Ada juga hal yang lebih dalam dari sekadar persoalan pencapaian.
LESINDO.COM – Manusia modern sering kehilangan kemampuan untuk menikmati perjalanan karena terlalu sibuk menghitung jarak menuju tujuan.
Ia makan sambil melihat telepon.
Berjalan sambil mengejar gambar.
Berkumpul sambil memikirkan pekerjaan.
Berlibur sambil memastikan orang lain tahu bahwa ia sedang berlibur.
Bahkan kebahagiaan pun kadang tidak lagi cukup dirasakan. Ia harus dibuktikan.
Di titik itu, hidup berubah menjadi pertunjukan.
Kita tidak lagi sekadar menjalani sesuatu.
Kita memikirkan bagaimana kehidupan itu terlihat di mata orang lain.
Barangkali inilah salah satu bentuk keterasingan manusia modern: hidupnya sendiri terasa kurang nyata sebelum mendapatkan pengakuan dari luar dirinya.
Padahal ada kehidupan yang tidak perlu diumumkan.
Kebaikan yang cukup diketahui Tuhan.
Perjuangan yang tidak perlu diceritakan.
Keberhasilan yang tidak harus dipamerkan.
Kesedihan yang tidak harus dijadikan tontonan.
Dan kebahagiaan yang cukup disimpan sebagai rasa syukur.
Ada kedewasaan tertentu ketika seseorang tidak lagi merasa perlu menjelaskan seluruh hidupnya kepada dunia.
Ia bekerja karena memang harus bekerja.
Berbuat baik karena memang baik.
Berjalan karena memang harus berjalan.
Bukan karena ingin terlihat berhasil.
Di sana manusia mulai bebas.
Bebas dari tepuk tangan.
Bebas dari penilaian.
Bebas dari perlombaan yang tidak pernah ia pilih.
Pada akhirnya setiap orang akan memasuki lorong waktunya sendiri.
Ada masa ketika lorong itu terang.
Ada masa ketika gelap.
Ada pintu yang terbuka.
Ada pula pintu yang berkali-kali kita ketuk tetapi tidak pernah dibukakan.
Kita mungkin tidak mengerti mengapa.
Namun hidup tidak selalu harus segera dimengerti untuk bisa dijalani.
Barangkali tugas manusia bukan mengetahui seluruh peta perjalanan, melainkan menjaga langkah agar tidak kehilangan arah.
Sebab waktu tidak pernah bertanya siapa yang paling cepat.
Ia hanya berjalan.
Membawa yang muda menuju tua, yang kuat menuju lemah, yang memiliki menuju kehilangan, dan pada akhirnya membawa setiap manusia menuju batas yang sama.
Di hadapan waktu, semua pencapaian menjadi relatif.
Jabatan akan berganti.
Rumah akan ditinggalkan.
Harta berpindah tangan.
Nama perlahan dilupakan.
Yang tersisa mungkin bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri, melainkan bagaimana kita menjalani hari-hari ketika masih diberi kesempatan untuk berdiri.
Karena itu, mungkin sudah waktunya berhenti bertanya apakah kita tertinggal.
Tertinggal dari siapa?
Dan menurut jam milik siapa?
Hidup bukan kereta yang hanya memiliki satu jadwal keberangkatan. Tidak ada satu usia yang wajib menjadi kaya, satu umur yang wajib menikah, satu angka yang wajib dicapai, atau satu standar keberhasilan yang berlaku untuk semua manusia.
Ada kehidupan yang tumbuh cepat.
Ada yang tumbuh perlahan.
Yang penting bukan kecepatannya, melainkan apakah pertumbuhan itu membawa kita menjadi manusia yang lebih utuh.
Jika hari ini kita sedikit lebih sabar daripada kemarin, itu kemajuan.
Jika kita lebih mampu menerima kekurangan, itu kemajuan.
Jika kita tidak lagi iri melihat keberhasilan orang lain, itu kemajuan.
Jika kita mampu tidur dengan hati yang lebih tenang meski hidup belum sempurna, mungkin itu justru salah satu bentuk keberhasilan yang paling jujur.
Maka berjalanlah.
Tidak perlu berlari hanya karena orang lain berlari.
Tidak perlu mempercepat langkah hanya karena takut disebut tertinggal.
Dan tidak perlu menyalakan lampu orang lain untuk menerangi jalan sendiri.
Nyalakan lentera di lorongmu sendiri.
Sebab setiap manusia memiliki waktunya masing-masing.
Dan mungkin, pada akhirnya, kedewasaan bukanlah ketika kita berhasil mendahului banyak orang, melainkan ketika kita tidak lagi merasa perlu mendahului siapa pun.
Kita berjalan.
Kita bertumbuh.
Kita menerima.
Lalu suatu hari, ketika menoleh ke belakang, kita menyadari bahwa ternyata perjalanan terpanjang bukanlah perjalanan menuju dunia.
Melainkan perjalanan pulang kepada diri sendiri.(Don)

