Oleh : J.Fahira
Ketika Dua Pihak Menengadahkan Tangan kepada Tuhan yang Sama
LESINDO.COM – Di satu sisi layar, seseorang mengepalkan tangan. Wajahnya tegang. Suaranya meninggi. Ia merasa sedang berdiri di atas sebuah kebenaran yang harus dipertahankan.
“Ya Allah…”
Di sisi lain, seseorang menundukkan kepala.
Ia tidak banyak bicara. Barangkali terlalu lelah untuk berdebat. Barangkali terlalu lama merasa disakiti. Dalam diam, ia pun mengangkat doa yang hampir sama.
“Ya Allah, semoga semua ini segera selesai.”
Dua orang.
Dua perasaan.
Dua kepentingan.
Dan, barangkali, dua keyakinan bahwa Tuhan sedang mendengarkan mereka.
Yang menarik, keduanya berdoa kepada Tuhan yang sama.
Lalu, di antara dua doa itu, manusia kembali bertanya: Tuhan sebenarnya berpihak kepada siapa?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Sebab ia seolah menempatkan Tuhan seperti manusia—yang harus memilih satu pihak dan meninggalkan pihak lainnya.
Padahal Tuhan bukan bagian dari pertengkaran kita.
Manusialah yang sedang bertengkar di hadapan Tuhan.
Saya teringat pada gambaran sederhana tentang seekor singa dan seekor rusa.
Singa berdoa, “Tuhan, beri aku makan.”
Rusa berdoa, “Tuhan, selamatkan aku.”
Singa membutuhkan rusa untuk bertahan hidup.
Rusa membutuhkan keselamatan untuk tetap hidup.
Dua doa bertemu pada satu peristiwa yang sama.
Lalu, di pihak siapa Tuhan?
Mungkin pertanyaannya memang keliru.
Sebab alam memiliki hukumnya sendiri. Singa bergerak dengan nalurinya. Rusa berlari dengan seluruh kekuatannya. Kehidupan tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah kita pahami.
Begitu pula manusia.
Dalam kehidupan sosial, politik, keluarga, bahkan dalam hubungan antartetangga, kita sering menemukan dua pihak yang sama-sama merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang benar.
Masing-masing memiliki cerita.
Masing-masing memiliki luka.
Masing-masing memiliki saksi.
Dan masing-masing mempunyai doa.
Yang satu meminta agar lawannya segera mendapat balasan.
Yang lain meminta agar dirinya diberi kekuatan menghadapi ketidakadilan.
Yang satu berkata dirinya sedang membela kebenaran.
Yang lain merasa dirinya sedang mempertahankan harga diri.
Yang satu menyebut nama Tuhan dengan suara lantang.
Yang lain menyebut nama Tuhan dalam kesunyian.
Keduanya mungkin sama-sama tulus.
Tetapi ketulusan seseorang berdoa tidak otomatis menjadikan seluruh keyakinannya benar.
Di sinilah manusia perlu berhati-hati.
Sebab nama Tuhan yang disebut dengan suara keras tidak serta-merta membuat sebuah tindakan menjadi benar.
Sebaliknya, diamnya seseorang juga tidak otomatis menjadikannya pihak yang paling benar.
Kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara.
Tidak pula oleh siapa yang paling banyak membawa simbol keagamaan.
Kebenaran mempunyai ukuran yang lebih sunyi: fakta, keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian untuk menerima kenyataan ketika kenyataan ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita.
Barangkali yang paling sulit dalam kehidupan bukan menemukan kesalahan orang lain.
Yang paling sulit adalah menemukan kemungkinan bahwa kita sendiri keliru.
Kita sering berdoa agar Tuhan mengubah keadaan.
Jarang kita berdoa agar Tuhan mengubah diri kita.
Kita meminta Tuhan menyadarkan orang lain.
Jarang kita meminta agar hati kita sendiri disadarkan.
Kita meminta agar orang lain berhenti berbuat zalim.
Tetapi lupa bertanya apakah kemarahan kita telah membuat kita melakukan hal serupa dalam bentuk yang berbeda.
Di situlah doa seharusnya menjadi cermin.
Bukan senjata.
Bukan stempel bahwa kita paling benar.
Bukan pula pembenaran untuk membenci mereka yang berbeda dengan kita.
Sebab ketika nama Tuhan digunakan untuk memperbesar kebencian, yang berubah bukan Tuhan.
