Oleh : J. Fahira
Tidak semua orang akan tetap menjadi teman ketika kita berhenti berpura-pura.
LESINDO.COM – Ada yang pergi ketika kita mulai berani berkata tidak. Ada yang menjauh ketika kita tidak lagi selalu mengiyakan. Ada pula yang berubah sikap ketika kita memilih mengatakan kebenaran, meski kebenaran itu tidak nyaman untuk didengar.
Mungkin, pada awalnya, kehilangan itu terasa seperti sebuah kegagalan. Kita bertanya-tanya, apa yang salah dengan diri kita? Mengapa setelah kita berusaha menjadi lebih jujur, justru semakin sedikit orang yang bertahan?
Namun, barangkali pertanyaannya perlu dibalik.
Benarkah kita kehilangan teman, atau justru kehilangan hubungan yang sejak awal hanya bertahan karena kita terus berpura-pura?
Dalam persahabatan, kita sering kali ingin diterima, dimengerti, dan tetap dianggap sebagai bagian dari lingkaran. Karena itu, tanpa sadar kita belajar mengiyakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita setujui, tersenyum ketika hati tidak nyaman, atau memilih diam agar hubungan tetap terlihat baik-baik saja.
Padahal, persahabatan yang sehat tidak seharusnya meminta kita membayar penerimaan dengan kehilangan diri sendiri.
Kehilangan teman karena kejujuran tidak selalu berarti kita mengalami kerugian. Kadang, kepergian seseorang justru menjadi cara hidup memperlihatkan kepada kita hubungan mana yang dibangun di atas ketulusan dan mana yang selama ini hanya bertahan karena kepura-puraan.
Tidak semua orang mampu bertahan ketika kita mulai berkata apa adanya. Ada yang merasa nyaman selama kita selalu menyetujui, selalu mengalah, dan bersedia menjadi pribadi yang mereka inginkan. Namun ketika kita mulai berani memiliki pendapat, menetapkan batas, serta mengatakan tidak pada sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani, sebagian orang mungkin memilih menjauh.
Dan mungkin, tidak semua yang pergi harus ditahan untuk tetap tinggal.
Sebab persahabatan yang sejati tidak menuntut seseorang kehilangan dirinya sendiri demi diterima. Persahabatan yang sehat justru memberi ruang untuk berbeda, ruang untuk saling mengingatkan, dan keberanian untuk berkata jujur tanpa harus saling menjatuhkan.
Teman yang baik tidak selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar. Kadang ia hadir membawa kalimat yang tidak nyaman, tetapi diperlukan. Ia berani mengingatkan ketika kita salah, bukan karena ingin merendahkan, melainkan karena tidak ingin melihat kita terus melangkah ke arah yang keliru.
Pada akhirnya, persahabatan bukan tentang memiliki sebanyak mungkin orang di sekeliling kita. Bukan pula tentang selalu menjaga hubungan agar terlihat baik di permukaan.
Persahabatan yang benar-benar bertahan adalah persahabatan yang tidak runtuh ketika kejujuran hadir di antara dua manusia.
Sebab hubungan yang hanya bertahan karena kepura-puraan mungkin akan terlihat ramai, tetapi rapuh. Sementara hubungan yang dibangun di atas kejujuran, meski kadang diwarnai perbedaan dan ketidaknyamanan, memiliki akar yang jauh lebih kuat.
Kejujuran memang terkadang membuat lingkaran pertemanan mengecil.
Namun, mungkin lingkaran yang mengecil itu bukan sebuah kehilangan.
Mungkin, itu adalah cara kehidupan menyisakan orang-orang yang benar-benar mampu bertahan.

