Oleh: Urangayu
LESINDO.COM – Menjelang siang, lorong-lorong kelas di SMK Pelayaran Kartasura mulai lengang. Satu per satu taruna berjalan keluar ruang belajar dengan langkah tegap. Seragam rapi, sepatu mengilap, pandangan lurus ke depan. Namun ada satu pemandangan yang terasa berbeda dibanding sekolah pada umumnya.
Di depan ruang kelas, beberapa taruna berhenti sejenak. Mereka menundukkan badan, mengulurkan tangan kepada guru yang berdiri di ambang pintu. Tangan itu mereka salami, lalu sebagian mencium punggung tangan gurunya sebelum melangkah pulang.
Gestur sederhana. Tapi di sekolah ini, itulah pendidikan karakter yang ditanamkan setiap hari.
Di tengah kegelisahan banyak sekolah menghadapi perubahan perilaku generasi muda—mulai dari lunturnya sopan santun, berkurangnya rasa hormat kepada guru, hingga kasus perselisihan antara siswa dan tenaga pendidik—SMK Pelayaran Kartasura memilih jalan yang tegas: membangun karakter melalui disiplin.

Bagi sekolah berbasis semi militer itu, ilmu pengetahuan tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.
“Anak sekarang sebenarnya pintar-pintar. Cepat menangkap pelajaran, cepat menguasai teknologi. Tapi kalau tidak dibarengi karakter, itu bisa kosong,” ujar Mayor Sutarjo (Purnawirawan Baret Merah), Staf Wakil Kepala Kesiswaan SMK Pelayaran Kartasura.
Suara pria yang puluhan tahun ditempa dunia militer itu terdengar tenang, tetapi tegas. Baginya, pembentukan karakter tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi menunggu anak tumbuh dewasa.
“Karakter itu harus diberikan sejak muda. Biar rasa disiplin tertanam, lalu terbawa sampai tua,” katanya.
Ia percaya, ketika disiplin sudah menjadi bagian dari hidup seseorang, perintah tak lagi diperlukan. Anak akan memahami sendiri apa yang harus dilakukan, kapan harus bergerak, kapan harus menghormati, dan kapan harus bertanggung jawab.
“Kalau disiplin sudah menyatu dalam dirinya, di mana pun dia berada, tanpa disuruh pun dia tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi nanti mereka masuk dunia kerja pelayaran yang penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Di sekolah ini, pendidikan karakter tidak berhenti pada baris-berbaris, ketepatan waktu, atau kerapian seragam. Lebih dari itu, para taruna diajarkan satu hal mendasar: menghormati orang yang lebih tua.
Guru diposisikan bukan sekadar pengajar, tetapi orang tua kedua.
Karena itu, tradisi bersalaman sebelum masuk kelas, memberi salam ketika berpapasan, hingga mencium tangan guru sebelum pulang menjadi kebiasaan yang terus dijaga.
Kebiasaan yang mungkin dianggap sederhana, tetapi justru di situlah akar karakter dibangun.

Dalam pandangan Islam, sikap tawaduk kepada guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu. Ilmu bukan hanya perkara memahami teori, menghafal rumus, atau mengejar nilai akademik. Ilmu juga berbicara tentang keberkahan—tentang bagaimana pengetahuan itu memberi manfaat dalam kehidupan.
Tanpa rasa hormat, ilmu bisa hadir sebagai pengetahuan, tetapi belum tentu menjadi kebijaksanaan.
Fenomena menurunnya penghormatan kepada guru belakangan memang menjadi kegelisahan banyak pendidik. Tidak sedikit sekolah menghadapi siswa yang berani membantah, melawan, bahkan terlibat konflik fisik dengan guru.
Di tengah realitas itu, SMK Pelayaran Kartasura mencoba membuktikan bahwa karakter tetap bisa dibangun—asal dilakukan dengan konsisten, keteladanan, dan ketegasan.
Sebab sejatinya, sekolah bukan hanya tempat mencetak anak yang pandai.
Tetapi tempat menyiapkan manusia yang kelak tahu bagaimana menghormati, bekerja, bertanggung jawab, dan hidup dengan nilai.
Dan di lorong-lorong sekolah itu, semuanya dimulai dari satu kebiasaan kecil: menundukkan kepala… lalu mencium tangan guru.