Kitalah yang sedang membawa kepentingan manusia ke dalam sesuatu yang seharusnya lebih tinggi daripada kepentingan manusia.
Kita hidup di zaman ketika kebohongan dapat berjalan sangat cepat.
Satu cerita dapat dipotong.
Satu kalimat dapat dilepaskan dari konteks.
Satu tuduhan dapat diulang berkali-kali sampai terdengar seperti kebenaran.
Orang-orang kemudian memilih pihak.
Mereka percaya kepada cerita yang paling dekat dengan keyakinannya.
Yang lain melakukan hal serupa dari sisi berlawanan.
Maka sebuah persoalan tidak lagi sekadar tentang apa yang benar.
Ia berubah menjadi pertarungan tentang siapa yang harus dipercaya.
Di tengah kegaduhan itu, kebenaran kadang justru berjalan pelan.
Ia tidak selalu hadir dengan suara keras.
Ia menunggu bukti.
Menunggu kesaksian.
Menunggu waktu.
Dan waktu sering kali menjadi hakim yang tidak bisa disuap oleh kebisingan.
Seribu satu dusta mungkin mampu menutup kebenaran untuk sementara.
Tetapi dusta mempunyai satu kelemahan: ia harus terus menerus diciptakan untuk mempertahankan dirinya.
Kebenaran tidak selalu membutuhkan cara seperti itu.
Ia mungkin terlambat ditemukan.
Ia mungkin harus melewati jalan yang panjang dan berliku.
Tetapi pada waktunya, sesuatu yang disembunyikan dapat menemukan jalan untuk terlihat.
Bukan karena manusia selalu pandai mengungkapkannya.
Melainkan karena kenyataan pada akhirnya memiliki caranya sendiri untuk berbicara.
Mungkin karena itu kita tidak perlu terlalu tergesa mengatakan Tuhan berada di pihak kita.
Kalimat itu terdengar meyakinkan, tetapi bisa menjadi jebakan bagi kesombongan.
Lebih baik kita mengatakan:
“Ya Allah, jika aku benar, jagalah hatiku agar tidak sombong.”
“Jika aku salah, bukakan mataku agar aku berani mengakuinya.”
“Jika aku disakiti, jangan biarkan luka membuatku berubah menjadi orang yang menyakiti.”
Dan jika kita sedang memperjuangkan sesuatu yang kita yakini benar, barangkali doa yang paling penting bukan agar lawan kita hancur.
Melainkan agar kebenaran tetap tegak tanpa membuat kita kehilangan kemanusiaan.
Sebab kemenangan yang membuat seseorang kehilangan nurani mungkin hanya kemenangan yang tertunda penyesalannya.
Pada akhirnya, dua pihak boleh saja menengadahkan tangan.
Keduanya boleh menyebut nama Tuhan.
Keduanya boleh berharap doanya dikabulkan.
Tetapi Tuhan tidak menjadi lebih benar hanya karena satu pihak menyebut nama-Nya lebih sering.
Dan Tuhan tidak menjadi lebih dekat hanya karena seseorang merasa paling suci.
Barangkali Tuhan tidak sedang menunggu manusia menentukan siapa yang menjadi pemenang.
Barangkali Tuhan sedang menguji bagaimana manusia bersikap ketika kepentingannya berbenturan dengan kepentingan orang lain.
Apakah kita masih mampu jujur ketika kebohongan menguntungkan kita?
Apakah kita masih mampu adil ketika ketidakadilan menguntungkan kelompok kita?
Apakah kita masih mampu memaafkan ketika kemarahan terasa lebih memuaskan?
Dan yang paling sulit:
Apakah kita masih bersedia menerima kebenaran ketika ternyata kebenaran itu tidak berada di pihak kita?
Di sanalah doa menemukan maknanya yang lebih dalam.
Bukan untuk memaksa Tuhan berpihak.
Melainkan untuk meminta agar hati kita tidak tersesat ketika hidup memaksa kita memilih antara ego dan kebenaran.
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk membela-Nya.
Kitalah yang membutuhkan Tuhan agar tetap mampu membedakan antara kebenaran dan keinginan.
Dan mungkin, ketika dua pihak sama-sama berdoa kepada Tuhan yang sama, yang sedang dicari bukanlah siapa yang Tuhan pilih.
Melainkan siapa di antara kita yang cukup rendah hati untuk menerima keputusan-Nya ketika kebenaran akhirnya menampakkan wajahnya.

