Oleh : R. Adilla
Di Usia Senja, Seorang Anak Menjadi Tangan bagi Ibunya
LESINDO.COM – Ada pemandangan yang barangkali bagi sebagian orang terlalu sederhana untuk diperhatikan. Seorang ibu lanjut usia duduk beberapa shaf di depan saya menjelang pengajian berakhir. Beberapa kali saya melihatnya di tempat yang sama. Di dekatnya, seorang anak laki-laki setia menemani.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada percakapan yang perlu didengar orang lain. Tidak ada kemesraan yang sengaja dipertontonkan. Hanya seorang ibu yang semakin renta dan seorang anak yang semakin mengerti bagaimana merawatnya.
Namun, justru dari kesederhanaan itu saya belajar bahwa kasih sayang sering kali tidak datang dalam bentuk kata-kata.
Ia hadir dalam gerakan kecil yang nyaris luput dari pandangan.
Ketika hidangan dibagikan, sang ibu menerima semangkuk nasi. Porsinya tampak cukup banyak untuk tubuhnya yang sudah tidak lagi membutuhkan makanan sebanyak ketika muda.
Ia tidak berkata apa-apa.
Hanya menoleh kepada anaknya.
Sang anak mengerti.
Ia mendekatkan mangkoknya. Sebagian nasi dari mangkok ibunya dituangkan ke mangkoknya sendiri.
Tak ada pertanyaan.
Tak ada penjelasan.
Seolah-olah keduanya telah lama memiliki bahasa yang hanya mereka pahami.
Beberapa saat kemudian, ketika ibunya selesai makan dan meletakkan mangkok, sang anak segera mengambilkan air minum.
Diberikannya kepada ibunya.
Sang ibu tersenyum.
Saya melihat senyum itu dari kejauhan.
Dan entah mengapa, hati saya seperti sedang diajak membuka kembali sebuah pintu lama.
Pintu menuju kenangan tentang ibu.
Ada masa ketika seorang ibu adalah manusia yang paling sibuk dalam kehidupan anak-anaknya.
Ia memastikan kita makan.
Ia mencuci pakaian.
Ia terjaga ketika demam datang.
Ia menunggu kepulangan kita.
Ia mungkin tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan, tetapi hampir seluruh hidupnya telah ia wariskan dalam bentuk pengorbanan yang tidak pernah dihitung.
Anak-anak tumbuh.
Mereka sekolah.
Bekerja.
Menikah.
Membangun rumah masing-masing.
Sementara ibu perlahan memasuki usia ketika tubuhnya tidak lagi sekuat dahulu.
Pada titik tertentu, kehidupan seperti membalikkan arah perjalanan.
Dulu kita yang digandeng.
Kini tangan ibu yang perlu digandeng.
Dulu kita yang disuapi.
Kini mungkin kita yang harus menyuapinya.
Dulu ibu yang menunggu kita pulang.
Kini mungkin kita yang harus memastikan ia tidak menjalani senjanya sendirian.
Ada keadilan yang sangat halus dalam putaran kehidupan itu.
Tetapi tidak semua anak sempat mengalaminya.
Ada yang kehilangan ibu sebelum sempat membalas kebaikannya.
Ada yang baru memahami arti kehadiran setelah kursi tempat ibunya biasa duduk kosong untuk selamanya.
Dan ada penyesalan yang paling menyakitkan: bukan karena pernah berbuat buruk kepada ibu, melainkan karena terlalu lama menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang akan selalu ada.
Saya sendiri tiba-tiba berpikir:
Andai ibu masih sugeng.
Betapa bahagianya jika masih diberi kesempatan melakukan hal-hal sederhana seperti anak laki-laki di depan saya itu.
Mengambilkan makanan.
Menuangkan air.
Menuntun langkah.
Atau sekadar duduk di sampingnya.
Sebab setelah seorang ibu pergi, ternyata hal-hal kecil itulah yang paling mahal.
Kita sering mengejar sesuatu yang besar dalam hidup.
Pekerjaan.
Kekayaan.
Jabatan.
Pengakuan.
Nama baik.
Kita ingin menjadi seseorang di mata dunia.
Tetapi ada kemungkinan kita lupa menjadi seseorang di mata orang yang paling dahulu mencintai kita ketika kita bahkan belum menjadi siapa-siapa.
Ibu.
Di hadapan dunia, berbakti kepada ibu mungkin terlihat seperti pekerjaan kecil.
Tidak menghasilkan sertifikat.
Tidak menaikkan jabatan.
Tidak membuat nama menjadi terkenal.
Namun, dalam ruang batin manusia, barangkali justru di sanalah kualitas seseorang diuji.
Sebab mudah berbuat baik kepada orang yang mengagumi kita.
Lebih sulit melayani seseorang yang mungkin sudah tidak mampu memberikan apa-apa kepada kita.
Di situlah bakti menemukan maknanya.
Kita merawat bukan karena akan mendapatkan balasan.
