LESINDO.COM – Suara gemuruh air masih setia jatuh dari tebing setinggi puluhan meter di lereng Gunung Lawu. Kabut tipis tetap menari di antara rimbun pinus, monyet-monyet liar sesekali melintas di pagar batu, dan anak tangga yang menurun ke dasar lembah masih menyimpan jejak ribuan langkah masa lalu.
Namun pagi itu, di kawasan wisata Grojogan Sewu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, suasana terasa berbeda. Tidak ada antrean panjang di loket. Tidak terdengar riuh rombongan wisata keluarga yang berebut swafoto di depan gerbang. Bahkan di hari biasa, jumlah pengunjung disebut tak lagi mampu menembus angka 100 orang.
Bagi masyarakat Karanganyar, kabar itu seperti ironi. Sebab Grojogan Sewu bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ikon. Nama yang selama puluhan tahun melekat dalam ingatan banyak orang ketika menyebut Tawangmangu.
Kini, pertanyaan mulai bermunculan: apa yang sebenarnya terjadi dengan Grojogan Sewu?
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, mengaku telah turun langsung melakukan pengecekan lapangan. Dari hasil pemantauan itu, ia menemukan dua persoalan utama yang dinilai membuat pesona Grojogan Sewu perlahan kehilangan daya saing.
Faktor pertama datang dari status kawasan yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia sebagai hutan konservasi. Status tersebut, menurut Yopi, membawa konsekuensi aturan yang sangat ketat terhadap pengembangan destinasi.
Di tengah tren wisata yang terus berubah—dari sekadar menikmati panorama menuju pengalaman yang lebih personal dan interaktif—Grojogan Sewu justru seperti tertahan dalam ruang yang nyaris tak bergerak.
“Tren wisata berkembang cepat, tapi di sana tidak bisa mengikuti. Aktivitas seperti camping, glamping, atau inovasi lain tidak diperbolehkan,” kata Yopi kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).
Kalimat itu menggambarkan kegelisahan yang lebih besar dari sekadar urusan regulasi. Ketika destinasi lain berlomba menawarkan pengalaman baru—bermalam di tengah hutan, menikmati kopi dari balkon kabin kayu, hingga wisata berbasis petualangan—Grojogan Sewu masih bertumpu pada kekuatan lama: air terjun dan nostalgia.
Sayangnya, nostalgia saja rupanya tak lagi cukup.
Persoalan kedua datang dari harga tiket. Untuk menikmati sejuknya kawasan itu, pengunjung harus merogoh kocek sekitar Rp27.000 pada hari biasa. Bagi sebagian wisatawan, angka tersebut mungkin masih terjangkau. Namun ketika dibandingkan dengan pilihan wisata lain yang menawarkan fasilitas lebih beragam, tarif itu mulai dipertanyakan.
Yopi mengungkap, sebagian besar harga tiket tersebut merupakan komponen Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Sekitar Rp15.000 masuk ke negara. Sementara pengelola juga sudah membayar sewa lahan,” ujarnya.
Kondisi itu membuat ruang gerak pengelola semakin sempit. Di satu sisi, mereka dituntut menjaga kualitas kawasan. Di sisi lain, fleksibilitas untuk berinovasi dan mengatur strategi harga tak sepenuhnya berada di tangan mereka.
Di tengah gemuruh air yang tak pernah berhenti sejak ratusan tahun lalu, Grojogan Sewu kini menghadapi tantangan zaman yang jauh lebih rumit dari sekadar musim liburan.
Ia bukan kehilangan keindahan.
Ia hanya sedang mencari cara agar tetap relevan di tengah dunia wisata yang berubah begitu cepat.(Mac)

