginginkan penjelasan sebelum bersedia menerima.

Kita ingin tahu mengapa sesuatu terjadi, baru kemudian kita mau berdamai dengannya. Kita ingin melihat ujung perjalanan, baru bersedia melangkah. Kita ingin mengetahui jawaban Tuhan sebelum belajar mempercayai-Nya.

Padahal iman, dalam pengertian yang paling dalam, barangkali justru dimulai ketika pengetahuan kita berakhir.

Kita tetap berjalan meski tidak mengetahui seluruh jalan.

Kita tetap berusaha meski tidak dapat memastikan hasil.

Kita tetap berdoa meski belum melihat jawaban.

Dan kita tetap percaya bahwa ada pengetahuan yang jauh lebih luas daripada apa yang mampu dijangkau oleh pikiran manusia.

Di titik itu, berserah bukan lagi tanda kekalahan.

Berserah adalah bentuk lain dari keberanian.

Sebab dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan.

Kita dapat merencanakan, tetapi tidak menguasai masa depan.

Kita dapat bekerja keras, tetapi tidak memaksa hasil.

Kita dapat mencintai seseorang, tetapi tidak memiliki kuasa untuk menentukan apakah ia akan tinggal.

Kita dapat menjaga sebaik mungkin, tetapi tidak dapat menghindarkan seluruh kehidupan dari kehilangan.

Manusia memiliki ikhtiar, tetapi tidak memiliki seluruh kendali.

Kesadaran sederhana itu, jika benar-benar dipahami, dapat mengubah cara seseorang menjalani hidup.

Ia tidak lagi menghabiskan seluruh tenaga untuk melawan kenyataan.

Bukan berarti ia berhenti berjuang. Justru sebaliknya. Ia tetap bekerja, tetapi tidak menggantungkan ketenangan pada hasil. Ia tetap mengejar cita-cita, tetapi tidak membiarkan kegagalan menghancurkan harga dirinya. Ia tetap mengetuk pintu, tetapi ketika pintu itu tak kunjung terbuka, ia memiliki kebijaksanaan untuk mencari jalan lain.

Di sinilah nrimo sering disalahpahami.

Dalam kebijaksanaan Jawa, nrimo ing pandum bukan sekadar menerima nasib secara pasif. Ia bukan alasan untuk malas, menyerah, atau membiarkan ketidakadilan berlangsung.

Nrimo adalah kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan kewajiban untuk berikhtiar.

Ada perbedaan besar antara menyerah dan berserah.

Orang yang menyerah berhenti karena merasa tidak ada gunanya berjuang.

Orang yang berserah tetap berjuang, tetapi menyerahkan hasil akhirnya kepada Yang Maha mengetahui.(Fan)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments