LESINDO.COM – Oleh waktu, kita dipertemukan. Oleh waktu pula, kita dipisahkan untuk menempuh jalan masing-masing. Namun ada beberapa ikatan yang tidak pernah benar-benar putus, meski jarak, pekerjaan, dan kesibukan hidup datang silih berganti. Persahabatan adalah salah satunya.
Tiga puluh lima tahun lalu, kami masih mengenakan seragam abu-abu. Usia yang sedang gemar bermimpi, penuh rasa ingin tahu, dan sibuk mencari jati diri. Saat itu kami belum mengetahui ke mana arah hidup akan membawa langkah. Masa depan masih berupa halaman-halaman kosong yang belum ditulisi.
Setelah lulus sekolah, jalan takdir mulai bercabang. Nugroho tetap bertahan di Solo, sementara saya memilih merantau ke Malang. Dari tahun 1992 hingga 1999, kota itu menjadi ruang belajar kehidupan yang sesungguhnya. Saya bekerja di salah satu media nasional, mengenal banyak orang, menyaksikan berbagai peristiwa, dan perlahan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Tahun 2000 saya kembali ke Solo. Kota yang dahulu menjadi titik awal perjalanan. Di kota itu pula, pertemuan yang sempat tertunda oleh jarak dan waktu akhirnya terjadi lagi. Kami kembali berbincang, tertawa, dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. Seolah waktu hanya memberi jeda, bukan menghapus cerita.
Detik demi detik terus berjalan dengan kepastiannya sendiri. Tanpa terasa, puluhan tahun telah terlewati. Rambut yang dahulu hitam mulai dihiasi warna perak. Wajah yang dulu penuh gairah masa muda kini menyimpan jejak-jejak pengalaman. Setiap orang telah ditempa oleh perjalanan hidupnya masing-masing; oleh kegagalan yang menguatkan, oleh keberhasilan yang mengajarkan syukur, dan oleh berbagai peristiwa yang membentuk kedewasaan.
Hidup memang tidak pernah memberi bocoran tentang apa yang akan terjadi esok hari. Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu ke mana langkah berikutnya akan diarahkan. Yang bisa dilakukan hanyalah menjalani setiap fase dengan sebaik-baiknya, sambil menerima bahwa segala sesuatu akan berubah seiring perjalanan waktu.
Tiga puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Ia cukup panjang untuk mengubah anak-anak sekolah menjadi orang tua. Cukup lama untuk menghadirkan banyak perpisahan, kehilangan, dan pelajaran hidup. Namun ada kebahagiaan sederhana ketika menyadari bahwa seseorang yang pernah berjalan bersama di masa muda masih ada hingga hari ini.
Persahabatan ternyata tidak diukur dari seberapa sering bertemu atau seberapa banyak percakapan yang dilakukan setiap hari. Persahabatan tumbuh dari rasa saling percaya, saling menghormati, dan saling menghargai. Ia tetap hidup meski kadang hanya dipelihara oleh kabar singkat atau pertemuan yang jarang terjadi.
Pada akhirnya, lingkaran pertemanan tidak harus luas. Tidak perlu ramai. Yang terpenting adalah memiliki beberapa orang yang tetap hadir sebagai saudara dalam perjalanan hidup. Mereka yang ikut merasakan kebahagiaan ketika kita berhasil, dan tetap berada di samping ketika kita sedang berada dalam masa sulit.
Mungkin inilah romantika kehidupan yang sesungguhnya. Saat muda berjalan bersama, lalu menempuh jalan masing-masing, dan ketika usia semakin menua, masih diberi kesempatan untuk kembali duduk berdampingan sambil mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui.
Karena pada akhirnya, bukan hanya tujuan yang penting untuk dikenang, melainkan juga siapa saja yang tetap berjalan bersama kita sepanjang perjalanan waktu.(Mac)