Kita menemani bukan karena membutuhkan pujian.
Kita menggandeng tangan ibu karena dahulu tangan itulah yang pertama kali menggandeng kita ketika dunia masih terasa terlalu besar.
Saya kemudian teringat kisah Uwais al-Qarni.
Dalam tradisi Islam, Uwais dikenal bukan karena kekuasaan, kekayaan, atau popularitasnya. Ia hidup jauh dari kemasyhuran dunia.
Yang membuat kisahnya dikenang adalah baktinya kepada sang ibu.
Ia memilih merawat ibunya.
Pilihan yang bagi sebagian orang mungkin tampak sederhana, tetapi justru menunjukkan bahwa kemuliaan manusia tidak selalu tumbuh dari panggung yang ramai.
Ada manusia yang namanya tidak dikenal oleh banyak penduduk bumi, tetapi dikenal dalam kisah-kisah tentang kemuliaan di langit.
Uwais mengingatkan kita pada sebuah paradoks kehidupan:
kadang-kadang, untuk menjadi besar di hadapan Tuhan, seseorang justru harus bersedia menjadi kecil di hadapan manusia.
Menundukkan badan.
Mengulurkan tangan.
Melayani.
Menunggu.
Dan mencintai seseorang yang mungkin tidak lagi mampu membalas dengan apa pun selain senyum.
Barangkali itulah sebabnya pemandangan seorang anak menuangkan air untuk ibunya tadi terasa begitu dalam bagi saya.
Ia tidak sedang melakukan sesuatu yang spektakuler.
Ia hanya sedang menjalankan sebuah amanah yang mungkin bagi dirinya sudah menjadi kebiasaan.
Tetapi bisa jadi, kebiasaan kecil itulah yang kelak menjadi bagian terbesar dari perjalanan hidupnya.
Kita tidak pernah tahu berapa lama sebuah kesempatan akan tinggal bersama kita.
Ibu yang hari ini masih bisa dipanggil mungkin suatu hari hanya bisa dipanggil dalam doa.
Tangan yang hari ini masih dapat kita genggam mungkin kelak hanya dapat kita bayangkan.
Suara yang hari ini masih bisa kita dengarkan mungkin suatu hari menjadi suara yang paling kita rindukan.
Karena itu, ketika ibu masih diberi usia panjang, mungkin yang sedang diberikan kepada kita bukan sekadar tambahan waktu bagi ibu.
Melainkan tambahan kesempatan bagi kita untuk menjadi anak.
Kesempatan untuk meminta maaf.
Kesempatan untuk meminta doa.
Kesempatan untuk mencari ridlanya.
Kesempatan untuk membalas, meski kita tahu tidak akan pernah benar-benar mampu membalas seluruh pengorbanannya.
Sebab ibu bukan sekadar seseorang yang melahirkan kita.
Ia adalah bagian dari jalan panjang yang membawa kita sampai menjadi manusia seperti sekarang.
Dan mungkin, ada alasan mengapa doa seorang ibu selalu terasa berbeda.
Ia lahir dari hati yang sejak awal tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah diberikannya.
Saya kembali melihat ibu itu.
Ia masih tersenyum.
Anaknya masih berada di sampingnya.
Mangkok sudah kosong.
Air minum sudah berada di tangannya.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang yang berdiri untuk memberikan penghargaan.
Hanya seorang ibu dan seorang anak dalam sebuah ruang pengajian.
Tetapi saya tiba-tiba merasa sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar makan bersama.
Saya sedang menyaksikan sebuah lingkaran kehidupan.
Dahulu ibu menjadi tangan bagi anaknya.
Kini anak menjadi tangan bagi ibunya.
Dan mungkin begitulah cinta bekerja.
Ia tidak selalu berbicara dengan kalimat-kalimat indah.
Kadang ia hanya berkata melalui semangkuk nasi yang dibagi dua.
Melalui segelas air yang disodorkan.
Melalui langkah yang diperlambat agar bisa berjalan bersama.
Melalui seorang anak yang diam-diam memastikan ibunya baik-baik saja.
Pada akhirnya, barangkali manusia tidak akan terlalu lama diingat karena seberapa banyak harta yang dikumpulkannya.
Tidak juga karena seberapa tinggi tempat yang pernah didudukinya.
Yang mungkin tertinggal justru adalah bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang pernah menggantungkan hidup kepadanya.
Terutama ibu.
Maka jika hari ini ibu masih ada, jangan terlalu lama menunggu waktu yang dianggap tepat.
Sebab dalam kehidupan, sering kali yang kita sebut “nanti” adalah pintu menuju penyesalan.
Datanglah sebelum kursinya kosong.
Duduklah sebelum waktunya habis.
Genggamlah tangannya sebelum tangan itu dingin.
Dan bahagiakanlah ia selagi masih ada kesempatan.
Sebab boleh jadi, di balik senyum seorang ibu yang sederhana, ada pintu langit yang sedang terbuka untuk anaknya.

