Oleh: Faicha AM
LESINDO.COM – Pagi belum sepenuhnya terang ketika kabut menggantung di lereng Lawang. Dari kejauhan, hamparan Kebun Teh Wonosari tampak seperti karpet hijau yang perlahan diselimuti putih. Di balik perkebunan itu, jalur menuju Bukit Lincing menanjak ke kawasan yang lebih sunyi.
Orang datang ke sana untuk mencari matahari terbit.
Tetapi gunung tidak pernah sekadar menyediakan pemandangan.
Ia juga menyimpan pertanyaan tentang bagaimana manusia memasuki, menggunakan, dan memperlakukan ruang alam yang sesungguhnya bukan miliknya.
Bukit Lincing berada pada ketinggian sekitar 1.860 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini termasuk wilayah Tahura Raden Soerjo dan secara resmi tercantum sebagai salah satu destinasi wisata alam dengan akses pendakian melalui Lawang. Pengelola bahkan memiliki pos khusus untuk jalur Lawang/Bukit Lincing.
Dari sini, persoalannya mulai menarik.
Lincing selama bertahun-tahun dikenal pendaki sebagai bagian dari lanskap jalur Gunung Arjuno melalui Lawang. Sejumlah catatan perjalanan menyebut kawasan ini berkaitan dengan jalur menuju Ogal-Agil. Namun dalam perkembangan belakangan, Lincing juga tumbuh sebagai tujuan pendakian tersendiri—terutama bagi mereka yang mencari perjalanan singkat tanpa harus menghabiskan beberapa hari di gunung.
Popularitas itu membawa konsekuensi.
Semakin mudah sebuah gunung diperkenalkan melalui foto, video, dan media sosial, semakin tipis jarak antara destinasi wisata dan kawasan yang membutuhkan pengendalian.
Gunung yang Masuk Kamera
Foto-foto Lincing membuat gunung ini tampak bersahabat.
Jalur hijau. Hutan pinus. Padang terbuka. Batu-batu besar. Arjuno yang menjulang di kejauhan. Matahari yang muncul perlahan dari balik cakrawala.
Sejumlah media perjalanan menggambarkan pendakian menuju puncak Lincing membutuhkan sekitar tiga sampai lima jam, dengan karakter jalur yang berubah dari relatif landai menjadi lebih menanjak dan berbatu. Angka tersebut merupakan estimasi yang dapat berubah bergantung pada kondisi pendaki dan jalur.
Di internet, kesan yang muncul sering kali sederhana: Lincing adalah gunung untuk pemula.
Tetapi label itu berpotensi menimbulkan persoalan jika diterjemahkan sebagai gunung tanpa risiko.
Ketinggian di bawah 2.000 meter bukan jaminan bahwa pendakian aman. Cuaca pegunungan dapat berubah. Kabut dapat menghapus orientasi. Jalur yang tampak jelas dalam video belum tentu mudah dikenali ketika dilalui dalam gelap.
Dan pada Mei 2025, persoalan itu menjadi nyata.
Sebelas Orang dan Jalur dari YouTube
Pada 29 Mei 2025, sebelas pendaki dilaporkan tersesat di kawasan Bukit Lincing.
Mereka memasuki kawasan dari arah Kebun Teh Wonosari melalui jalur yang disebut tidak resmi dan tidak melakukan registrasi kepada pengelola. Menurut keterangan kepolisian yang dikutip sejumlah media, rombongan tersebut menggunakan informasi dari video YouTube sebagai salah satu rujukan perjalanan.
Tim gabungan kemudian melakukan pencarian.
Perhutani, petugas Tahura Raden Soerjo, SAR, TNI-Polri dan relawan terlibat dalam proses evakuasi. Kesebelas pendaki akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat.
Peristiwa itu seharusnya tidak berhenti sebagai berita tentang pendaki tersesat.
Ada persoalan yang lebih besar di baliknya:
Apa yang terjadi ketika informasi tentang gunung berkembang lebih cepat daripada pemahaman tentang aturan memasuki gunung?
Sebuah video berdurasi beberapa menit dapat menunjukkan jalan, pemandangan dan lokasi swafoto. Tetapi video tidak selalu membawa seluruh konteks: status kawasan, batas jalur, cuaca, kondisi medan, prosedur registrasi, hingga tanggung jawab ketika seseorang mengalami keadaan darurat.
Gunung tidak mengenal algoritma.
Jalur tidak menjadi resmi hanya karena sering muncul di layar telepon.
Ketika Jalur Menjadi Destinasi

Tahura Raden Soerjo bukan sekadar hamparan hutan untuk tempat berjalan kaki. Kawasan ini merupakan kawasan konservasi yang mencakup wilayah Kabupaten Malang, Mojokerto, Jombang, Pasuruan dan Kota Batu. Pengelolaannya berada di bawah UPT Tahura Raden Soerjo, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.
Karena itu, pendakian bukan semata-mata urusan pendaki dan gunung.
Ada sistem yang mengaturnya.
Saat ini pendaftaran pendakian dilakukan melalui sistem booking resmi. Untuk Bukit Lincing, pengelola menetapkan tarif pendaki WNI sebesar Rp 25.000 per orang per hari kalau mau naik pukul 01.00 pagi bayar 2 kali karena dihitung dua hari dan basecampenya buka pukul 07.00 wib pagi tutup jam 21.00 malam sedangkan asuransi Rp 6000 per orang per hari. Pengelola juga mewajibkan pendaki membawa identitas dan mengikuti ketentuan yang berlaku.
Aturan tersebut bukan sekadar urusan administrasi.
Registrasi adalah cara paling sederhana bagi pengelola untuk mengetahui siapa yang masuk ke kawasan.
Dalam keadaan normal, angka itu mungkin terlihat seperti statistik.
Dalam keadaan darurat, ia berubah menjadi informasi penting.
Siapa yang naik?
Berapa orang?
Melalui jalur mana?
Kapan seharusnya turun?
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar administratif itu dapat menjadi pembeda antara pencarian yang terarah dan pencarian yang dimulai dari ketidakpastian.
Lincing dan Ilusi Gunung yang Mudah
Ada kecenderungan baru dalam budaya mendaki: mencari gunung yang dapat ditaklukkan dalam sehari.
Berangkat dini hari. Naik beberapa jam. Menunggu matahari terbit. Berfoto. Kemudian turun sebelum sore.
Lincing memenuhi banyak karakter tersebut.
Tetapi istilah tektok tidak otomatis berarti sederhana.
Bahkan pengelola Tahura Raden Soerjo memiliki ketentuan yang membedakan aturan untuk berbagai jalur. Untuk pendakian Gunung Arjuno-Welirang sendiri, misalnya, pengelola secara eksplisit melarang pola tektok. Aturan itu menunjukkan bahwa karakter setiap jalur tidak dapat disamaratakan hanya berdasarkan jarak atau ketinggian.
Gunung sering kali menipu manusia melalui penampilannya.
Yang tampak dekat belum tentu mudah dicapai.
Yang terlihat pendek belum tentu ringan.
Dan yang ramai di media sosial belum tentu aman bagi semua orang.
Masalah Bukan pada Gunungnya
Tidak ada yang salah dengan datang ke Lincing untuk menikmati sunrise.
Tidak ada yang keliru dengan menjadikan pendakian sebagai rekreasi.
Yang menjadi persoalan adalah ketika keindahan menghapus kesadaran bahwa kawasan tersebut memiliki aturan dan fungsi konservasi.
Pengelola Tahura bahkan melarang sejumlah aktivitas yang berpotensi merusak kawasan, termasuk membuang sampah, vandalisme, merusak flora dan fauna, membuat api unggun dari kayu atau sampah, serta memasuki jalur secara tidak semestinya.
Maka persoalan Lincing sesungguhnya bukan tentang apakah bukit itu indah.
Ia memang indah.
Persoalannya adalah apakah manusia mampu menikmati keindahan tanpa mengubahnya menjadi komoditas yang perlahan menggerus ruang yang ingin dinikmatinya.
Gunung memiliki cara sendiri untuk mengingatkan.
Kadang melalui kabut.
Kadang melalui jalur yang tiba-tiba menghilang.
Kadang melalui seseorang yang tersesat.
Dan kadang melalui sebelas orang yang harus dicari oleh tim gabungan hanya karena batas antara jalur resmi dan jalur yang ditemukan dari layar ponsel tidak dipahami dengan baik.
Puncak Bukan Akhir Perjalanan
Dari ketinggian Lincing, Arjuno berdiri seperti dinding besar di cakrawala.
Pendaki mungkin datang untuk melihat matahari.
Tetapi matahari hanya tinggal beberapa menit di garis horizon.
Yang lebih lama adalah jejak kaki manusia setelahnya.
Apakah sampah dibawa turun?
Apakah jalur tetap utuh?
Apakah vegetasi tetap terlindungi?
Apakah pendaki pulang dengan selamat?
Dan apakah setelah satu rombongan turun, masih ada ruang yang sama untuk rombongan berikutnya?
Pertanyaan terakhir itulah yang sering luput dari foto perjalanan.
Sebab wisata alam biasanya berbicara tentang bagaimana manusia menikmati alam.
Konservasi berbicara tentang bagaimana alam tetap memiliki hak untuk tidak habis dinikmati manusia.
Lincing berada di antara dua kepentingan itu.
Ia bukan hanya bukit setinggi 1.860 meter.
Ia adalah bagian dari kawasan konservasi, bagian dari sejarah jalur Arjuno via Lawang, sekaligus destinasi yang semakin dikenal.
Di situlah tantangannya.
Bukan bagaimana membuat semakin banyak orang datang.
Melainkan bagaimana memastikan semakin banyak orang datang tanpa membuat gunung kehilangan dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pendakian bukan hanya ketika manusia berhasil mencapai puncak.
Tetapi ketika ia turun kembali dan meninggalkan gunung dalam keadaan hampir sama seperti ketika pertama kali datang.

