spot_img
BerandaJelajah"Menjadi Dewasa di Tengah Bising Perdebatan"

“Menjadi Dewasa di Tengah Bising Perdebatan”

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras suaranya atau siapa yang paling sering memenangkan perdebatan. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjaga kemanusiaan di tengah perbedaan.

Oleh: Aqilla M 

LESINDO.COM – Hidup adalah pilihan. Menjadi tua adalah kepastian. Namun menjadi dewasa, ternyata tidak otomatis hadir bersama bertambahnya usia. Kedewasaan adalah pilihan yang harus terus diperjuangkan, terutama ketika dunia di sekitar kita semakin ramai oleh suara-suara yang saling bertabrakan.

Akhir-akhir ini, layar kaca dan media sosial seolah tidak pernah kehabisan tontonan berupa perdebatan. Berbagai forum diskusi berubah menjadi panggung adu argumentasi. Masing-masing pihak berdiri tegak di atas keyakinannya sendiri, mempertahankan sudut pandang yang dianggap paling benar. Dalil, teori, pasal, hingga data dipertontonkan silih berganti. Sayangnya, sering kali tujuan diskusi bukan lagi mencari titik temu, melainkan memenangkan pertarungan.

Di tengah suasana seperti itu, muncul pertanyaan sederhana: apa sebenarnya yang sedang dicari?

Bukankah diskusi sejatinya adalah ruang untuk saling memahami? Tempat bertukar pikiran agar sebuah persoalan menjadi lebih terang? Namun yang kerap terlihat justru sebaliknya. Ruang dialog menjelma arena pertahanan diri. Setiap kalimat menjadi senjata. Setiap sanggahan dianggap serangan. Dan setiap perbedaan diperlakukan sebagai ancaman.

Tentu saja, dunia media memiliki logikanya sendiri. Kegaduhan sering kali menjadi komoditas yang menjanjikan perhatian. Sebagaimana pertandingan olahraga tarung yang mengundang banyak penonton karena menghadirkan ketegangan, demikian pula perdebatan yang panas. Semakin keras suara yang terdengar, semakin besar kemungkinan orang bertahan menyaksikan. Rating naik, perhatian terkumpul, dan bisnis berjalan.

Namun ada harga yang diam-diam dibayar.

Ketika ruang diskusi berubah menjadi arena pertempuran, adab perlahan tersingkir dari meja percakapan. Orang-orang yang memiliki ilmu tinggi, gelar akademik panjang, dan pengalaman yang luas, terkadang justru terjebak dalam emosi yang membuat kebijaksanaan menghilang. Mereka mungkin memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu memenangkan penghormatan.

Pada titik inilah kita kembali diingatkan pada sebuah petuah lama yang sering terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam: adab lebih tinggi daripada ilmu.

Mungkin persoalannya bukan hanya pada mereka yang bertengkar, tetapi juga pada kita yang menyaksikannya. Tak dapat dipungkiri, kegaduhan sering kali menarik perhatian lebih besar daripada keteduhan. Ketika perselisihan berubah menjadi adu emosi, bahkan menjurus pada kekerasan, penonton justru bertambah. Ada sisi dalam diri manusia yang kerap terpikat oleh drama konflik, meski pada saat yang sama ia tahu bahwa tidak ada kebaikan yang lahir dari permusuhan.(mc)

Ilmu membuat seseorang mengetahui banyak hal. Adab mengajarkan bagaimana menggunakan pengetahuan itu dengan benar. Ilmu mampu membuat seseorang berbicara. Adab mengajarkan kapan harus diam. Ilmu memberi kemampuan untuk mengoreksi orang lain. Adab mengingatkan bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang menyakiti.

Di masyarakat, kita sering menjumpai orang-orang yang mungkin tidak memiliki gelar akademik bertumpuk. Nama mereka tidak dihiasi sederet singkatan di depan maupun di belakang. Namun kehadiran mereka menghadirkan keteduhan. Mereka menghormati orang lain, menjaga tutur kata, dan tidak merasa perlu memenangkan setiap percakapan. Justru dari merekalah sering terpancar kemuliaan yang sulit diukur oleh ijazah ataupun jabatan.

Dalam tradisi keilmuan, adab bahkan menjadi pintu pertama sebelum ilmu. Sebab ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan. Pengetahuan tanpa kerendahan hati dapat menjelma alat untuk merendahkan orang lain.

Kisah tentang Iblis sering dijadikan pelajaran mengenai hal ini. Ia bukan makhluk yang tidak mengetahui Tuhan. Ia mengenal Tuhannya, bahkan pernah berada di lingkungan para malaikat. Namun kesombongan membuatnya menolak perintah untuk menghormati Adam. Pengetahuan yang dimiliki tidak mampu menyelamatkannya ketika adab dan ketundukan hilang dari dirinya.

Mungkin karena itu pula, kemarahan sering diibaratkan sebagai api. Ketika seseorang sudah terbakar emosi, kata-kata yang keluar tidak lagi dikendalikan oleh akal sehat. Wajah berubah tegang, suara meninggi, dan tujuan awal percakapan menghilang. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk menang.

Di era yang dipenuhi komentar, unggahan, dan perdebatan tanpa henti, menjadi dewasa bukan berarti selalu memiliki jawaban. Kadang kedewasaan justru tampak dalam kemampuan untuk mendengarkan. Dalam kesediaan mengakui bahwa orang lain mungkin memiliki sebagian kebenaran yang tidak kita miliki. Dalam keberanian untuk berbeda tanpa harus bermusuhan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras suaranya atau siapa yang paling sering memenangkan perdebatan. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjaga kemanusiaan di tengah perbedaan.

Menjadi tua memang pasti. Rambut akan memutih, langkah akan melambat, dan usia akan terus bertambah. Tetapi menjadi dewasa adalah pilihan yang harus diambil setiap hari: memilih adab ketika emosi menguasai, memilih rendah hati ketika merasa paling benar, dan memilih mendengar ketika dunia sibuk berbicara.

Karena dalam banyak hal, manusia tidak diingat oleh seberapa tinggi ilmunya, melainkan oleh seberapa baik adabnya. Dan di tengah kegaduhan zaman, mungkin itulah bentuk kedewasaan yang paling langka.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments